Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 133 Hampir Gila Karenamu


__ADS_3

"Jesper! Bukankah seharusnya kau membantu papa menghentikan tangisan adik-adikmu?" Kane mulai kesal karena Jesper masih saja menggerutu untuk mengungkapkan kekesalannya.


"Tidak mau! Bagaimana caraku menghentikan tangisan adik-adikku? Papa saja kena mental, apalagi aku?" Jesper tidak setuju. Ia menolak keras keinginan Kane agar ia membantu Kane menenangkan Jason dan si bungsu.


"Ayolah, Jesper. Kau tenangkan Jason, papa akan menenangkan adik bungsumu!" Kane berbicara dengan nada tinggi. Laki-laki itu hampir kehilangan kesabarannya.


"Aku mau Mama!" Jason menangis sambil merengek. Membuat si bayi semakin meronta dan membuat Kane kebingungan.


"Papa membentakku?" Mata Jesper melotot. Membuat Kane kesal setengah mati.


"Bukan! Siapa yang membentakmu? Papa hanya minta tolong tenangkan Jason dan papa akan tenangkan adik bayi. Kau jangan salah paham, Jesper," terang Kane.


"Habisnya Papa dulu sering membentak Jesper. Ah, kenapa tangisan Jason malah semakin kencang?" Jesper kembali menutup kedua telinganya karena tangisan Jason menjadi-jadi. 


Kane sendiri tidak dapat memungkiri jika gendang telinganya terasa berdengung hebat. Jesper yang merupakan harapan terakhirnya sama sekali tidak membantu. Bocah itu malah menyelamatkan telinganya sendiri.


"Ah, Dee. Kapan kau bangun? Tidak lihat aku hampir gila?"


Entah berapa lama situasi ini terus berlangsung. Kane menimang si bayi agar sedikit lebih diam. Namun hal itu tetap saja tidak berguna. Jesper pun hanya mengomel tanpa ingin memberikan solusi untuk menenangkan kedua adiknya. 


Kane sendiri berada di titik frustasi karena suara tangisan maupun omelan dari Jesper sama sekali tidak membuat situasi membaik. Di tengah-tengah Kane yang hampir putus asa, tiba-tiba tangan dan kelopak mata Dee bergerak. Tidak ada yang mengetahui situasi ini. Karena mereka semua sudah pusing dengan keadaan yang riuh membuat telinga berdengung.


"Kane?" Suara tersebut sangat lirih. 

__ADS_1


Namun telinga Kane, Jason dan Jesper masih bisa mendengarnya. Sontak saja pandangan ketiga manusia itu tertuju ke arah ranjang pesakitan milik Dee. Mereka semua segera mendekati Dee yang masih terbaring lemas.


"Jesper, hubungi dokter. Katakan kalau Mama sudah sadar," titah Kane.


"Baik, Pa." Jesper memencet tombol darurat untuk memanggil para dokter dan perawat.


"Tunggu sebentar ya. Dokter akan segera datang." Kane tidak dapat membendung rasa bahagia. Sang istri tercintanya telah tersadar dari koma. Belahan jiwanya itu kini telah membuka mata.


"Apakah itu putri kita?" Kedua mata Dee tampak berbinar. Tidak menyangka jika putrinya telah lahir ke dunia. Dee mengukir senyuman saat melihat penampilan Kane sekarang.


"Kau tidak merawat diri dengan benar. Kenapa menangis sekarang?" Dee bertanya saat Kane tanpa sengaja meneteskan air mata.


Kane, laki-laki yang sebelumnya tidak pernah menangisi apapun. Kini justru laki-laki itu menangis hebat saat melihat istrinya tersadar dari koma. Dee yang masih tergolek lemas itu mengulum senyuman lembut. Semakin membuat Kane meluruhkan air matanya.


"Mama! Hiks, Mama sudah bangun. Jason takut, Ma!" Jason pun mengadu pada Dee. Hal itu membuat Dee tersenyum.


Tentu saja pujian Dee membuat dua bocah laki-laki itu sangat senang. Saat Dee hendak meminta putrinya pada Kane, tiba-tiba para dokter berdatangan. Kane, Jason dan Jesper harus keluar dari ruangan. Kali ini Kane tidak memberontak. Ia menurut dan memilih keluar dari ruangan dengan tiga anaknya dalam ketenangan.


