
Rosemary dibawa ke rumah sakit terdekat. Dia mendapatkan perawatan dari dokter kandungan dan bidan yang berjaga.
"Tuan dan Nyonya, dia hanya mengalami stress yang berlebihan. Sebaiknya jangan ada berita yang tidak baik yang dia dengar dan dapat membuat tekanan jiwanya bertambah. Hal itu bisa mempengaruhi kandungannya yang baru berjalan 5 Minggu."
"Baik, Dokter," ujar Linda.
"Kami beri obat penenang agar bisa beristirahat." Dokter lantas memberi keterangan lainnya sebelum pergi mengurus pasien lain di rumah sakit itu.
Linda menatap ke arah Ben yang nampak terguncang. Dia duduk di sebelah suaminya. Lantas memegang tangannya.
"Semua akan baik-baik saja," ujarnya.
"Terimakasih, untung ada kau yang bisa jadi ibunya. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada anakku," ucap Ben.
"Apa kau tidak mencari anakmu lagi?" tanya Ben.
Mata Linda berkaca-kaca. "Dia sudah membenciku dan menganggapku mati."
"Maafkan aku karena tidak mengetahuinya dari awal."
"Apa kau dan keluargamu akan tetap menerimaku jika tahu aku punya anak diluar nikah!" ujar Linda tersedu.
"Aku hanya bisa melihatnya dari jauh tanpa berani untuk mendekatinya."
"Kalau kau tahu dimana dia seharusnya kau mendekatinya lagi, sekarang dia tidak memaafkan mungkin suatu hari dia bisa menerimamu."
"Namun, apakah itu tidak akan membuatmu malu jika kebenarannya akan diketahui orang banyak? Nama baikmu akan ikut tercemar karena kesalahanku."
"Kau sudah banyak berkorban untukku tidak bisakah aku membalasnya dengan membuatmu bahagia?"
Linda memeluk tubuh suaminya. "Terimakasih atas pengertianmu. Tapi aku tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Panti asuhan tempatnya tinggal sudah terbakar dan terakhir kali aku bertemu dengannya ada di pemakaman ibu panti yang telah mengasuhnya. Dia terlihat sangat membenciku. Aku bahkan tidak berani memperlihatkan wajahku padanya."
"Aku akan membantu kau untuk menemukannya," janji Ben pada istrinya. Linda adalah istri keduanya setelah dia bercerai dari istri pertamanya ketika Rosemary masih kecil.
"Terimakasih," ucap Linda.
"Jangan hakimi Rose, saat ini dia butuh kita untuk menguatkannya. Anak dalam kandungannya tidak berdosa, jadi jangan minta dia untuk menggugurkannya. Bertanggung jawab atau tidak ayah anak dalam kandungan Rose, kita sebagai orang tuanya harus tetap menjaganya. Oleh karena Rose anak kita dan hanya memiliki kita," ujar Linda.
Dia mengingat bagaimana kemarahan orang tuanya ketika dia hamil anak pria yang telah beristri. Memang salahnya mencintai pria itu. Dia terjerat cintanya hingga rela menyerahkan diri padanya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Dia harus membayar mahal kesalahannya.
__ADS_1
Mungkin karena dia telah membuang anaknya, Tuhan tidak lagi memberi kepercayaan untuknya mempunyai anak lagi. Walau semua usaha telah dilakukan sampai hari ini dia tidak hamil. Untung ada Rosemary anak tirinya yang bisa mengobati luka hati karena kehilangan putrinya.
Beberapa jam kemudian, Rosemary telah sadar. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan yang tidak seperti kamarnya.
Rosemary lantas melihat selang infus yang mengalir ke tangannya dan menatap ke arah orang tuanya yang berdiri dengan raut wajah khawatir.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Itu adalah hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dia dipermalukan di seluruh negeri dan jadi bahan olok-olok. Dia tidak bisa menanggung derita ini.
Rosemary langsung bangkit dan menarik jarum infus ditangannya. Seketika seprai berwarna putih itu terkena bercak darah.
Linda memekik terkejut. Ben mencoba memegang tangan Rosemary.
"Biarkan aku mati, Ayah. Aku tidak bisa menahan lagi kesedihan ini," ujarnya.
