Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 58 Menang tapi kalah


__ADS_3

"Dasar sialan! Jadi benar dari awal kau sudah merencanakan ini?" Kane melepaskan cengkeraman tangannya di leher David. 


David memegang lehernya yang terasa sakit.


Lagi-lagi Pak Jhon yang kembali menenangkan emosi Kane. Mata Kane berkilat penuh amarah. Gemuruh di dalam hatinya tak dapat dibendung lagi. David masih saja sama sombongnya memandang Kane dengan pandangan meremehkan.


"Kane! Tenanglah. Kita sedang berada di mana kau harus sadar. Aku tahu kau marah. Tapi lebih baik kalau kita juga sadar tempat. Kita bisa membalas dendam lain hari." Pak Jhon berbisik di telinga Kane. Hal itu membuat Kane mulai menyurutkan emosinya.


"Beruntung kau. Kalau tidak mungkin aku akan menghabisimu!" Kane berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu.


"Dasar pecundang!" teriak David.


Teriakan David bukan berarti Kane tidak mendengarnya. Bahkan karena intonasi suara David yang tinggi, Kane masih dapat dengan jelas mendengarnya. Kedua tangan Kane mengepal sempurna. Pria itu bersusah payah untuk meredakan emosinya. 


Pak Jhon terus mendampingi Kane. Meski ia belum mendapatkan penjelasan, tapi yakinlah pria itu sangat mengenali Kane. Pria yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri itu tidak mungkin diliputi amarah begitu saja. Pasti ada alasan besar dibalik amarahnya.


"Kane, ada apa?" Pak Jhon segera bertanya saat Kane duduk di satu ruang tunggu yang ada di tempat penyelenggara. Pak Jhon ikut duduk di samping Kane yang terlihat dada bidangnya naik turun.


"Pak Jhon, aku memintamu untuk berhati-hati tentang proposal itu bukan?" Kane mulai bertanya.

__ADS_1


"Ya. Dia bahkan orangku sendiri. Orang kepercayaanku selama beberapa tahun belakangan ini. Ada apa dengan proposal itu? Lalu apa hubungannya dengan kau dan David yang hampir bertengkar?" Dahi Pak Jhon mengernyit. 


Ia bingung mengapa tiba-tiba membicarakan tentang proposal. Padahal sebelumnya mereka berdua sudah melihatnya bersama-sama dan tidak ada masalah apapun.


"Masalahnya adalah proposal yang kita buat sama persis dengan proposal milik David. Hanya berbeda jumlah nominal yang mereka tawarkan sedikit lebih rendah daripada tawaran kita. Apakah itu masuk akal, Pak Jhon?" Kane memandang Pak Jhon. Benar saja ekspresi wajah Pak Jhon berubah.


"Bagaimana bisa? Aku bahkan memastikannya sendiri dengan menyuruh orang yang belakangan ini dapat kuandalkan. Karena dia memiliki utang budi padaku, dia jelas tidak mungkin ingin menghancurkan hubungan yang sudah kami berdua jalin sejak lama. Bukankah tidak mungkin bila dia ingin menghancurkan hubungan baik ini?" Pernyataan Pak Jhon bisa diterima akal sehat Kane. 


Hening melenggang. Baik Pak Jhon maupun Kane sama-sama terdiam. Keduanya tidak ada yang berbicara. Kane tahu bila Pak Jhon tidak mungkin mempercayai orang sembarangan. 


Sejak kedatangan David, memang Kane merasa ada yang aneh karena David terlihat sangat percaya diri. Bahkan aura yang dipancarkan David seperti bermusuhan. Bilamana sebelum ini David masih menyembunyikan perangai buruknya, lalu mengapa sekarang menjadi terang-terangan? Apakah karena David percaya bahwa ia bisa mengalahkan Kane? Kane mengusap wajahnya pelan. 


"Wah, Kak. Baru kalah sekali saja kau sudah seperti pengecut. Bukankah itu sama sekali tidak cocok dengan rumor yang beredar?" David berbicara dengan nada sinis. Namun, Kane berusaha untuk tidak menanggapi.


