
"Bawa dia pergi dari rumah ini, aku tidak mau lagi melihatnya," ujar Kane dengan ekspresi dingin.
"Kane dengarkan aku dulu, itu tidak seperti yang kau lihat, beri kesempatan padaku untuk bicara."
"Emilio... cepat kau bawa wanita itu untuk pergi!"
"Tidak! Kau tetap di situ, aku akan bicara dengan suamiku," ujar Dee.
Membuat alis Kane berkedut. "Suami?" Kane tertawa. Menggelengkan kepala lalu pergi ke dapur. Dia sangat haus.
Emilio memberi tanda pada Dee agar mengikuti Kane. Dee berjalan cepat mengikuti pria itu.
"Kau mau kopi? Aku akan buatkan kopi untukmu," tawar Dee maju.
Kane terdiam tidak mengatakan sesuatu. Dia mengambil minuman kaleng dan meminumnya. Lalu apel.
Perut Dee kembali berbunyi. Kane mendengar tapi berlalu pergi. Dee bingung harus mengikuti Kane atau mengurus perutnya. Anaknya sudah merajuk untuk diberi makan.
Dee memilih membuat makanan terlebih dahulu. Bertengkar itu butuh energi, dengan perut kosong maka yang ada hanya emosi.
Sambil membuat spaghetti instan dengan porsi banyak. Dia membuat kopi dua cangkir dan susu untuknya sendiri.
Sambil mengaduk susunya dia teringat jika Kane akan menyuapi nya susu setiap pagi dengan sabar. Entah dia sedang marah atau tidak. Susunya sudah habis. Perutnya masih lapar tapi tidak mengamuk seperti tadi.
Hamil anak kembar itu lebih sulit, karena apa yang kita konsumsi itu untuk bertiga bersama dengan dua anaknya yang lain.
Dee lalu membagi kopi dan makanannya menjadi dua. Satu bagian besar untuk dibawanya ke atas sedangkan bagian kedua dia taruh saja di dapur agar bisa diambil Emilio jika dia makan. Jika dia memberikan langsung pada pria itu maka Kane bisa bertambah marah.
Dee membawa makanannya sambil mencari keberadaan Kane. Biasanya pria itu ada di ruang kerjanya Tempat favorit untuk sembunyi. Dia membuka pintu, ternyata benar pria itu sedang menenggelamkan diri pada pekerjaannya.
Pria itu terlalu rajin bekerja, seperti takut jatuh miskin saja, pikir Dee. Kane mengangkat kepalanya. Emilio melihat ke arah Dee. Kane menyugar rambut ke belakang nampak tidak senang dengan kedatangan Dee.
"Nona sepertinya lezat."
__ADS_1
"Ini buat suamiku, aku juga buat untukmu di dapur," kata Dee.
"Bawa wanita itu pergi dari hadapanku," ucap Kane. Emilio menatap ke arah Dee.
"Bilang juga pada suamiku untuk minum kopi sama makan ini, dia pasti belum makan dari kemarin," ujar Dee meletakkan bali itu ditangan Emilio.
"Berikan saja makanan itu kepada kucingnya Pak Jhon," jawab Kane.
"Kalau dia tidak mau, kopi yang dibuat spesial untuknya buat kamu saja. Spagetti itu... makan saja untukmu juga jangan beri pada kucing, dia tidak akan suka makanan seperti ini. Lagian kucingya juga pasti sedang tidur," ujar Dee.
Kane menaikkan satu alisnya ke atas mendengar ucapan Dee.
"Bilang pada suamiku kalau cari aku, aku ada di kamar, tidak kabur lewat genteng lagi." Dee lalu berjalan keluar ruang kerja Kane dengan kepala di tegakkan.
Emilio yang mendengar pertengkaran kocak itu hanya bisa menahan tawa. Dia hendak berjalan ketika Kane memanggilnya.
"Hei kau mau kemana?"
"Letakkan di situ, dan kau pergi keluar."
"Katanya Tuan menolaknya," ujar Emilio yang dibalas dengan tatapan tajam.
