Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 88 Kenapa harus begitu? Bukankah dia Mamaku


__ADS_3

Malam harinya Kane pulang ke rumahnya. Kepalanya terasa pening karena semua permasalahan yang ada. Di saat itu, dia melihat Jesper alias Jason sedang berlari mengejar kucing kesayangannya.


"Candy, awas kau kalau lari terus tidak akan kuberi makan selama seminggu nanti," ujar Jason mengancam Candy, tapi kucing itu tidak mau mendengarkan malah meloncat di antara kursi dan juga meja sehingga sebuah vas tersenggol olehnya dan oleng. Terdengar suara benda pecah.


"Jesper!" teriak Kane kesal.


Jason menoleh melihat Papanya yang berdiri dengan wajah merah padam. Dia langsung mendekati Papahnya dan naik ke tubuhnya seperti koala. Mencium pipi ayahnya.


"Aku tidak tahu Papah sudah pulang," ujar Jason tidak perduli dengan kemarahan Kane.


Kane melirik ke arah Jason dengan tatapan tajam. "Papah tampan dan baik hati, tidak akan memukul anaknya karena vas kecil kan? Aku tahu Papah orang baik dan penyayang," rayu Jason.


"Sejak kapan kau pandai merayu seperti itu?"


"Sejak aku kenal dengan Ma ... eh Mariska, temanku di kelas." Jason hampir keceplosan mengatakan Mama untuk dia anak yang pandai jadi membelokkan menjadi nama wanita.


"Sejak kapan kau berpikir tentang wanita? Kau itu masih kecil tidak seharusnya memikirkan itu," ujar Kane duduk di sofa. Merenggangkan kaki dan tangannya.


"Wanita yang mendekati aku, bukan aku yang mendekati mereka. Mungkin karena aku tampan yang mewarisi ketampanan Papa dan Mama juga pasti cantik jika jelek tidak akan lahir anak setampan aku," kata Jason membuat Kane heran. Biasanya anak ini pendiam dan tidak banyak bicara kenapa sekarang berbeda 180 derajat.


"Pak Jhon, apakah kau sudah melakukan pemeriksaan terhadap Jesper," tanya Kane.


"Memang kenapa, Tuan?"


"Sepertinya otaknya berbeda dari biasanya. Aku yakin ini bukan Jesper yang aku kenal," ujar Kane.


Jason tersenyum kaku.


"Papah kok bisa berpikir seperti itu, memang Jesper ada berapa?" balik Jason.


Kane menghela nafas nya. "Entahlah, aku merasa kau berbeda."


Jesper memeluk leher Papahnya.


"Tapi Papah suka kan?"


Kane terdiam. Dia teringat kembali pada pertemuannya dengan Dee.


"Pa, sudah makan atau belum? Aku belum makan menunggu Papa pulang."


"Makan saja sendiri, Papa lelah, mau ke kamar." Kane bangkit berjalan pergi

__ADS_1


"Tidak mau ... menemaniku makan?" tanya Jason dengan raut wajah sedih, membuat Kane tidak tega.


"Papah lelah," ujar Kane pergi masuk ke dalam lift, mengabaikan Jason.


Bukan Jason namanya kalau tidak keras kepala. Ketika Kane selesai mandi anak itu sudah duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah ditekuk.


"Sudah makan?" tanya Kane.


"Aku tidak mau kalau sendiri," ujar Jason.


"Kau persis sekali dengan Mamamu kalau begitu. Selalu minta ditemani jika mau makan," ujar Kane menyisir rambutnya.


"Memang seperti itu," gumam Jason.


"Apa?" tanya Kane.


"Seharusnya seorang anak itu mirip dengan orang tuanya, kalau tidak seperti Papa ya Mama. Aku memang seperti Mama."


"Ya, akhir-akhir kau memang seperti Mama mu," ujar Kane membalikkan tubuhnya menatap ke arah Jason.


Kane lantas berjalan keluar kamar.


"Papa mau kemana?" tanya Jason mengekor.


"Aku tahu jika Papa tidak sekejam itu pada anaknya."


Kane melirik tajam pada Jason.


"Jangan seperti itu Pah, nanti Papa cepat tua dan Mama tidak suka lagi pada Papah," ujar Jason.


"Jangan bahas Mamamu lagi," peringat Kane.


"Kenapa? Mamaku baik dan cantik, kenapa tidak boleh bicara tentangnya."


"Siapa yang mengatakan itu?" tanya Kane melihat tidak senang pada Jason.


