Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 130


__ADS_3

"Huft! Masih pagi tapi aku sudah berkeringat. Punggungku terasa sakit." Dee memposisikan tubuh tegak berdiri. 


Lalu wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dee lalu menyentuh lembut perutnya yang sudah membesar. Seulas senyuman merekah di bibir Dee. Naluri keibuannya sangat luar biasa.


"Tidak terasa sudah 9 bulan ya, Sayang. Apa kabar? Apakah kau juga tidak sabar untuk menyapa mama? Mama dan papa juga tidak sabar untuk melihatmu lahir ke dunia ini, Sayang." Setelah beberapa saat Dee berbicara dengan bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia, Dee mulai beraktivitas. Ibu dua anak itu menyiram kembali bunga-bunga yang ada di taman.


"Nyonya, biar saya saja yang menyiram bunga. Sebaiknya Nyonya masuk ke dalam dan istirahat. Saya tidak tega melihat perut Nyonya yang sudah besar itu." Seorang pelayan berusia paruh baya tiba-tiba berusaha menghentikan Dee.


"Apa? Ini kan hanya menyiram bunga. Justru  aku harus banyak bergerak. Lagian kan sebelum ini juga sudah pernah melahirkan. Aku tahu sampai batas mana kekuatanku, Bi. Sudah sana. Urus yang lain saja." Dee mengusir pelayan itu. 


Namun tampaknya si pelayan tidak ingin membiarkan Dee bekerja terlalu keras. Pelayan itu berpikir. Ia menatap tajam Dee yang masih saja santai menyiram bunga sedangkan dari kejauhan dia melihat Dee kepayahan. 


Mendadak ingatan tentang Kane muncul. Mengingat majikan laki-lakinya yang sangat meratukan Dee, ia yakin bisa mendapat hukuman. Tanpa sengaja matanya melihat air yang memercik mengenai kedua kaki Dee.


"Nyonya, saya pikir tidak baik untuk Anda berada di sini. Maaf, saya bukan mendo'akan atau berpikiran buruk. Tapi tanah di sini bisa saja menjadi licin." Pelayan itu sesekali memainkan kedua ujung jari jempolnya. Takut-takut bila Dee akan marah.


Terlihat Dee mulai goyah. Wanita itu menatap tajam ke arah pelayan berusia paruh baya yang ada di depannya. Tiba-tiba kepalanya mengangguk. Baiklah. Lebih baik aku melakukan sesuatu di dalam rumah. Nih! Siram yang rata. Jangan sampai ada bunga yang layu."


"Baik, Nyonya."


Dee berlalu pergi meninggalkan taman. Ia berjalan susah payah masuk ke dalam rumah. Kini tujuannya adalah kamar kedua anaknya. Saat ia membuka pintu kamar, terlihat dua anak kembarnya itu tertidur dengan posisi yang entahlah. Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepala. Merasa bahwa ia menjadi wanita paling bahagia saat ini.


"Baiklah. Dua jagoan mama waktunya bangun dari mimpi." Dee menyibak gorden sehingga membuat sinar mentar pagi menyilaukan mata dua bocah kembar itu. Dee berjalan pelan mendekati ranjang yang berselimut karakter kesukaan dua anaknya.


"Ayo, bangun. Jesper? Jason? Hei, ini sudah pagi. Kenapa dua jagoan mama masih tidur?" Dee menarik selimut tebal yang membuat Jason dan Jesper menggeliat.


"Ma, lima menit lagi," pinta Jesper.


"Berikan aku kebebasan untuk menyuarakan pendapat. Aku masih mengantuk," sahut Jason dengan kedua mata yang tertutup.


"Apakah kalian tidak malu pada matahari yang sudah menjalankan tugasnya? Apa kalian tidak malu juga pada ayam yang sudah berkokok?" ejek Dee.


Mendadak Jesper mengangkat kepala dan memposisikan tubuhnya duduk di ranjang. Bocah kecil itu mengucek kedua matanya. Melihat tingkah Jesper, membuat Dee tersenyum. Itu merupakan ekspresi yang sangat mirip dengan Kane ketika baru saja terbangun dari tidur.


"Kenapa Mama malah membandingkan kami dengan ayam? Apakah tidak ada perbandingan yang lebih berkelas lagi? Setidaknya jangan ayam," rutuk Jesper.

__ADS_1


"Mama hanya membuat perbandingan kecil saja. Masa mau membandingkan dengan para bibi yang sudah bekerja? Atau banyak anak jalanan di luar sana yang harus sekolah dengan membawa kue-kue untuk membantu orang tuanya? Hmm?" Kata-kata Dee membuat Jesper turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Diikuti Jason yang juga mulai menyadarkan diri dari mimpi indahnya.


"Kau sudah bangun, Jason?" tanya Dee.


Jason menganggukkan kepala. "Aku sudah bangun, Ma. Apakah calon adik bayi tidak membuat Mama kesusahan?"


"Tidak. Adik bayi sangat baik. Kalau begitu bereskan tempat tidur selagi Jesper sedang mandi. Kalian bisa bergiliran membereskan atau melipat selimut. Kalau begitu mama pergi dulu." Dee berlalu. Ia pun berjalan menuju dapur. 


Tujuannya adalah membuatkan kopi untuk raja rimba di rumah ini. Di saat itulah, Dee merasakan firasat tidak enak. Entah karena apa. Akan tetapi Dee lagi-lagi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dengan susah payah ia berjalan ke ruang kerja Kane sambil membawa secangkir kopi.


