
Kane dan Dee saling berpelukan ketika malam hendak berganti pagi. Tubuh mereka saling melekat tanpa ada penghalang sama sekali. Pria itu mencium pucuk kepala Dee dengan dalam.
"Dee apa kau benar-benar tidak mau mengatakan perasaanmu lagi padaku?" tanya Kane.
Kane teringat akan ucapan Dee di rumah sakit dan dia ingin mendengarnya lagi dari mulut Dee. Namun, sepertinya itu bukan hal mudah untuk Dee ucapkan.
Dee terdiam, hanya jarinya saja yang bergerak di dada Kane. Mulutnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia urungkan. Dee lalu memeluk pinggang Kane erat.
Kane merenggangkan pelukan mereka dan mengangkat dagu Dee dengan tangannya agar wajah mereka saling menatap. Netranya penuh harap menatap wajah manis Dee.
Air muka Dee nampak berubah memerah. Terlihat malu seperti anak gadis yang kepergok pacaran.
"Coba katakan lagi, aku ingin mendengarnya." Dee menggeleng. Wajahnya semakin memerah membuat Kane tambah gemas.
'Wanita ini, sudah punya anak dua masih juga malu untuk mengungkapkan perasaannya. Padahal apa yang kita lakukan sudah dalam. Dia memang harus diberi pelajaran lagi biar mau jujur.'
"Atau kita lakukan lagi sampai kau mau mengatakannya?" ancam Kane. Dee langsung menggelengkan kepalanya ketakutan. Sudah berapa jam dia melayani nafsu pria itu yang tidak kunjung habis. Tenaganya sudah terkuras habis. Tubuhnya terasa lelah, ingin segara beristirahat, tapi Kane malah mengajaknya bicara.
Apakah ungkapan cinta itu begitu penting lebih dari apa yang dia lakukan. Namun, melihat wajah Kane yang serius membuat Dee berkecil hati. Sepertinya Kane akan menghabisinya lagi. Kali ini dia harus membuang jauh rasa malunya, toh Kane juga suaminya sendiri.
"Aku mencintaimu," kata Dee dengan suara kecil sambil melihat ke arah lain. Takut untuk menatap Kane.
"Aku tidak mendengarnya," ujar Kane meledek.
"Kane ... ," rajuk Dee dengan suara manja. Kane tertawa.
"Baiklah... hanya saja katakan padaku jika kau hanya milikku," lanjut Kane dengan serius. "Jangan pernah lagi mengkhianatiku dengan alasan apapun lagi."
Dee mengangkat tangannya mengusap rambut Kane dengan lembut sambil menatap matanya. "Selamanya aku hanya milikmu dan aku tidak akan pernah lagi mengkhianatimu."
Kane memeluk Dee erat, hingga hampir membuat tubuh Dee terasa remuk. "Dee aku begitu mencintaimu hingga marah, kecewa dan rasa benciku tidak bisa membuatku berpaling darimu."
"Aku hanya bisa marah padamu, tapi tidak pernah bisa membencimu. Walau kau beberapa kali bermesraan dengan wanita lain aku hanya bisa marah."
"Kau cemburu?"
__ADS_1
"Mana ada istri yang senang melihat suaminya berciuman dan berpelukan dengan wanita lain. Kau sendiri hanya melihatku bersama dengan Rizky langsung melakukan hal gila di luar nalar. Aku tahu, aku yang selalu salah dan kau selalu benar. Silahkan kau bermain dengan wanita lain dan aku akan diam."
Kane tersenyum memperhatikan Dee.
"Aku hanya ingin melihat kau seperti, memperlihatkan rasa cemburumu ketika aku bersama dengan wanita lain. Namun, kau malah bersikap acuh seolah tidak perduli."
Dee tertegun.
"Seharusnya kau marah dan mengatakan jika aku hanya milikmu, mempertahankan apa yang kau miliki bukannya malah pergi bersama pria lain."
"Aku tidak pernah bersama pria lain. Kau yang meninggalkan aku."
"Kau tahu ketika terakhir kali aku melihatmu di rumah sakit, aku memanggil namamu dan menyatakan perasaanku, tapi kau tetap tidak mau menoleh."
