Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 108 Malam Indah


__ADS_3

Ini malam pertama tanpa Pak Jhon di rumah ini. Beberapa orang terlihat hilir mudik membersihkan dan membereskan rumah setelah orang yang melayat sudah tidak ada lagi.


Dee menemani anaknya tidur. Jesper yang masih nampak terpukul. Dia masih belum bisa menerima sepenuhnya kepergian Pak Jhon. Terlihat jelas kenangan baik yang Pak Jhon tinggalkan untuknya.


Jason sendiri sudah tertidur lelap di sisi Jesper. Sebelum tidur dia menemaninya dan memberi saudaranya itu semangat. Dee senang dengan kedekatan keduanya. Walau baru bertemu beberapa bulan tapi mereka seperti sudah mengenal lama.


Setelah memastikan kedua anaknya tidur, Dee keluar dari kamar. Dia langsung ke kamar mencari kebenaran Kane.


Setelah mencari dikamar tidak ada, dia lalu bertanya pada pelayannya dimana suaminya berada.


"Saya melihat Tuan ada di ruang kerjanya Nyonya."


Dee hendak pergi ketika Patrik menghentikannya. "Nyonya, saya khawatir dengan keadaan Tuan. Jika ruang kerja itu di kunci dari dalam maka Anda bisa membukanya dengan kartu ini. Pak Jhon menitipkan ini pada saya untuk diberikan pada Anda. Ada juga dia juga menitipkan surat ini untuk Anda sebelum pergi untuk selamanya."


Dee mengangguk mengambil kartu itu. Setelah itu dia menyobek amplop surat yang dia pegang dan membaca surat yang ada di dalamnya.


Di surat itu tertulis wasiat Pak Jhon agar dia harus bertahan di rumah itu karena Kane sangat membutuhkannya. Dia juga memberi tahu jika Kane punya penyakit kejiwaan karena trauma yang pernah dia terima. Dia akan merasa depresi jika sangat merasa sedih.


Beberapa tahun ini dia meminum obat anti-depresan karena ditinggal oleh Dee. Oleh karena itu, Pak Jhon meminta Dee agar bisa membantu Kane keluar dari masalah itu.


Dee harus mengawasinya ketat jika tidak sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Kane. Dia juga meminta Dee untuk mencintai Kane dengan tulus.


Dee menutup kertas itu. Dia langsung menyobeknya kecil.


"Jangan katakan siapapun jika Pak Jhon memberikan surat padaku. Termasuk Tuanmu!" ucap Dee. Patrick mengangguk.


Dee langsung pergi ke ruang kerja Kane. Dia membuka pintu itu dengan kartu yang dia pegang.


Kane yang sedang berdiri di depan jendela kaca yang menghadap ke taman menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat Dee masuk ke dalam ruangan itu.


"Kau? Bagaimana kau bisa masuk?"


"Pak Jhon memberikan kunci ruangan ini padaku," ujar Dee memperlihatkan kartu di tangannya.


"Dia sangat percaya sekali padamu," ujar Kane.


Dee tersenyum kecut. Netranya lantas menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan itu.


"Kau mencari apa?" tanya Kane.


Dee menemukan sebotol obat ada di atas meja. Dia langsung mendekat dan mengambilnya lalu membaca tulisan yang ada.

__ADS_1


"Sial, dia pasti telah mengatakan sesuatu padamu," ujar Kane ketahuan kelemahannya.


"Sejak kapan kau meminum ini?" tanya Dee.


"Dee ini tidak seperti yang kau duga," ujar Kane.


"Ini tidak baik untukmu Kane. Di buang saja dan jangan pernah kau ambil lagi," ujar Dee dengan hati yang sakit. Sesal itu terus menyiksanya.


"Dee aku membutuhkannya," ujar Kane.


"Kau lebih butuh aku atau obat itu!" ungkap Dee.


Kane memegang tangan Dee untuk mengambil obat itu.


Dee bersikeras memegangnya erat.


"Jika kau pilih obat itu, aku pergi sekarang!" ujar Dee membuat Kane tidak berkutik. Dee langsung pergi ke kamar kecil .


