
Kembali ke masa kini.
"Namun, semua tidak berjalan sesuai dengan rencana. Kau datang di saat yang tidak tepat, marah dan lepas kendali," ungkap Dee sembari menghela nafas.
"Andai kau jujur dari awal, bukannya malah bersembunyi seperti ini," balik Kane. Mereka lantas saling menatap.
"Maaf... aku memang yang salah," ucap Dee penuh air mata. Kane membuang wajah ke arah lain.
"Kau tidak tahu sakit yang kurasakan setelah semua yang kau lakukan." Rasa kecewa bergemuruh dalam dada Kane. Memaafkan Dee tidak bisa dia lakukan untuk saat ini. Namun, dia juga tidak mau kehilangan wanita itu.
"Aku menberikan semua cintaku untukmu, tapi apa yang kau berikan? Kau lebih memilih mantanmu dan mengkhianatiku. Dee itu sangat kejam. Walau kau tidak bisa mencintaiku setidaknya hargai ketulusanku. Bukan seperti anjing yang menggigit tuannya," kata Kane mengungkapkan perasaannya dengan suara bergetar dan penuh emosi yang tertahan. Tangannya mengepal erat sehingga otot yang mengelilingi terlihat menegang.
Pria itu lantas menghembuskan nafas kasar.
Dee hanya bisa menunduk menangis sambil menggigit bibir bawahnya kencang. Sesekali menghapus air mata dengan sapu tangan.
Mereka cukup lama terdiam.
"Dee kau pulang saja. Biar aku yang menunggu Pak Jhon di sini."
"Bolehkah aku menemanimu?"
"Sesekali, turuti aku tanpa harus melawan." Bola mata mereka bertemu. Dee masih bisa melihat kemarahan yang terpendam di mata Kane. Sekali lagi Kane membuang muka dan itu membuat hati Dee terasa nyeri.
"Temani anak-anak di rumah agar mereka tenang."
Dee mencoba menarik senyum dan mengangguk. Dee bangkit. Namun, hanya berdiri saja. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Kane dingin.
Dee membalikkan tubuhnya dan memeluk Kane. Membuat pria itu terkejut.
"Sekali lagi maaf untuk semua kesalahan yang kulakukan dan aku tahu itu tidak akan mudah untukmu. Namun, aku harap cintamu masih untukku karena ... aku juga mencintaimu." Dee langsung mengecup pipi Kane dan pergi dari sana dengan setengah berlari. Wajahnya memerah karena malu.
Kane sendiri tertegun. Bukankah dia dari dulu menunggu ungkapan cinta Dee? Namun bukan dengan momen yang tidak tepat seperti ini.
Kane menatap Dee dan menyentuh pipinya yang masih terasa panas. Sebuah senyum terbit di bibirnya yang seksi. Rasa hangat mulai menyebar di hatinya yang membeku.
Dee masih sama menggemaskan seperti dulu. Tingkahnya tidak bisa ditebak.
***
Pak Jhon mengatakan ingin pulang ke rumah saja. Dia ingin menghabiskan sisa waktu hidupnya di rumah, bukan rumah sakit yang membuatnya tertekan karena yang dia lihat hanya dokter, perawat dan alat-alat kesehatan yang membuatnya tertekan.
__ADS_1
Kane akhirnya membawa Pak Jhon kembali ke rumah. Kedatangan mereka disambut oleh Dee dan dua putranya. Jesper yang paling antusias dengan rencana kepulangan Pak Jhon.
Mobil berhenti tepat di depan mereka. Kane keluar lebih dahulu untuk membantu Pak Jhon berjalan, namun di tolak pria tua itu.
"Aku bukan pria lemah yang harus di papah berjalan seperti bayi," ujarnya. Kane tersenyum.
"Aku juga mengenal Pak Jhon seperti itu, bukan yang terbaring di tempat tidur rumah sakit."
"Dasar kau anak tidak berbakti."
Kane terkekeh.
"Kakek!" panggil Jesper berlari memeluk Pak Jhon hingga membuat pria tua itu limbung dan hampir jatuh. Untung tangan Kane dengan sigap memegang tubuhnya.
