Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab.106 Tugas Terakhir


__ADS_3

Dee melirik tajam pada Kane.


"Aku tidak memanjakannya hanya memberikan semua cintaku untuknya karena ketika kami bersama hanya dia yang ku miliki," tandas Dee.


"Kau bisa lihat dia tumbuh dengan baik, tidak kekurangan satu apapun. Pipinya berisi dan tubuhnya gembul, seharusnya kau bersyukur punya anak seperti itu bukannya terus memarahi."


Jason mengangguk sambil menatap senang pada mamanya karena telah dibela. "Mama memang terbaik." Lalu memeluk Dee.


"Kau juga jangan senang dulu, berkali-kali Mama sudah bilang makan yang sopan! Jangan buat malu mama karena mu Papa mempertanyakan," bentak Dee membuat semua terkejut.


"Maaf Mama, Jason akan jadi anak yang baik."


"Kau memarahinya," ujar Kane.


"Aku hanya menasihati, bukan memarahi." Dee meneruskan makan makanan di depannya.


Kane menghela nafas. "Kau marah ketika aku memarahi tetapi kau melakukan hal sama."


"Aku yang melahirkan mereka dan aku juga merawat anakku dengan baik. Aku tidak suka jika anakku di marahi oleh orang lain, termasuk itu kau."


"Hanya kau yang boleh?"


"Cara ibu memarahi dengan ayah berbeda. Kau bisa lihat ketika kau marah malah anak-anak takut tapi jika ibu yang mengatakannya mereka akan mendengarnya sebagai nasihat. Bukan begitu anak-anak?" bantah Dee.


Jesper dan Jason mengangguk.


"Tapi kau ...." ucapan Kane dipotong oleh Jesper.


"Ayah, jangan bertengkar dengan perempuan karena kau hanya kalah saja," terang Jesper.


Kane mendengus kesal. Lantas mereka kembali makan.


"Kakek Jhon mau tambah daun singkongnya?" tanya Dee yang melihat Kakek Jhon menunduk dan makan dengan lahap.

__ADS_1


"Ini tidak selezat masakan istriku, tapi bisa mengobati rinduku padanya." Kakek Jhon mengangkat wajahnya dan menatap Dee. Ternyata netranya telah basah sedari tadi.


"Terimakasih, Dee. Mungkin sebentar lagi aku bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan anak dan istriku di surga. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka."


"Ayah, jangan mengatakan hal itu lagi, kau akan berumur panjang dan menemani kami hingga anakku dewasa," sanggah Kane.


"Tugasku sudah selesai ketika melihat kau bisa bahagia bersama dengan keluargamu, Kane." Kane ingin menyela tapi Kakek Jhon menggelengkan kepala.


"Kane, Jesper benar. Percuma kau bertengkar dengan istrimu karena kau hanya akan kalah. Jika pun menang, kau malah akan melihat wajah istrimu yang ditekuk. Bukankah itu sama saja suatu kekalahan."


"Kakek benar," seru Jason sambil bertepuk tangan. "Hidup Mama!" Jason berdiri di kursinya. Melompat-lompat dan hampir jatuh. Untung saja Dee memeganginya.


"Jason!" teriak semua orang kesal.


Setelah makan malam selesai. Kakek Jhon dibantu oleh Kane kembali ke kamarnya. Dia berbaring di dipan kayu lama miliknya. Semua barang di ruangannya adalah barang kuno yang dulunya sengaja di bawa oleh Pak Jhon dari rumah lamanya ke rumah baru Kane.


Dia tidak ingin berpisah dari semua kenangannya dengan istri dan putranya.


"Iya," kata Kane menatap Pak Jhon. Entah mengapa dia ingin berada di dekat pria itu terus. "Istirahatlah dengan baik karena Ayah butuh itu."


"Ayah mu ini akan istirahat dengan tenang sekarang karena kau sudah bersama dengan keluargamu lagi."


Kane tersenyum sedih.


