Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 66 Ayah dan Anak


__ADS_3

Sakit yang Kane rasakan tatkala menatap kemesraan Dee dan Rizky. Tangannya mengepal keras dan netranya sudah memerah kini.


Dia memalingkan wajah ke samping dan menghela nafas berat. Tanpa sengaja rambut panjang Dee yang tergerai indah mengenai wajahnya, menyebabkan aroma yang selama ini dia rindukan.


"Dee," panggilnya lirih tanpa suara.


Namun, Dee seperti mendengar seseorang memanggilnya. Ketika dia akan menoleh, pintu lift mulai terbuka, Rizky menggiring tubuhnya keluar dari ruangan itu.


Tangan Kane seakan ingin meraihnya namun yang ada udara saja. Dadanya semakin terasa sesak.


Kane mengikuti keluarga kecil itu dari belakang dengan pelan. Sedangkan Rosemary menggandeng Kane dengan mesra, seperti ingin memperlihatkan pada semua orang jika dia adalah orang yang paling dekat dengan Kane saat ini. Kane ini miliknya, tidak ada yang boleh memilikinya.


Langkah Kane dihentikan oleh seseorang, dia adalah pengada acara ini berlangsung.


"Selamat datang Tuan Kane Yang," sapa pria asli Papua itu.


Jarak Kane dan Dee semakin menjauh membuat dia hanya bisa menatap sedih wanita itu. Kenapa cinta yang sudah lima tahun ini coba dia lupakan tidak bisa pergi dengan mudah. Kane benci dengan perasaan ini. Membuatnya lemah.


"Kita duduk di sana saja," ajak Rizky pada Dee dan Jason. Tiba-tiba gerombolan teman kerja Rizky mendekat. Mereka menyapa dan meminta berkenalan pada Dee.


"Eh, Rizky? Ini istri dan anakmu?"


" Kenapa tidak bilang jika kau sudah menikah?"


"Wah ternyata istrimu sangat cantik ya?"


Rizky mengenalkan Dee dan Jason dengan bangga pada teman-temannya. Dee pun tidak merasa keberatan karena hal ini bisa menolongnya dari pemberitaan buruk jika dia punya anak tanpa ayah. Selain itu, Jason juga nampaknya tidak keberatan.


Melihat Jason yang sudah mulai bosan dengan basa basi itu Risky mengajak Dee dan Jason ke sudut ruangan dimana ada sofa besar yang kosong mereka duduk di sana.


Setelah itu, Rizky mengambilkan minuman dan makanan mereka, melayani semua yang Dee dan Jason perlukan. Dee merasa menjadi istimewa jika di dekat Rizky. Pria itu selalu menganggapnya hal paling penting bagi hidupnya.


"Coba makan ini, Jason," kata Rizky pada calon anak sambungnya.


"Apa ini?" tanya Jason ketika melihat bentuk makanan ini.


"Ini namanya kue lontar, manis dan lembut kau pasti akan suka," kata Rizky mengenalkan kue itu pada Jason. Jason mulai menggigit kue yang ada di tangan Rizky.


"Enak Pa eh Ayah Iky," kata Jason. Rizky tersenyum senang karena pada akhirnya Jason sudah menganggapnya sebagai Ayah. Semoga ini memudahkannya untuk bisa bersanding dengan Dee secepatnya.


Dee sendiri merasa terharu dengan kedekatan Rizky dan Jason. Seharusnya dia senang dengan hal ini, namun dia malah sedih. Seharusnya Kane yang ada di sini. Akh Kane.

__ADS_1


Dee menutup matanya sedih mengingat kembali pria itu.


Pria yang sudah lama dia lupakan kenapa kembali lagi dalam ingatannya. Tidak bisa hilang walau sudah melukai terlalu dalam.


Dia merasa Kane begitu dekat dengannya sekarang. Dia bahkan bisa merasakan getarannya di sini. Tapi tidak mungkin kan? Kane sudah ada di luar negeri dan dia di Papua. Ini sangat aneh jika mereka bisa bertemu kembali sekarang.


Dee tersenyum getir sambil menyeka air mata yang sempat keluar sedikit.


"Dee kau kenapa?" tanya Rizky.


"Aku hanya terharu dengan kebersamaan kalian," ucap Dee berbohong. Rizky tersenyum lebar. Membelai pucuk rambut Dee dengan lembut.


Jason yang melihat itu tersenyum malu sendiri. "Ih, Ayah Iky pacaran dengan Ibu," ledeknya.


"Tahu apa tentang pacaran anak kecil?" Rizky menggelitiki Jason. Jason terkekeh karena geli.


Sedangkan di sudut lain Kane sedang menatap ketiga orang itu dengan perasaan iri, cemburu dan benci. Amarahnya memuncak ketika melihat tangan Rizky menyentuh rambut Dee.