Dee membuang isi botol itu ke dalam wastafel dan membuang wadahnya ke kotak sampah. Kane nampak marah sekali dengan kejadian itu.


Dee keluar dari kamar kecil mendekat ke arah Kane yang menatapnya tajam. Dee memeluk Kane erat.


Kane merasa terharu dengan ucapan Dee. Dia membalas pelukan wanita itu dan meletakkan dagunya di pucuk kepala Dee.


"Kau meminta terlalu banyak Dee," ujar Kane.


"Agar kau tidak sempat teringat yang lain, hanya aku saja yang kau ingat dan ada di pikiran serta hatimu.''


"Aku takut jika kebahagiaan ini tiba-tiba pergi dan aku tidak punya seseorang lagi yang akan menemaniku," ujar Kane.


"Aku akan selalu menemanimu," ungkap Dee mengangkat wajah menatap ke arah Kane.


"Kau boleh sedih tapi jangan terlalu terlarut di dalamnya."


Kane menganggukkan kepala. Dia merasa bahwa perhatian yang Dee berikan kali ini menenangkannya. Hatinya serasa hangat.


"Dee kau masih berutang penjelasan padaku."


"Penjelasan apalagi!" ujar Dee nampak kesal. Sepertinya dia telah mengatakan semuanya pada Kane.


"Kenapa kau bisa dirumah Ayah?" Dee terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kane, kau lelah dan aku juga lelah setelah semua yang terjadi hari ini. Aku akan menceritakannya semuanya padamu jika waktunya sudah tepat. Setelah masa berkabung ini selesai. Aku janji."


"Baiklah," ujar Kane. Pria itu lantas menggendong tubuh Dee yang kecil.


"Kane!" Dee terkejut.


"Katamu lelah tadi."


Dee lantas dibawa keluar ruangan itu menuju ke kamar mereka. Setelah itu, Dee di baringkan di tempat tidur.


Kane ikut berbaring di sebelah Dee.


"Tidurlah," kata Kane memeluk Dee dari belakang. "Kau lelah setelah seharian ini memastikan semuanya baik-baik saja."


"Itu tugasku dan kewajibanku," jawab Dee memegang tangan Kane.


"Apakah ini bukan mimpi Dee?" tanya Kane mencium aroma rambut Dee.


Tangan Dee langsung mencubit keras lengan Kane.


"Sakit Dee," ujar Kane mengusap lengannya yang terasa panas.


"Itu artinya kau tidak bermimpi. Sudah tidur saja." Dee membalikkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Kane.


"Aku sangat merindukanmu Kane," ucap Dee jujur dengan hatinya.


"Aku kira kau tidak perduli denganku karena ada pria itu. Apalagi ketika di Papua kau sama sekali enggan untuk melihatku dan seperti membenciku."


"Jangan bahas yang buruk lagi, hanya akan membuat pertengkaran. Aku hanya ingin mengatakan jika semua hal tentangmu membuatku terus mengingat dirimu. Perhatian kecilmu seperti membuatkan aku susu setiap pagi padahal sebelumnya kau tidak pernah ke dapur, hal itu membuatku menderita. Aku ingin membencimu tapi aku tidak bisa. Aku ingin melupakanmu tapi aku tidak sanggup karena wajahmu selalu ada di sisiku."


"Jason, dia mirip sekali denganmu. Hal itu membuatku tidak bisa berpaling darimu. Bagiku kau adalah segalanya. Aku bahkan hampir kehilangan semangat hidup tanpamu. Kau tidak tahu betapa berartinya dirimu bagiku. Aku bahkan hampir tidak bisa bernafas tanpamu," ungkap Dee dengan sedih.


Kane tidak mengatakan apapun hanya memeluk Dee erat dan mencium pucuk kepalanya. Dia kini bisa bernafas lega setelah mendengar semua perasaan Dee untuknya.


"Kau hanya diam," ujar Dee disela Isak tangisnya.


"Aku harus apa?"


"Katakan cinta padaku. Aku suka mendengarnya," rajuk Dee sambil menyeka air matanya dengan pakaian Kane.


"Ih kau itu jorok sekali," ucap Kane. Dee tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2