"Kau kejam dan tidak berperasaan ketika marah. Aku takut dengan kau yang seperti itu. Kau membuatku seperti tidak berharga, dibuang begitu saja. Selalu seperti itu. Jangan lagi kau tanyakan cintaku padamu karena walau tidak pernah kukatakan selamanya aku hanya milikmu."
Bibir Dee langsung dibungkam oleh Kane. Kali ini ciuman itu penuh perasaan yang dalam. Membuat hati Dee menghangat.
Setelah itu, Kane melepaskan dan mengusap bibir Dee yang bengkak dan terluka karena kegiatan mereka tadi.
Dee menenggelamkan diri dalam pelukan Kane. Tidur dengan mimpi indah.
Setelah mendengar nafas Dee yang teratur. Kane lantas bangkit mengambil piyama miliknya dan pergi mandi. Setelah itu, dia pergi ke kamar Pak Jhon untuk melihat kondisinya.
Kane terlihat lega karena Pak Jhon masih terlelap tidur padahal beberapa hari di rumah sakit dia sangat sulit memejamkan mata. Kakinya melangkah maju untuk membenarkan selimut Pak Jhon.
Ketika dia menarik selimut, dia merasa ada yang salah. Dia langsung membalikkan tubuh Pak Jhon dan menyalakan lampu kamar.
Wajah Pak Jhon sudah memutih dan tubuhnya lemas.
"Jangan seperti ini...," ucap Kane sambil memeriksa denyut nadi Pak Jhon. Rasa takut menyelimutinya.
Dia langsung duduk lemas di pinggir tempat tidur Pak Jhon. Menatap wajah itu.
Menekan kedua matanya keras. Lalu merengkuh dan memeluk erat tubuh Pak Jhon, mencium pipinya yang sudah terasa dingin.
__ADS_1
Dia berteriak keras membuat terkejut seisi rumah.
Dee yang sedang terlelap lalu terbangun dan mencari bajunya. Berlari ke arah sumber suara. Dia merasakan takut yang teramat sangat.
Saat dia sampai, di sana sudah ada Patrik serta Kane yang sedang meraung memeluk Pak Jhon. Langkah kaki Dee terhenti untuk sesaat. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi. Berjalan mendekat ke arah Kane.
Memeluk Kane erat. Dia juga ikut merasa sedih.
"Dee dia benar-benar telah pergi," ucap Kane. Dee mengangguk.
"Dia sudah bahagia bisa berkumpul kembali dengan istri dan anaknya."
"Padahal aku belum membalas kebaikannya sama sekali. Aku hanya selalu membuat masalah dan pikiran untuknya."
"Ayah bangunlah! Pak Jhon bangunlah, aku memerintahkanmu untuk bangun dan menemuiku!" ucap Kane dengan suara yang semakin lirih.
"Papa ... kenapa menangis? Kakek dia kenapa tidak bangun," tanya Jesper membuat Kane dan Dee terkejut. Kane langsung memeluk putranya itu.
"Papa jangan buatku takut. Kakek bangunlah, lihat Papa menangis. Dia terlihat jelek," ucap Jesper.
Semua yang ada di ruangan itu ikut menitikkan air mata.
Dee lalu mengambil Jesper dalam pelukan Kane dan memeluk sambil mengusap punggungnya.
"Sayang, Kakek sekarang telah berpulang ke rahmat Tuhan. Dia sudah tidak sakit lagi dan bertemu dengan istri serta anaknya. Dia pasti sudah bahagia sekarang," ujar Dee dengan suara gemetar karena menangis.
Jesper menatap Kakek Jhon yang sudah menutup matanya. Menahan tangisnya setengah mati.
Kane ikut memeluk mereka. Sedangkan Jason langsung ikut masuk kedalam pelukan keluarganya.
Walau dia baru bertemu Pak Jhon sebentar tapi dia senang dengannya. Dia ikut sedih atas kematiannya.
Acara pemakaman akan diadakan siang nanti. Kane sedang berganti pakaian ketika Dee masuk membawanya teh hangat dan juga biskuit.
"Isi dulu perutmu dengan teh ini."
__ADS_1