
Akhirnya mereka sampai di tempat kuliner makanan. Netra yang dihiasi bulu mata lentik berbinar bahagia Ketika menemukan makanan yang dia suka.
Kan sendiri yang mengidap penyakit mysophobia merasa jijik berinteraksi dengan banyak orang di tempat itu. Apalagi melihat suasana yang begitu ramai dia sudah merasa ilfeel dan tidak nyaman. Perusahaan agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan pengunjung lainnya.
Kan mendesis jijik melihat situasi yang ada. Membayangkan semua alat makanan dan meja kursi telah dipakai orang lain dan kemungkinan besar tidak dicuci bersih. Saya tidak terbiasa dengan suasana ini yang Mam + membuatnya kesal adalah Dee seperti tidak peduli dengan dirinya. Dia malah sibuk mengantri makanan bersama dengan orang-orang itu.
"Pak nasi lengkap dengan sayur jengkol, ya, sayur itu sama tempe goreng. Ayam? Tidak ... tidak aku sudah bosan itu," teriak Dee yang masih bisa didengar oleh Kane.
"Tuan," panggil Pak Jhon yang sudah menyiapkan meja dan kursi untuk Kane. Dia telah membersihkan kursi dan meja itu dengan tisue basah sehingga higienis dan mengkilap. Kane mulai duduk nyaman. Di kanan kirinya sudah berdiri body guard yang selalu siap setiap saat menjaganya.
"Tuan Yang masuk ke tempat kuliner orang bawahan bukankah hal hebat nanti akan menjadi berita hot Line di semua televisi Indonesia dan jadi headline di berita on line. Kau akan dapat pencitraan yang baik dengan itu," sarkas Dee.
"Kau sudah kutemani masih saja mengejek," sungut Kane kesal. Jika bukan karena Dee minta untuk makan diluar dia tentu tidak mau kemari.
"Jika kau tidak nyaman aku pergi saja kembali ke mobil. Biar Emilio yang menemaniku. Aku lebih baik melihat wajah Emilio yang manusiawi daripada melihat wajahmu yang seperti papan tanpa ekspresi," ujar Dee masih kesal.
"Dee!" geram Kane kesal.
Dee lantas meletakkan piring berisi nasi itu di atas meja dan mulai makan tanpa sekalipun melihat ke arah Kane.
Bayi ini tahu jika ada ayahnya maka nafsu makannya bertambah tanpa Kane membuat dia enggan untuk makan. Rasanya perutnya begah setiap melihat makanan. Seperti bayi ini sudah tahu jika dia akan ikut ayahnya sehingga lebih suka berada dekat dengan Kane.
Dee merasa sedih.
"Bolehkah aku meminta satu porsi soto lagi?" tanya Dee pada Kane.
Kane dan Pak Jhon melirik ke atas tumpukan piring, dan gelas milik Dee. Ini adalah piring ke empat.
"Perutmu itu seperti karet yang bisa menghabiskan empat porsi makanan dan tiga gelas minuman, aku takut jika kau menambah lagi satu menu maka akan membuat anakku sesak bernafas karena banyaknya tumpukan makanan diperutmu," ujar Kane.
"Nak kau lihat, ayahmu itu pelit sekali hanya menambah satu porsi saja tidak diperbolehkan, tahu seperti itu dia tidak usah pura-pura mengajakku makan seperti ini, membuat ku ingin makan sesuatu lalu melarang. Apakah dia tidak tahu jika ibu hamil inginkan sesuatu harus dipenuhi jika tidak maka anak itu akan ileran."
"Ya, sudah kau pesan yang kau mau sampai kenyang. Kau jangan buat putraku membenciku dengan omonganmu itu," ujar Kane.
"Mereka tahu siapa ayahnya tanpa harus diberitahu," lanjut Dee senang karena diperbolehkan makan satu porsi soto lagi.
Tubuh Dee bau makanan dan keringat membuat Kane yang paling bersihan merasa risih. Dia lantas menyerahkan paper bag pada Dee.
"Kau ganti dulu di kamar mandi sekalian bau mulut bekas makan jengkol. Kalau tidak jalan sendiri pulang ke rumah!"
__ADS_1
"Ih, kau ini ada-ada saja masa gara-gara masalah sepele tega membiarkan aku jalan sendiri?"
"Makanya jika tidak mau cepat kau ganti bajumu sana!" usir Kane.
Dee lantas pergi ke toilet dengan kesal. Dia menikahi seorang pria tapi sifatnya yang bersihan membuatnya terlihat ribet dari pria pada umumnya. Tiba-tiba terbesit ide gila lagi dari Dee.
Setengah jam kemudian Kane merasa cemas karena tidak menemukan Dee di toilet.
"Cepat cari dia jangan sampai lolos," teriak Kane penuh emosi. Dia mulai berpikir jika Dee menggunakan ini untuk kabur darinya lagi membawa bayi dalam kandungan. Seharusnya dia tidak lengah dengan Dee dan tetap membuat wanita itu ada dalam penglihatannya setiap saat.