"Akhirnya kau kembali. Aku takut sekali kau pergi."
Walau Jesper lebih banyak memberontak pada Pak Jhon namun dia tahu selama dia kecil hanya Kakek Jhon yang memberi dia perhatian. Ayahnya hanya sibuk bekerja saja. Kakek Jhon selalu punya waktu untuknya dan menemaninya bermain.
"Anak nakal, kau kan sudah ada ibumu yang akan menemanimu. Seharusnya kau bahagia dia kembali."
"Namun aku juga tidak ingin kau pergi," ucap Jesper tersedu. Hati Kakek Jhon tersentuh mendengarnya. Walau dia tidak punya anak kandung, tapi dia punya keluarga yang menyayanginya. Padahal mereka tidak punya hubungan darah sedikitpun.
Kakek Jhon menatap ke arah Jason yang memegang ujung baju Dee sambil menatap ke arahnya.
"Kau anak bandel. Apakah kau tidak ingin memeluk kakekmu?"
Dee melotot ke arah Jason sedangkan Kane langsung memegang dahi anak itu sebelum sempat memeluk Kakek Jhon.
"Jason kau harus berkata yang sopan."
Wajah Jason ditekuk sambil mengerucutkan mulut dan menunduk. "Iya."
"Panggil dia Kakek Jhon bukan Kakek tua."
"Sudah biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Dia mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Jesper dan Jason punya karakter berbeda," sela Kakek Jhon membuat Kane terdiam.
"Kali ini Papa lepaskan!"
Jason lantas ikut masuk ke pelukan Kakek Jhon.
"Ih, Papa galak benar!" gerutu Jason pada Jesper. Namun, semua masih bisa mendengarnya.
Dee hanya bisa memegang dahinya yang pusing dengan ulah Jason. Kane melototkan mata pada Jason. Hendak menjewernya tapi Kakek Jhon menghalangi dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kakek Jhon aku senang melihat kau bisa pulang kembali ke rumah ini," sapa Dee.
"Aku juga senang kau kembali pada Kane. Jangan pernah pergi lagi karena rumah ini sepi tanpamu," ujar Kakek Jhon.
Dee menghela nafas dan menatap ke arah Kane. Baru mengangguk.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah bersama.
"Mama memasak banyak makanan kesukaan kakek," ujar Jesper.
"Aku paling mau makan desert dengan waffel toping ice-cream dan remahan Oreo. Itu pasti lezat," ujar Jason.
Mereka langsung ke ruang makan. Dee kali ini masak berbagai makanan khas suku Batak.
Ada arsik gurame yang terlihat lezat dengan sayuran, daun singkong tumbuk serta sambal teri Medan yang membuat air liur keluar.
"Aku hanya bisa masak ini ketika melihatnya di you tube, semoga bisa mengurangi rasa rindumu pada kampung halaman."
"Ini juga sudah wah. Terimakasih, Dee."
Netra Kakek Jhon berkaca-kaca. Kane lalu menarik satu kursi paling ujung untuk Kakek Jhon.
"Tidak itu untukmu, Kane," ujar Kakek Jhon.
"Kau yang paling tua, seharusnya kau yang duduk di sini dari dulu."
"Aku hanya...."
"Kau itu Ayahku," ucap Kane. Kakek Jhon tidak kuasa membendung air matanya. Memeluk Kane.
"Terimakasih karena kau membuat pria ini menjadi bagian dari keluargamu."
"Dari dulu, kau adalah satu-satunya keluargaku."
Suasana kembali terasa haru.
Mereka lalu makan dengan suasana hangat. Seperti biasa, Jason yang paling ramai diantara semuanya.
"Untung Mama menggorengkan ayam untukku. Aku tidak suka dengan ikan."
"Jason, kalau makan yang tenang, jangan bicara terus," ujar Kane. "Ambil satu ayam saja terlebih dahulu, baru ambil yang lain setelah yang di piring sudah habis."
"Kane, jangan terlalu keras pada anakmu!"
__ADS_1
"Dia harus di didik dengan benar," ujar Kane. Dia lantas menatap ke arah Dee.
"Kau terlalu memanjakannya sehingga seperti ini."