Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 21 Mencari gantimu


__ADS_3

"Untuk apa marah karena itu sudah terjadi. Percuma saja."


"Kane, apakah kita bisa keluar dari rumah sakit ini secepatnya. Aku benci dengan tempat ini mengingatkanku akan Ibu Panti. Kau tahu sendiri bagaimana ceritanya kan?"


"Aku nanti akan membicarakan hal itu dengan Dokter yang bertugas. Sekarang kita akan ke poli kandungan untuk memeriksa janin di perutmu. Aku lupa jika kita belum pernah melakukan ini," ucap Kane tenang dan datar.


Mereka akhirnya berada di ruang poli kandungan. Dokter itu menekan alat di perut Dee yang telah diberi gel yang dingin.


"Usia kehamilan Anda adakah 11 Minggu lebih lima hari, memasuki usia hamil 3 bulan, berat badan sekitar 23 gram  dengan panjang 7,4 cm, ini ideal dan sangat sehat." 


Dokter itu mulai menerangkan hasil dari USG yang nampak pada layar. Kane menatapnya dengan seksama. Sebuah rasa yang tidak pernah dia rasakan selama ini terasa menghangatkan dirinya. Bayi kecilnya sudah ada di perut Dee dan ini sangat menakjubkan.


''Kalian bisa melihat gambar bayi di dalamnya mulai terlihat jelas di layar."


Kane mengangguk, dia melihat ke arah Dee yang tersenyum cerah melihat bayinya. Debaran aneh terasa di dada Kane. Dulunya dia sendiri kini sudah akan ada yang memanggilnya Ayah."


"Dan pada usia kehamilan berada di minggu ke-11, janin sudah memiliki wajah yang bisa dilihat seperti dahi berbentuk bundar besar, hidung agak kecil dan naik, serta dagu terlihat jelas. Bagaimana, sudah bisa dilihat belum anaknya mirip siapa?" ledek Dokter itu.


"Mirip denganku Dokter karena akan jadi anak yang tampan," kata Kane yakin.


"Wah, ternyata ayahnya ingin anak lelaki," kata Dokter itu. 


"Kita lihat jenis kelaminnya apa?" 


"Mereka masih menyembunyikannya," kata Dokter itu.


"Mereka?" tanya Dee tidak mengerti.


"Ya, anak ini kembar. Selamat ya," kata Dokter itu.


"Kembar Dokter?" ungkap Kane tidak percaya.


"Ya, ini dua. Lihat dengan seksama. Ini dan ini," jawab Dokter itu.


Kane yang berdiri di dekat Dee tiba-tiba menunduk mencium kening Dee. Lalu melihat kembali ke arah layar. Dee terpaku menatap ke arah Kane. Tidak menyangka reaksi yang Kane tunjukkan akan berbeda.

__ADS_1


Hati Dee mulai merasa hangat. Dia tersenyum mendengar semua yang dokter katakan.


"Karena itu kalian harus menjaga kedua calon anak kalian dengan baik."


"Iya, Dokter. Mulai hari ini saya akan menjaganya dengan sepenuh jiwa."


"Dan ingat kebahagiaan istri akan sangat berpengaruh pada kondisi janin jadi jangan membuatnya stress atau tertekan. Usahakan agar sang ibu bisa selalu bahagia. Kau ingin kan anak yang dilahirkan nanti akan selamat dan sehat tanpa kurang satu apapun."


"Tentu, Dokter."


"Dokter apakah aku boleh meminta nomer Anda untuk bisa dihubungi jika aku ingin konsultasi tentang kehamilan ini?"


"Tentu saja," ujar Dokter Afifah..Dokter itu lantas memberikan kartu pada Dee dan Dee memasukkannya dalam kemeja.


Kane meminta ijin pada Dokter itu agar memperbolehkan Dee keluar. Setelah melalui perbincangan yang alot akhirnya Dokter memperbolehkan tapi dengan catatan Dokter itu akan mengunjungi Dee dua hari sekali memastikan kondisi Dee membaik di sana. Kane setuju.


