Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 41 Ketahuan


__ADS_3

Tubuh Dee dipeluk erat oleh Rizky. Dee terdiam untuk sesaat. Dia pikir, ketika akan bertemu dengan Rizky, dia akan emosional dan mengeluarkan semua kerinduannya.


Namun, tubuhnya bereaksi biasa saja. Bahkan dia sudah tidak menemukan lagi hatinya yang berdebar bila berdekatan dengan pria itu.


"Kak Rizky, tolong lepaskan!" pinta Dee membuat Rizky tercengang. Dia lalu tersenyum getir dan melepaskan pelukannya pada Dee. Menyeka matanya yang sempat basah karena bisa melihat Dee lagi setelah lama mereka berpisah.


Risky sadar jika status Dee kini milik pria lain walau itu hanya sementara.


"Dee aku sangat merindukanmu," ucap Rizky.


"Aku juga, merindukan, Kakak," balas Dee mundur ke belakang membuat jarak antara mereka. Tanpa sadar Dee mengusap perutnya , hal itu turut menjadi perhatian Rizky.


"Kau sedang hamil besar?" kata Rizky miris. Seharusnya anak yang Dee kandung itu anaknya tapi malah jadi anak pria lain. Andaikata dia tidak hidup jauh dari Dee mungkin Dee masih tetap menjadi miliknya seutuhnya.


Dee mengangguk. "Lima bulan lebih, tapi karena kembar jadi terlihat lebih besar."


"Kembar?" Rizky terkejut dan tersenyum tulus. Dia ikut senang ketika melihat Dee bahagia.


"Ya, salah satunya anak lelaki yang satunya belum mau diidentifikasi. Dia selalu menyembunyikan dirinya. Mereka bukan kembar identik jadi yang satunya bisa saja anak perempuan," terang Dee dengan semangat.


"Wah, kau pasti bahagia karena sudah memiliki keluarga yang kau impikan," sindir Rizky.

__ADS_1


"Ya, walau awalnya hubunganku dan Kane seperti air dan minyak, kini kami mulai belajar untuk saling menerima agar bisa tercipta hubungan baru yang baik dan hangat."


"Bukankah kalian akan mengakhiri hubungan itu jika anak ini lahir?" tanya Rizky.


"Tadinya seperti itu tetapi setelah kami memikirkannya dengan matang. Anak ini membutuhkan sosok ayah dan ibu yang lengkap di masa depan."


"Jadi kalian memutuskan bersama?"


Dee menutup rapat bibirnya karena merasa tidak enak dengan jawaban yang akan dia katakan.


Dee memainkan jarinya dengan gelisah. "Kak, aku minta maaf atas perlakuan Kane padamu waktu itu."


Mereka terdiam sejenak. "Mereka memintaku untuk pergi jauh darimu, tapi aku menolak karena aku sangat khawatir terhadap mu. Lagi pula, aku juga sangat merindukanmu. Sangat rindu, Dee, hingga tidak bisa membendungnya lagi.


" Kak, maaf!" ungkap Dee menunduk penuh penyesalan.


"Sudah ku katakan kau tidak perlu meminta maaf, karena kau tidak salah."


"Sebenernya, aku ingin menemuimu untuk mengatakan jika aku akan menunggumu kembali Dee. Tapi kelihatannya kau bahagia dengan pria itu. Jika seperti itu aku ikut senang," ucap Risky ringan tapi hatinya masih terasa sakit.


Dee memejamkan matanya, tanpa bisa dicegah dia mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Kak kau sangat baik, selalu memahami diriku."


"Karena kita telah bersama untuk waktu yang lama, Dee.Hubungan kita sudah mengakar dihatiku ini."


"Kau cari saja wanita lain. Kau layak yang mendapatkan lebih baik dariku," saran Dee.


"Andaikata ada wanita yang seperti dirimu, Dee, aku akan segera menikahinya."


"Kak, aku harus pergi sekarang. Kane pasti sudah mencariku," ungkap Dee.


Rizky menghela nafas berat. "Biarkan saja dia menemukan kita di sini berdua, sepertinya akan ramai."


"Kak, jangan seperti itu! Bagaimanapun sekarang posisiku adalah istri orang dan tidak baik jika kita terlalu lama berdua di sini."


"Baiklah, kau boleh pergi namun aku ingin meminta satu hal terlebih dahulu padamu."


"Apa itu?"


"Aku ingin memelukmu sekali lagi sebagai pelukan perpisahan atau pelukan saudara."


Dee merasa ragu namun dia pikir tidak apa-apa jika hanya sebentar. Rizky lalu memeluknya. Di saat itu sebuah tepuk tangan keras terdengar masuk ke ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2