"Ayah aku sangat menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu lebih dari diriku sendiri. Aku bangga bisa bertemu dengan kau dan melihatmu seperti ini."


Nafas Kane sesak jika mengingat awal pertama kali mereka bertemu. Awal pertama kali Kane mengenal cinta dari manusia lain dan awal dari kehidupannya yang baru itu semua karena Kakek Jhon.


Dia memeluk Kakek Jhon erat dan menangis. Pak Jhon ikut menangis.


"Kau sudah punya anak dua masih menangis seperti ini. Padahal dulu kau tidak pernah meneteskan air mata sedikitpun." Kakek Jhon menepuk bahu Kane. Dia lalu terbatuk kecil dan Kane melepaskan pelukannya dan memberi air minum.

__ADS_1


"Temui istrimu. Kau merindukan dia kan? Aku mau tidur dan tidak ingin diganggu," usir Kakek Jhon.


Langkah Kane terasa berat ketika hendak keluar dari kamar itu. Dia lantas membalikkan tubuh melihat pria tua di depannya mematikan lampu lantas berbaring miring memunggunginya.


Kane keluar kamar dan menutup pintu. Menatap ke atas sambil membuang nafas untuk melegakan dadanya yang sesak. Kane pergi ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, dia tidak menemukan Dee ada di dalam. Biasanya wanita itu akan membacakan cerita untuk anaknya.


Kane lantas membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan masih tidak melihat Dee ada di kamarnya.


Kane memutuskan untuk melihat ke kamar kembar. Di dalam Dee sudah terlelap memeluk kedua anak mereka yang ada di kanan dan kirinya.


Pak Jhon benar jika kebahagiaan seseorang itu ada di dalam keluarganya. Hati Kane terasa menghangat dan damai. Dia mendekat ke tempat tidur mencium Jesper dan Jason bergantian. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Dia lalu mengangkat tubuh Dee dari tubuh kecil kedua anaknya. Lalu membawa keluar kamar. Jesper yang belum tidur tersenyum senang ketika membuka mata dan melihat semuanya. Dia kembali menutup matanya.


Kening Dee berkerut ketika merasa tubuh nya melayang. Dia mencium bau harum Citrus milik Kane yang khas ada di dekatnya. Menghirupnya lalu memasukkan kepalanya jauh lebih dalam ke pelukan Kane.


Kane membaringkan Dee dengan hati-hati di tempat tidur. Lalu ikut berbaring di sisi Dee dan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut. Tangannya memegang remot dan mengaturnya ke pengaturan pada suhu terendah.


Dee mulai menggigil kedinginan, mencari kehangatan dalam diri Kane. Kaki dan tangan mendekap Kane. "Jason, dingin sekali. Sini, tidur dalam dekapan Mama."


Lagi-lagi hanya Jason saja yang ada di pikiran Dee. Kane lantas menjepit hidung Dee dengan tangannya.


Dee menepis tangan Kane. "Jason, kau jahil sekali. Mama lelah mau tidur."


Bibir Dee yang merah terus bergerak membuat Kane rindu untuk merasakannya lagi. Dia lantas mencium bibir itu dan ********** dalam.


Dee mulai membuka matanya lebar dan terkejut ketika melihat Kane ada di depan matanya. Dia tidak sempat membuat pertahankan diri ketika Kane menyerangnya dengan liar.


Percikan api mulai keluar dari keduanya. Rasa rindu yang ada di dalam dada selama ini kini mulai mereka ungkapkan melalui sentuhan yang menggebu. Jika awal dulu semua tergesa-gesa dan sakit. Kini awal baru mereka dimulai dengan tergesa-gesa dan nikmat.


Mereka lebih memilih untuk merasakan kenikmatan duniawi yang membuat raga dan pikiran melayang. Kane seperti kuda liar dan sulit untuk dikendalikan. Terus membawa Dee berlari melewati malam panas mereka dengan jeritan dan erangan yang memuaskan dahaga mereka.

__ADS_1


__ADS_2