Mereka lantas pulang kembali ke rumah. Dee datang disambut oleh semua orang yang ada di rumah itu. Mereka senang Dee tidak mengalami kejadian buruk. Emilio tampak berada jauh dari pandangan Dee namun wanita itu bisa melihat wajah memar Emilio. Dia menatap ke arah Kane.


"Dia pantas menerimanya karena membiarkanmu di serang oleh Liliana."


Dee hanya bisa menghela nafas.


"Kalau kau butuh apapun katakan saja, aku menyuruh pelayan untuk siaga menjagamu setiap waktu."


"Kenapa aku berada di kamar ini?" tanya Dee. Ini adalah kamar Kane bukan kamarnya.


"Agar aku bisa mengawasimu setiap saat!"


"Sebelum ini kau juga selalu mengawasiku." Dee melihat ke arah CCTV.


"Kau itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Terus terang Dee aku berpikir jika kau mungkin sengaja melakukan ini agar keguguran dan lepas dariku," tuduh Kane.


"Bagaimana bisa kau berpikir sekejam itu?" Dee menatap tidak percaya pada Kane.


"Ya, mungkin kau tidak suka dengan apa yang kulakukan sehingga kau pikir jika kau menggugurkan anak itu kau tidak terikat lagi dengan kontrak itu dan pergi dari sini mencari kebebasanmu," jawab Kane.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin membunuh anakku sendiri, terbesit dalam otakku pun tidak. Aku besar di panti dan tahu bagaimana rasanya tidak diharapkan dan sendiri karena itu aku tidak ingin anakku merasakan hal ini. Aku akan memperjuangkan dia tetap hidup karena dia adalah bagian dari diriku. Walau pada akhirnya aku tidak bisa memiliki mereka," ungkap sedih Dee.


"Maaf jika pikiranku buruk dan salah mengenaimu, aku hanya tidak tahu mengapa kau memancing masalah yang ada dan hanya itu yang terlintas di otakku."


"Aku tidak bisa mengatur pikiran seseorang, tapi aku tahu apa yang aku lakukan dan jika itu tidak sesuai dengan nuraniku aku tidak akan melakukannya."


Kane tersenyum kecut lantas bangkit.


"Kane walau kita tidak bisa menjadi suami istri yang sesungguhnya bisakah kita menjadi partner sampai anak ini lahir?" tanya Dee.


"Partner?" ulang Kane miris. "Ya, kita akan menjadi partner, partner untuk menjaga anak ini dan partner di ranjang."


"Ish, kau hanya ingat tentang ranjang saja. Pergi saja ke Liliana jika kau menginginkannya?"


"Apakah itu artinya kau cemburu?"


"Tidak! Aku sama sekali tidak cemburu hanya saja aku jijik ketika melihat kau dengan wanita itu. Membayangkan tangan dan tubuh sama itu menyentuhku setelah menyentuh wanita lain."


"Apakah itu artinya kau keberatan jika aku bersama dengan wanita lain?"


"Aku bertanya balik padamu, apakah kau masih mau menyentuhku jika aku telah bersama dengan pria lain? Tidak kan?"


Kane terdiam.


"Baiklah kita buat perjanjian. Aku tidak akan menyentuh wanita lain selama kau ada di sisiku. Namun, kau harus melayaniku setiap aku membutuhkannya."


"Aku sedang hamil dan kau tahu jika kita tidak boleh melakukannya?"


"Untuk saat ini tidak boleh jika kau sudah kembali sehat boleh hanya saja dengan aturan tertentu kau tadi dengar sendiri kan apa yang Dokter katakan?"


Dee mengangguk. Dokter Afifah memang mengatakan boleh melakukan hubungan intim hanya saja intensitasnya tidak berlebihan dan juga gerakannya dijaga agar tidak mencederai janin dalam kandungan.


Dee menghela nafasnya. Kane tiba-tiba menyentil dahinya.


"Apakah kau masih berpikir tentang  bayaran lagi?" tanya Kane.

__ADS_1


Dee menyatukan kedua alis dengan bibir cemberut.


"Aku kira kau akan pasang tarif lagi, jika seperti itu sebaiknya aku cari tukang pijat saja yang lebih murah dan nikmat dari pada dirimu yang hanya diam, tapi minta bayaran mahal," sindir Kane membuat wajah Dee memerah.


__ADS_2