"Kane! Kenapa kalian keluar dan tiba-tiba ada banyak dokter? Ada apa dengan Dee? Putriku tidak apa-apa kan?" Linda panik saat ia melihat ada banyak dokter dan perawat yang tergesa-gesa memasuki ruangan Dee.


"Tenang, Ma. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja Dee sudah sadar. Jadi biarkan dokter yang menangani Dee," jelas Kane.


"Benarkah Dee sudah sadar? Alhamdulillah, Kane. Ini berkat kesabaran dan Allah menjawab doa-doa darimu." Kedua mata Linda berkaca-kaca. 

__ADS_1


Wanita itu menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata. Ia sangat bersyukur putrinya telah sadar dari koma. Setelahnya terlihat ranjang pesakitan Dee didorong keluar ruangan. Semua orang langsung mendekati Dee yang tersenyum. Namun mereka tak banyak bicara lantaran Dee harus dipindahkan di ruang rawat setelah tersadar dari koma.


Di salah satu kamar rawat khususnya VIP, semua orang terdiam. Mereka melihat Dee yang masih ditangani dokter. Si kembar juga tidak ada yang membuat keributan. Mereka seperti dipukul untuk memahami keadaan bahwa ini bukan momen yang tepat untuk membuat keributan.


"Akhirnya momen bahagia benar-benar terjadi, Kane. Berkat kesabaranmu selama satu minggu ini," ucap Ben.


"Ah? Aku tidak sadar selama satu minggu?" Dee terkejut saat tahu ia sudah koma selama 1 minggu. Wanita itu lalu mengalihkan pandangan kepada putrinya yang sedang mencicipi ASI pertama. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


"Putriku," panggilnya.


"Dee, suamimu ini sangat telaten menjagamu. Mama harap kau memperlakukannya dengan baik. Mama bahkan tidak tega saat melihat suamimu mengurus si bungsu ini sendirian. Mama ingin membantu, tapi kata Kane itu sudah merupakan tugasnya. Padahal Kane juga harus merawatmu dan si kembar. Sepertinya mama sudah menemukan menantu terbaik sepanjang hidup mama," papar Linda.


Dee tersenyum ke arah Kane. Akan tetapi Kane malah membuang wajahnya ke arah lain. Namun Dee dapat menebak bila Kane sedang salah tingkah karena dipuji di depannya. "Lalu bagaimana dengan Rosemary, Ma? Apakah dia sudah melahirkan?"


"Rosemary sudah melahirkan di rumah sakit ini juga. Karena aku harus menjaga kalian secara bergantian jadi mama menempatkannya di rumah sakit ini sekalian. Sedikit merepotkan jika kalian berada di rumah sakit yang berbeda. Dia sangat ingin sekali menjengukmu. Tapi kami melarangnya," pungkas Linda.


"Karena tidak baik berada di tempatmu saat itu. Sebab dia baru saja melahirkan. Mungkin setelah ini dia akan datang berkunjung. Aku sudah memberitahu David jika kau sudah sadar. Aku pikir dia akan merengek untuk kemari sebentar lagi." Ben menjelaskan seraya menganggukkan kepala. Ia tahu seperti apa hubungan antara Dee dan Rosemary dulu. Akan tetapi sekarang malah berakhir dengan hal yang tak terduga.


"Aku akan sangat senang dan menantikannya datang. Tapi, siapa nama putriku?" Dee tersadar jika putrinya belum memiliki nama.


"Kami memanggilnya si bungsu. Karena Kane tidak mau memberinya nama sebelum istrinya terbangun. Memang sebaiknya kau segera memberinya nama. Kami kerepotan untuk memanggilnya. Sedikit lucu dengan memanggil si bungsu." Linda protes dan mengutarakan kekesalannya pada Dee. Tentunya Dee langsung menatap malu ke arah Kane. Pasti suaminya ingin dirinya yang memberikan nama untuk si bungsu.


Dee terlihat berpikir beberapa saat. Hingga kemudian senyumnya terlihat merekah. "Ara Maheswari. Itu memiliki arti ratu cantik yang akan memberi ketenangan."

__ADS_1


"Apakah itu artinya adikku harus menikah dengan kaisar? Benar kan? Tentu saja karena adikku ini ratu." Jesper menunjuk bayi kecil yang sedang berada di dalam dekapan Dee. Semua orang terkejut mendengar penuturan dari Jesper. Tak lama kemudian semua orang tertawa.


"Kenapa kalian semua tertawa?"


__ADS_2