Ingatannya kembali ketika dia sering mengeringkan rambut Dee dengan tangannya dan merapikannya. Matanya memerah dan berkabut. Tangannya yang sedang memegang gelas menegang, dan....


Pyak!


Gelas itu pecah ditangannya. Pecahan tajam kaca itu sempat melukai telapak tangannya. Membuat darah mulai menetes dan mengenai pecahan gelas kaca.


Rosemary menutup mulutnya karena terkejut. Dia ingin meraih tangan Kane yang mulai mengeluarkan darah tapi Kane menarik tangan itu terlebih dahulu.


"Hei, kalian cepat bersihkan ini," ucap penanggung acara.


"Saya akan ambilkan Anda obat, Tuan." tawar seseorang. Bagaimanapun Kane adalah orang penting yang akan membangun banyak jalan di daerah ini. Jadi semua orang mencemaskan lukanya. Namun, Kane sendiri tidak perlu itu karena luka di hatinya lebih dalam dari luka ini


"Tidak perlu," ujar Kane bergegas pergi ke toilet.


Oleh karena kebanyakan minuman sari buah, Jason merasa ingin kencing. Namun, Rizky tidak ada di sana karena harus menemui atasannya.


"Mama, aku ingin ke toilet," ujar Jason.


"Biar mama antar," kata Dee bangkit.


"Mama, mana bisa itu adalah toilet pria. Bisa-bisa mama dibilang mau mengintip pria-pria kencing," ujar Jason membuat Dee melebarkan matanya. Dia melihat ke sekitar, untung saja tidak ada yang mendengarnya.


''Anak ini!" gumamnya lirih

__ADS_1


Jason langsung lari ke toilet. "Sayang memang kamu tahu dimana toiletnya?" tanya Dee setengah berteriak.


"Aku pria sejati masa tidak tahu dimana toilet," jawab Jason tidak melihat ke belakang Dee menggelengkan kepalanya.


Dee hendak membalikkan tubuhnya ketika tanpa sengaja menabrak seorang wanita.


"Maaf!" ucap Dee membenarkan topengnya yang hampir jatuh.


"Ih!" ujar wanita itu sebal. Rosemary menepis bajunya, seakan kotor setelah bersentuhan dengan Dee. Lalu meninggalkan Dee begitu saja.


Dee seperti mengenal wanita itu. Namun, sepertinya dia salah mengenal. Mungkin mirip. Mereka tidak saling mengenal karena memakai topeng. Ini adalah pesta topeng dan semua orang memakainya.


Air mengaliri tangan Kane yang terluka dia mengamati tampilan dirinya yang nampak menyedihkan karena efek semua yang baru dia lihat. Dia shock dan terguncang.


Di saat dia sedang merenung tiba-tiba pintu terbuka dan Kane melibat dari tampilan cermin seorang anak memakai baju spiderman dan topengnya juga.


Anak itu memegang celananya. Nampak kebingungan.


"Aduh bagaimana ini? Kalau ngompol, malu, ih, akh," ucap anak itu dengan tingkah dan ekspresi yang lucu. Rambut panjangnya sedikit menyembul dari balik topengnya.


'Bukankah itu anak Dee?'


Kane sebenarnya ingin cuek dan tidak memperdulikan tapi anak itu kelihatan kesulitan melepaskan sabuk di celananya.


"Perlu bantuan, anak kecil?"


"Tidak, aku bisa sendiri," ucap Jason dengan nada sombongnya. Kane mengangkat satu alisnya ke atas. Membasahi wajahnya dengan air. Setelah itu dia mengambil sapu tangan dan mengikat tangannya yang terluka dengan sapu tangan itu.


Dia lalu melihat anak itu yang menahan tangis. Melihat ke arahnya.


"Mau kubantu tidak?" tanya Kane sekali lagi.


Kenapa dia harus membantu seorang anak kecil. Pada Jesper saja dia tidak pernah mau melakukannya? Apa karena dia anak Dee?


Dengan malu-malu Jason mengangguk.


"Makanya jadi anak kecil jangan sombong. Kau itu tidak bisa-bisa apapun tanpa orang dewasa!" ucap Kane tidak enak didengar.


Jason yang mendengar tersinggung dibuatnya. Namun, dia tidak bisa membalas perkataan Kane karena dia butuh pria itu untuk menolongnya.


Kane tiba-tiba ingin ikut buang air kecil. Dia melirik ketika akan membuka celananya.

__ADS_1


"Kenapa lagi? Kau tidak sampai?" tanya Kane tahu jika Jason tidak bisa buang air karena toilet yang menempel di dinding terlalu tinggi untuknya.


__ADS_2