Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab.26 Memendam perasaan Benci


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Dee dipindah ke rumah Kane yang lain. Sebuah rumah yang terletak di pinggir kota dekat dengan pegunungan. Kawasan itu terdiri dari beberapa villa besar mewah milik para pengusaha kaya atau pejabat negara. Sangat asri dan berudara sejuk.


Dee duduk di depan jendela menatap ke arah taman bunga dengan aliran air yang sengaja dibuat mirip dengan sebuah sungai kecil. Sangat indah sebenarnya tapi tidak membuat Dee senang apalagi bahagia. Dia merasa seperti di kurung dalam sangkar emas dengan penjagaan yang super ketat.


Setelah kejadian itu handphone miliknya disita oleh Kane dan hubungan dengan dunia luar, Kane larang hingga bayi ini lahir.


Kedatangan bayi dalam perut Dee sangat Dee syukuri, namun tingkah ayahnya membuat dia merasa terluka. Terkadang dia berpikir jika bayi ini tidak ada maka kehidupan yang dia inginkan mungkin akan terwujud. Dia yakin Rizki akan menerima keadaannya karena pria itu sangat mencintainya. Bayi ini adalah anugerah tetapi membuat malapetaka bagi hidupnya.


"Nona, ini baju yang Tuan kirimkan untuk Anda," kata pelayan berseragam putih datang mendekat membawa baki berisi setumpuk pakaian berwarna putih. Kane menyukai warna itu sehingga membentuk Dee mengenakan warna itu pula.


Dee terdiam tidak memberikan reaksi sedikit pun. Membuat pelayan hanya bisa menghela nafas. Nonanya ini memang sulit untuk diatur. Dia sudah berada di sini selama tiga hari, tapi tidak sesuap nasi pun sampai ke tenggorokannya. Dia hanya duduk di depan jendela hingga sore hari setelahnya kembali ke pembaringan. Tidak ada aktivitas yang lain dia lakukan.


"Nona, Tuan perintahkan agar Anda mengenakan satu dari beberapa baju ini sekarang karena Tuan akan datang sebentar lagi."


"Datang tinggal datang, tidak ada yang melarang. Dia bebas melakukan apapun bahkan mengurungku di sini," ujar Dee.


"Kau benar, aku akan melakukan apapun yang aku suka dan kau harus menurut padaku." Suara Kane terdengar dari arah luar kamar.


Pelayan tadi mundur ke belakang memberi jalan pada Kane. Dengan gerakan tangan Kane memerintahkan pelayan itu untuk meletakkan pakaian tadi di meja serta keluar dari kamar.


Di tangan Kane terdapat baki berisi mangkuk berwarna putih dengan sentuhan garis yang terbuat dari emas asli.


"Aku membawakanmu sop burung walet, ini bagus untuk kesehatanmu dan juga bayi dalam perutmu," kata Kane.


Dee mengangkat satu sudut bibirnya tersenyum sinis. Dia masih menatap ke depan tidak menoleh sedikitpun ke arah Kane.


Kane meletakkan baki itu di atas meja lantas mendekat ke arah Dee. Dia langsung saja menggendong Dee tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Lembut.


"Lepaskan aku!" bentak Dee.

__ADS_1


"Akhirnya kau berbicara juga padaku," kata Kane.


Dee memalingkan wajahnya ke arah lain. Kane meletakkan Dee di kursi sofa dengan posisi kaki di luruskan di atas kursi.


"Aku tahu aku salah dengan melarangmu bertemu dengan siapapun. Namun, dari awal perjanjian itu dibuat kau sudah setuju jika akan memenuhi semua persyaratan dariku termasuk tidak bertemu dengan siapapun sampai anak ini lahir," ujar Kane.


Dee mengatupkan bibir keras. "Kau telah melanggar banyak sekali poin di perjanjian yang kita buat, tapi berkali-kali pula aku memaafkan. Untuk kesalahanmu kali ini parah Dee, aku tidak menerimanya."


Dee memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas.


"Kau ingin bertemu dengan pria lain sebelum kontrak itu habis."


Dee baru menatap ke arah Kane.


"Marahlah dan makilah tapi jangan diam seperti ini. Aku tidak suka, apalagi diammu juga turut menyiksa anak dalam kandunganmu," ungkap Kane lagi.