Di saat yang sama Pak Jhon sedang lewat di lantai bawah.


"Kakek tua itu eh Kakek Jhon," ujar Jason. Akhirnya dia menemukan kambing hitam untuk kesalahannya yang hampir memberitahu siapa dirinya. Jika Papa Burung Besar tahu mana bisa-bisa burungnya akan digunting habis oleh Papa.


Kane menatap curiga pada Jason. Jason memperlihatkan wajah ketakutannya, walau itu hanya sandiwara.

__ADS_1


"Mana aku berani berbohong pada Papa. Kakek Jhon bercerita tentang Mama Jesper yang cantik dan baik juga selalu membuat Papa tertawa, Jesper jadi ingin bertemu dengan Mama," ungkap Jason yang memang merindukan Mamanya.


"Mama... Mama... Mama, akhir-akhir ini kau selalu bicara tentangnya. Jika kau bahas dia lagi maka jangan bicara pada Papah!"


Jason menutup mulut dan menekuk wajahnya.


"Ayo sekarang ke ruang makan," kata Kane.


"Tidak mau, aku mau tidur dan memimpikan Mama saja karena hanya dalam mimpi aku bisa bertemu dengan Mama. Papa sampai kapan pun tidak akan memperbolehkan aku bertemu dengan Mama. Papa seperti Loki yang jahat, ih aku sebal dengan Papa," ujar Jason menghentakkan kaki di lantai. Dia lalu berlari ke kamarnya dan membanting pintu.


Kane terpaku, menghela nafas. Di saat itu Pak Jhon yang baru keluar dari ruang Lift, datang mendekat. Dia sempat melihat pertengkaran Ayah dan anak.


"Aku kira dia semakin besar, keingintahuan nya semakin banyak. Dia banyak bertanya soal ibunya sedari kemarin dan aku menceritakan beberapa padanya."


"Seharusnya kau tidak menjawab tentang itu," ujar Kane berjalan meninggalkan Pak Jhon.


"Kane, apakah kau tidak ingin mencari tahu kebenaran semuanya?" tanya Pak Jhon.


"Andai aku tahu apakah Dee akan kembali atau aku akan tambah terluka? Aku tidak ingin membuka masalah itu. Biarkan semua tetap seperti ini. Jika Dee kemari itu karena keinginannya sendiri bukan karena aku memaksa atau meminta."


"Apakah kau akan membiarkan Dee menemui putramu?"


"Jesper ingin tahu siapa Ibunya maka aku kenalkan jika Dee sendiri yang meminta. Kalau Dee tidak ingin bertemu putranya, akan lebih baik bagi Jesper tidak tahu ibunya sekalian karena tahu pun akan membuat dia bertambah luka."


"Apa kau tidak ingin menjadi obat untuknya? Dia anakmu satu-satunya, calon pewaris mu, tidak baik membuat luka baginya secara terus menerus."


Kane menatap ke arah pintu kamar Jesper.


"Aku hidup dalam luka fisik dan psikis sewaktu kecil, itu malah menjadikan aku sosok yang kuat. Seperti itu pula aku akan mendidik Jesper. Aku ingin dia menjadi pribadi kuat tidak tergoyahkan."


"Aku sudah tua, Kane. Tidak bisa menemani Jesper terus menerus. Jika kau tidak mau menemaninya, maka siapa lagi yang akan menemani dan mengajarinya tentang dunia ini?"


"Jangan bicara tentang kematian karena aku pun belum siap andaikan kau meninggalkan aku. Sebenarnya aku ingin sekali memanggilmu, Ayah. Hanya kau yang paling patut mendapatkan panggilan itu dariku bukan tua bangka Yang itu."


"Dasar anak durhaka, dia itu ayahmu. Dia juga sudah menyerahkan saham serta kepemimpinan diamond padamu, seharusnya mulai kini kau menghormatinya. Aku sendiri itu apa?"


"Kau itu yang memberi kehidupan pada anak kecil yang tidak berdaya, sehingga bisa menjadi seperti ini Ayah," ujar Kane.


Pak Jhon menunduk lalu menyeka air matanya. Untuk pertama kalinya Kane mengungkapkan perasaannya dan memeluk Pak Jhon.


"Ayah," panggil Kane menyeka pipi basah Pak Jhon yang sudah penuh dengan kerutan.

__ADS_1


Kebaikan yang kita tanam, akan tumbuh dan berbuah lebat suatu hari nanti. Jadi tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya.


__ADS_2