"Sayang tenanglah," kata Ben memeluk putrinya.
Ben menoleh ke belakang."Linda cepat kau panggil Dokter."
"Ya." Linda bergegas pergi.
"Aku kehilangan cintaku, Kane dan masa depanku. Aku pun kehilangan nama baikku semua hancur, semua hancur karena wanita itu Ayah. Aku tidak bisa menanggung kesedihan ini," ucapnya tersedu.
Rosemary hanya bisa menangis saja. Dokter lantas datang.
Tiga hari telah berlalu. Berita tentang kebersamaan Kane dan keluarganya telah menghiasi halaman depan semua surat kabar. Tertulis cerita tentang terpisahnya mereka walau tidak sama, tapi bisa membuat orang tersentuh.
Tertulis jika mereka sempat mengakhiri pernikahan itu karena tidak mendapatkan persetujuan dari orang tua Kane. Sehingga mereka terpisah. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi dengan cinta yang masih sama besarnya sehingga mereka kembali bersatu.
"Apa kau menghubungi mereka?" tanya Dee ketika mereka sedang duduk di sofa. Dia menunjukkan artikel di sebuah surat kabar.
"Ya. Itu kulakukan untuk menutup jejak rumor yang ada tentang pernikahanku dengan Rosemary agar tidak mencuat."
"Apa kau dapat hadiah dari berita ini?"
"Tidak, Martin pemilik majalah ini adalah temanku. Hanya saja cerita yang kusampaikaj dilebihkan olehnya."
"Tapi bagus juga, aku suka bagian ketika kau menangis saat melamarku untuk kedua kalinya, itu indah." Dee menggerakkan dua alisnya yang berbentuk bulan sabit.
"Kapan aku pernah melakukannya? Itu hanya bumbu pemanis sebuah cerita saja."
__ADS_1
Dee menatap tajam pada Kane. Kane melirik sedikit menahan senyum. Kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Mereka katanya liburan nyatanya Kane tidak sepenuhnya bisa melepaskan pekerjaan itu, hanya saja dia melakukannya sambil bersama dengan anak dan istrinya.
"Kau itu menyebalkan," sungut Dee.
"Kemana anak-anak?" tanya Kane.
"Mereka diluar dengan kelinci yang baru kalian beli tadi di pasar," terang Dee. Dia menatap wajah suaminya yang terkena pancaran sinar matahari dari jendela besar rumah mereka. Dia seperti dewa agung yang terlihat memikat dan membuatnya terpana.
"Jangan menatapku terus, jika tidak kau bisa jatuh cinta padaku," ujar Kane.
Dee menatap malas suaminya. "Ya sudah kalau begitu aku menatap Ji Chang-wook saja. Dia itu suami idaman setiap wanita."
Lantas membuka handphone miliknya menatap wajah artis Korea yang dia idolakan.
"Siapa lagi dia, apakah Rizki saja belum cukup membuatmu kapok! Mau selingkuh lagi?" tanya Kane dengan nada tinggi.
Dee lantas memperlihatkan wajah tampan artis itu. "Lihat dia lebih tampan darimu kan?" Dee mengusap layar itu.
"Dee!" Kane menatap geram istrinya itu. Dia hendak mengambil handphone itu ketika Dee menyembunyikan di belakang tubuhnya.
Kane merampas handphone Dee.
"Jangan itu hanya artis kesukaanku saja, kau tidak usah cemburu begitu," ledek Dee.
Kane melempar handphone itu ke tubuh Dee.
"Awas jika kau berani bermain-main di belakangku!"
"Mana ada karena kau lebih tampan dari siapapun. Sudah jangan cemburu seperti itu."
"Aku tidak cemburu hanya tidak suka dikhianati," kilah Kane.
"Mama, ada tamu," ujar Jason masuk ke dalam rumah sambil berlari.
"Jason cuci tangan dan kakimu sebelum masuk," teriak Kane yang gila dengan kebersihan.
"Aku bersih, Pah," ujar Jason mendekat memperlihatkan tangannya yang baru saja memegang kelinci.
"Jason!"
__ADS_1
"Kane," panggil Ben dari pintu membuat Dee dan Kane terkejut.