"Baik, Tuan saya akan meletakkan ini di sini."
Emilio menuruti perintah Kane. Meletakkan baki berisi piring Spagetti itu ke atas meja sofa. Dia lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
Setelah itu Kane melepaskan kacamatanya dan mematikan laptop. Dia beranjak pergi ke sofa dan duduk di sana menatap ke arah makanan yang Dee sajikan.
Meminum kopi buatan Dee yang segar. Hatinya yang tadinya dipenuhi kekecewaan sedikit demi sedikit memudar. Apalagi mendengar cerita Kane tentang kembalinya Dee ke rumah ini untuk meminta kembali padanya.
Benarkah Dee hanya sekedar berbicara dengan pria itu? Tapi mereka berpelukan. Dari keterangan Emilio hal itu dilakukan Dee untuk sekedar pelukan perpisahan tidak lebih.
"Jika tidak untuk apa Nona kembali lagi kemari, Tuan. Jika bukan karena hatinya ada di rumah ini. Berkali-kali Nona ingin melarikan diri, tapi kali ini ketika dia diberi kesempatan pergi dia malah kembali lagi.Cobalah berbicara dengan Nona. Mungkin itu hanya kesalahan fahaman semata."
__ADS_1
Kane menghembuskan nafas keras. Dia melihat spagetti yang masih mengepul itu. Ukurannya besar, tidak mungkin dia makan sendiri.
Hati Kane mendesir sakit ketika teringat Dee yang kelaparan dalam tidurnya tadi. Anaknya pasti kelaparan dalam perut wanita itu.
Kane meraih piring itu dan membawanya keluar ruangan. Sesampainya di kamar dia tidak mendapatkan Dee ada di kamar.
Wajah Kane mengeras. Sayup-sayup dia mendengar suara menangis lirih dari arah kamar mandi. Kane meletakkan baki itu diatas meja lalu berjalan pelan ke kamar mandi.
Wanita itu sedang duduk diatas toilet. Sedangkan diatas wastafel air keran dialirkan begitu saja. Wanita itu menunduk, menutup wajahnya dengan dua lengan yang dilipat diatas kaki.
"Dasar pria kaku, egois, angkuh, tidak pernah mau mendengarkan orang berbicara, semua harus sesuai dengan apa yang dia mau. Katanya cinta, tapi tidak percaya. Katanya suami tapi pergi, katanya sayang tapi meninggalkan. Mau marah, tapi tidak bisa. Harus apa?" omel Dee sambil menangis di kamar mandi. Tidak sadar jika Kane sedang memperhatikan di pintu.
"Sudah?" tanya Kane membuat Dee mengangkat kepalanya.
"Kau di sini?" tanya Dee melihat ke arah lain sambil menyeka air matanya. Menyembunyikan tangisnya.
"Matikan airnya jika tidak dipakai, bayarnya mahal! Tidak semua orang menikmati air bersih, jadi jangan di siakan jika ada."
Kane membalikkan tubuh masuk kembali ke dalam kamar. Dee mencuci tangan dan mematikan keran baru masuk kembali ke kamar. Dia melihat piring spagetti di atas meja. Kane duduk asik memainkan handphonenya.
"Kenapa piring ini ada di sini?" tanya Dee heran.
Kane diam saja, dia sedikit melirik ke arah Dee yang memakai baju tidur sutera putih setinggi lutut. Dee terlihat menantang untuknya dan menarik. Tubuh Kane panas seketika.
Dee mendadak duduk di sebelah Kane. Dengan kaki yang ditekuk ke belakang satu sedangkan kaki yang lainnya tetap dilantai.
"Kenapa masih ada di sini?"
"Anakku butuh makan karena ibunya lalai memberinya makan," jawab Kane ketus tanpa melihat ke arahnya.
Hati Dee menghangat, dia memang sengaja membuat porsi besar agar bisa dimakan bersama dengan Kane. Namun, tadi Kane menolaknya.
Dia menggulung dengan sendok lalu melirik ke Kane.
__ADS_1