"Pak Jhon, ayo kita pergi dari sini. Di sini ada setan yang datang tidak diundang." Kane bangkit berdiri. 


Disusul oleh Pak Jhon yang siap untuk berjalan pergi. Akan tetapi, dengan sengaja David menghalangi langkah Kane. Tentu saja itu membuat Pak Jhon mendesah. Padahal jelas-jelas Kane sedang menahan emosi tetapi David masih tidak peduli dan belum puas mengejek Kane. 


"Jika dibiarkan terus-menerus, maka Kane tidak akan bisa lagi menahan emosi. Sebenarnya siapa yang telah membocorkan proposal milik Kane? Mengapa aku dan Kane sama sekali tidak mengetahuinya?" Pak Jhon membatin gelisah. Karena David terus saja memprovokasi Kane. Kemungkinan besar perkelahian tidak akan mungkin bisa dicegah lagi. 

__ADS_1


"Ternyata pria hebat sepertimu benar-benar pengecut. Kalah dari adikmu sendiri kau bisa semarah ini? Padahal selama ini kau terus berada di atasku. Kau merebut banyak bisnis yang seharusnya jatuh ke tangan Grup Diamond. Sekarang aku bisa merebut tender besar ini darimu kau tidak terima?" David mulai meninggikan suaranya.


Kane terkekeh mendengar kata-kata David. "Kau sepertinya masih belum bangun dari mimpi indahmu ya. Itu hanya bisnis kecil. Mungkin hanya satu kerjasama yang terlepas dari genggamanku. Tapi ingatlah, aku masih memiliki kerjasama dengan perusahaan lainnya. Aku masih memiliki kerjasama dengan tender yang kumenangkan sebelum ini. Jadi, kenapa aku harus menjadi pengecut? Bukankah seharusnya itu kau? Memangnya siapa yang sudah membuat Grup Diamond menjadi sekarat dan goyah sekarang ini?" Kane mulai membalas. 


Kali ini Kane sadar ia tidak perlu mengotori tangannya. Lagipula David hanya bisa berbicara omong kosong. Kane tidak akan terpancing lagi.


"Kau! Kalau kau memang tidak marah karena aku telah memenangkan tender kali ini, mengapa kau tidak memberikan ucapan selamat pada adikmu ini?" David menyeringai. Ia benar-benar ingin membuat kakaknya itu mengucapkan selamat pada proyek yang telah ia menangkan.


Kata-kata David sontak membuat Kane tersenyum. Ia pun berjalan mendekati David dan berdiri tepat di hadapannya. Kane  menepuk pelan bahu lebar milik David. Tentu saja mata David mengamati raut wajah Kane yang justru tersenyum. Padahal sebelumnya Kane selalu menahan amarah.


"Baiklah. Selamat untukmu karena telah memenangkan proyek ini. Ngomong-ngomong, apa kau yakin bisa menghandle proyek itu dengan harga segitu? Aku membuat harga sendiri karena itu harga paling murah dengan keuntungan yang minim." Kane menyeringai penuh ejekan.


"Jika kau menentukan sebesar itu, aku takut kau malah akan membuat bangkrut Grup Diamond. Dikarenakan kau harus mengurangi kualitas atau menomboki biaya pembangunan tol yang mahal."


Kane lalu berteriak keras. "Selamat atas kemenangan yang membawa kekalahan. Nikmati kebodohanmu, David."


Kane membalik badan. Ia hendak melangkah pergi meninggalkan David. Ketika David memanggilnya.


"Kak!" David menyertakan giginya karena rasa malu akibat dipermalukan oleh Kane

__ADS_1


Pria itu mulai kehabisan kesabaran karena reaksi yang diberikan Kane tidak membuatnya lega. "Kau harus mendengar ini, jika yang membantuku memberi proposal itu adalah kakak ipar. Kali ini kau kalah dengan telak," ujar David tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2