Dia duduk di meja dan mengambil mangkuk sup tadi. Mengambil satu sendok sup lantas diberikan pada Dee. Dee memalingkan wajahnya.


'Hukum? Kau yang menghukum anak ini Kane. Jika saja kau punya sedikit hati maka kau memperbolehkan aku bertemu dengan Rizki. Bukan malah memukulinya dan membawanya pergi. Aku juga tidak tahu nasib Rizki saat ini, apakah keadaannya baik-baik saja? Kau memang kejam Kane.'


Dee memejamkan mata dan bulir air mata menetes.


"Makan sedikit saja,'' bujuk Kane lembut. Dee malah menepis tangan Kane menjauh dan sendok terjatuh di lantai. Kane mengepalkan tangan marah.


Hanya karena pria itu Dee rela menyiksa dirinya. Apakah begitu besar rasa Dee pada pria itu sehingga amarahnya membuat dia melupakan janin dalam kandungannya yang butuh nutrisi lebih.


Kane terdiam keluar dari kamar dan kembali lagi dengan membawa sendok lain. Dia kini berdiri di depan Dee.


"Kau harus mau mengisi perutmu jika tidak aku akan memaksamu untuk makan."

__ADS_1


Dee tidak bergeming hingga Kane mengambil mangkuk itu dan mengisi mulutnya dengan makanan itu tanpa mengalihkan tatapan pada Dee.


Setelah itu dia bangkit memegang dagu Dee dengan erat lantas menciumnya dengan paksa dan makanan itu berpindah ke mulut Dee. Netra besar Dee nampak membesar dia tidak menyangka Kane akan melakukan ini.


Dengan terpaksa akhirnya Dee menelan makanan itu. Kane melepaskan tautan bibir itu dan mengelap bibir Dee dengan ibu jarinya.


"Bagaimana, kau suka jika makan seperti itu? Jika iya aku akan melakukannya lagi," ujar Kane hendak mengambil mangkuk itu lagi.


"Jangan biarkan aku sendiri saja."


Dee akhirnya mengalah karena tidak mau terintimidasi dengan tingkah Kane yang penuh dengan tuntutan. Kane menatapnya terus menerus hingga makanan di mangkuk itu habis. Dia puas dan senang karena Dee akhirnya menurutinya.


Mangkuk di letakkan dengan kasar ke atas meja.Wanita itu lantas bangkit hendak pergi ke ranjang tapi tangan besar Kane menariknya kuat sehingga terjatuh ke dalam pelukan pria itu. Tatapan mata mereka saling beradu.


"Lepaskan!" Dee mulai memberontak.


Bukannya melepaskan Kane malah semakin memeluk Dee dengan erat. Satu tangannya dia letakkan di belakang kepala Dee dan mulai mencium Dee lembut.


Dee marah atas perbuatan Kane yang seenaknya saja melakukan sesuatu pada tubuhnya. Dia lantas menggigit bibir Kane keras sehingga darah mengalir.


Kane terkejut melepaskan tautan bibir itu dan menatap Dee dengan garang.


"Aku mencoba bersabar padamu, Dee. Tapi kau malah melonjak," ujar pria itu. Dee memalingkan wajah ke samping, air mukanya menampilkan ekspresi kebencian pada Kane yang teramat sangat.


"Baiklah jika itu maumu," kata Kane lirih tapi menekan. "Aku akan lihat seberapa kuat kau menahan diri." Di dalam mata Kane terbesit api amarah yang besar dan membuat Dee merinding seketika.


"Aku hanya wanita yang kau suruh hamil anakmu, bukan alat pemuas nafsumu!" ujar Dee menatap berani Kane.


Kane memiringkan kepalanya dan tersenyum licik. "Jika aku inginkan sesuatu maka tidak akan bisa yang menghalangi keinginanku!" bisik Kane. "Kini aku ingin kau mendesahkan namaku dibawah tubuhku. Jika kau tidak mau melakukannya maka aku akan pastikan kau akan menggumamkan nama pria itu di acara pemakamannya."

__ADS_1


"Iblis kau, Kane!" teriak Dee kesal.


__ADS_2