Rasa takut kehilangan mulai mencengkramnya. Dia takut jika Dee tidak bisa dia temukan lagi dan mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi.
Tidak ... tidak ... Dee harus dia temukan saat ini juga! Dia tidak boleh pergi dari hidupnya. Selamanya wanita itu tetap harus terikat olehnya.
"Dee jika aku menemukanmu, aku akan mengikatmu dua puluh empat jam di tempat tidur," geram Kane.
Tiba-tiba Emilio datang menghampiri. "Tuan, kata pelayan Nona Dee sudah kembali ke rumah dengan menggunakan Taksi."
"Dee kau memang minta dihukum!"
Kane membuka kamar Dee dan menemukan wanita itu sudah tidur pulas di kamarnya. Ada perasaan kesal, tapi rasa lega terasa dihatinya. Dia tidak mengira bisa sangat peduli dengan wanita itu.
Dengan gerakan yang sangat pelan dia menghampiri Dee, membenarkan selimut wanita itu dan mematikan lampu lalu pergi keluar dari kamar.
Dee yang memang belum tidur, membuka matanya. Sebuah senyum terbit di bibirnya. Dia kira Kane akan marah dan menghukumnya. Namun, ternyata dia tidak melakukan apapun malah bersikap manis. Dee kembali memejamkan mata dengan tersenyum.
Pagi harinya, Dee bangun dengan tubuh segar. Dia lantas membersihkan diri dan pergi ke dapur. Mencari sesuatu yang ingin dia masak dan makan.
Dee melihat apel lantas menggigitnya pelan sambil duduk. Seorang pelayan mendekati Dee.
"Nona Anda ingin makan apa?" tanya pelayan itu.
"Aku ingin ... ." Dee nampak berpikir dengan serius.
"Jangan katakan jika kau ingin jengkol lagi," potong Kane tiba-tiba. Dee terkejut lantas menoleh ke belakang dan melihat Kane sudah berdiri rapi dengan pakaian jas lengkapnya.
"Ide bagus. Aku tidak mau jengkol hanya kau buat ayam goreng dengan sambal terasi lantas jangan lupa petai rebus serta daun kemangi dan timun. Itu untuk makan malam ya."
"Ya, Tuhan. Bisakah makananmu elegan sedikit."
__ADS_1
"Hmm, itu adalah menu favoritku kau boleh coba nanti malam."
"Kenapa tidak sekarang saja."
"Itu tidak cocok untuk makan pagi sedangkan kau akan pulang nanti malam. Akan lebih enak jika makan bersama," ucap Dee tidak yakin.
"Baiklah, aku akan usahakan nanti malam pulang. Hanya saja kau harus benar-benar makan dan satu lagi jangan ada makanan dengan bau menyengat. Kau tahu aku sangat membenci itu."
"Baiklah."
Kane mulai membuatkan susu untuk Dee dan Dee mengamati dengan seksama. Kane lantas menarik tangan Dee duduk di meja makan.
Kane mengambil roti tawar. Mencelupkannya ke dalam susu lantas menyuapi Dee.
"Dulu, jika aku sedang sakit dan malas makan Pak Jhon selalu melakukan ini."
Dee melihat ke arah Pak Jhon sambil menerima suapan dari Kane.
"Tuan tidak akan makan apapun jika sedang sakit dan ketika aku melakukan itu, Tuan baru membuka mulutnya dan makan dengan lahap." Netra tua Pak Jhon nampak mengembun mengingat kejadian itu.
Kane tersenyum. Apa yang Kane lakukan membuat Dee bertanya dalam hati sebenarnya apa yang terjadi pada Kane kecil sehingga hidupnya hanya berkisar tentang Pak Jhon saja tidak ada cerita tentang keluarga yang lainnya.
Tanpa terasa susu di gelas itu telah habis.
"Lihat, anakku saja sudah mulai mengikuti apa yang Ayahnya sukai. Dia memang anakku," ucap Kane bangga. Dee mencibir.
"Tapi aku tidak akan memanjakannya nanti."
"Hm kau tidak boleh memarahinya. Aku tidak akan terima itu sampai kapan pun."
"Anak harus belajar tentang kerasnya hidup agar kuat ketika dewasa."
"Tapi seorang anak pun butuh dicintai dan di sayangi serta mendapatkan perlakuan yang lembut dari orang tuanya."
"Jika seperti itu maka dia akan menjadi anak manja." Kane mulai makan sarapannya.
"Masa kanak-kanak itu tidak akan terulang lagi jadi sebagai orang tua kita harus bisa membuat mereka bahagia." Dee menggigit lidahnya sendiri ketika salah berucap. "Maksudku kau seharusnya bisa membuat dia bahagia dengan kehadiranmu."
Dee nampak sedih karena dia tidak akan bisa memiliki anak ini nanti.
__ADS_1