"Uh." Dee masih berusaha menahan rasa sakit. 


Ia terus berjalan mendekati meja kerja Kane. Namun, rasa sakit yang dirasakan Dee mulai terasa hebat. Dengan mulut yang terbuka tanpa sengaja Dee menjatuhkan secangkir kopi di lantai. Suara pecahan cangkir yang nyaring itu membuat Kane terkejut setengah mati.


"Sayang! Ada apa?" tanya Kane dengan panik.


"Perutku sakit. Rasanya mulas, Kane," jawab Dee.


"Apakah ini sudah waktunya?" balas Kane.


"Mungkin saja. Ini sudah sesuai dengan perkiraan dokter. Uh." Dee memejamkan kedua matanya. Mendadak tubuhnya mengambang. Ia baru sadar jika Kane telah menggendongnya ala bridal style.


"Apa Mama sakit? Apa kami terlalu lama mandi dan bersiap?" Jesper ikut bertanya. Dari wajah kedua bocah itu terlihat panik.


"Sudah, cepat masuk ke mobil! Kita bawa Mama ke rumah sakit!" Kane berteriak panik. 


Suara Kane membahana ke seisi rumah. Para pelayan pun ikutan panik. Karena sebelumnya memang mereka sudah dibuat ketar-ketir oleh Dee. Karena majikan perempuan mereka terlalu mandiri.


"Baik, Pa!" Jason dan Jesper menjawab secara bersamaan. Dua bocah itu duduk di bangku jok belakang dengan tenang. Mereka terlalu takut dengan keadaan Dee yang terus mengeluh sakit.


"Sayang, bertahanlah. Kau harus bertahan. Ada kami bertiga yang masih membutuhkanmu," kata Kane.


"Hei! Kenapa kau malah tersenyum? Aku menyetir mobil sendiri! Seharusnya kau mengingatkan aku!" kesal Kane.


Dee kembali meringis kesakitan. Keringat yang sebesar butiran jagung itu mulai membasahi bajunya. Kane, Jesper dan Jason dibuat semakin panik. Lebih lagi tubuh Dee mulai menggeliat tidak karuan.

__ADS_1


"Uuh," rintih Dee.


"Aku takut." Jason tak dapat membendung rasa takutnya. Tangannya pun ikut bergetar.


Jesper yang melihat Jason takut, ia menyentuh tangan saudaranya. Jesper juga mengukir senyuman. "Kita memiliki Mama yang kuat. Kau percaya sama Mama kan? Kalau kau takut, katakan padaku. Aku akan menjagamu."


Jason ikut tersenyum. "Sungguh kau akan menjagaku? Kalau begitu aku tidak hanya takut. Tapi aku juga malu."


Dahi Jesper berkerut. Ia bingung dengan kata-kata Jason yang dinilainya tidak nyambung. "Malu karena apa?"


"Aku malu karena Papa mau ke rumah sakit tetapi tidak memakai baju. Aku pikir apa yang sedang Papa pakai itu seperti pakaian untuk kita tidur," ucap Jason.


Kini Kane tersadar. "Sial! Kenapa kalian tidak mengingatkan Papa?"


"Karena Papa tidak bertanya," timpal Jesper.


"Kane, kenapa kau memakai kolor saja? Apa kau mau pamer tubuhmu yang kurus itu?" ejek Dee.


"Hei! Apa-apaan kalian! Kita mampir di toko dulu sebentar." Kane menghentikan mobilnya tepat di salah satu toko. Ia bergerak cepat turun dari mobil. Di dalam mobil tidak ada yang berani bersuara di antara dua bocah itu. Keduanya sangat fokus melihat bagaimana keadaan Dee.


"Tenang, mama baik-baik saja. Kalian banyak-banyak berdo'a sana. Biar adik kalian cepat lahir," sela Dee.


Tak lama kemudian Kane telah kembali masuk ke dalam mobil dengan mengenakan baju barunya. Ia segera melajukan kendaraannya untuk menebus jalanan yang mulai rame itu. Tidak ada suara lain selain Dee yang terus merintih. Membuat Kane melajukan mobil dengan sedikit ugal-ugalan.


"Dokter! Dokter! Tolong istri saya!" Baru saja mobil berhenti di depan rumah sakit, Kane sudah berteriak. Membuat keributan yang membuat Dee malu setengah mati. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Dee karena dia sendiri sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Sayang, bertahanlah!" Kane ikut mendorong ranjang pesakitan Dee bersama perawat dan dokter.


"Uh! Enak sekali laki-laki. Hanya nitip benih sedangkan yang merawat dan membesarkan itu wanita. Argh!" Tanpa sengaja Dee menarik rambut Kane sekuat tenaga.


"Ouh, Sayang. Tarik saja rambutku. Biar sama-sama botak seperti bayi kita," timpal Kane.


Dee tidak menjawab. Ia sudah berada di dalam ruang persalinan. Kane dan dua anaknya diperbolehkan mendampingi Dee. Tentunya dengan perdebatan kecil terlebih dahulu.


"Argh!" jerit Dee.

__ADS_1


Kane menoleh. Terlihat sang istri sedang mati-matian berjuang melahirkan putrinya. Laki-laki itu menggigit bibir bawahnya. Panik, takut dan khawatir bergumul menjadi satu.


"Ya Tuhan, maafkan aku. Benar kata Dee. Kalau saja aku tidak menitipkan benih, mungkin saja Dee tidak akan merasakan rasa sakit sampai seperti ini." 


__ADS_2