Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 37 Jangan khianati aku


__ADS_3

"Steve, aku pikir kau tidak akan mencari masalah denganku kan? Jika tidak kau akan tahu sendiri akibatnya."


"Tuan Yang, aku bukan mencari masalah denganmu, hanya saja jika ada orang minta bantuan apalagi jika itu tetangga sendiri, aku pasti akan menolongnya. Begitu kan? Nona Dee."


"Kau benar, tapi sayangnya saat ini saya belum ingin meminta bantuan Anda. Mungkin lain kali," jawab Dee. Wajah Kane sudah merah padam menatap tajam ke arah Dee.


Sedangkan Steven sendiri tertawa keras. "Baiklah, aku akan menunggu kau minta bantuan lagi pastinya ketika tidak ada lagi yang akan membantumu."


Kane mendorong sedikit kasar Dee ke dalam mobil. Dia lalu sempat melirik tajam ke arah Steven yang mengulurkan segelas jus jeruk di tangannya lalu berlenggang masuk lagi ke dalam rumah.


"Apa maksudmu Dee?" tanya Kane setelah mobil yang mereka naiki keluar dari pintu gerbang.


"Tidak ada hanya saja menegaskan padamu agar kau juga jangan berbuat seenaknya padaku karena diluar sana banyak orang yang dengan senang membantuku lari darimu," jawab Dee tenang.


Kane menginjak rem tiba-tiba. Baru kali ini ada yang berani untuk melawannya dan itu adalah istrinya sendiri.


Dia baru mau mengatakan sesuatu ketika Dee lebih dulu mengutarakan pikirannya.


"Jika kau mau bertengkar, sebaiknya putar balik ke rumah, tapi jika kau ingin kita bersenang-senang seharian maka ajak aku ke tempat yang bagus. Jangan mall karena aku tidak suka tempat ramai. Aku lebih suka jika kau membawaku ke pantai, sudah lama aku tidak kesana."


Kane menghirup nafas sebanyak-banyaknya mengurangi emosi yang sudah memenuhi dada.


"Bertengkar atau baikan, bertengkar saja, tapi kalau baikan bisa jalan-jalan," Dee melirik ke arah Kane.


Wajah Kane yang menegang berubah melembutkan. Dia tersenyum sedikit, memasukkan tangannya ke sela rambut Dee.


"Pantai kau ingin ke pantai?" tanya Kane. Dee mengangguk.


"Baiklah, kita ke pantai."


Mereka akhirnya kembali melajukan kendaraannya. Di tengah jalan berkali-kali Dee menghentikan kendaraan jika melihat makanan yang dia sukai. Sampai mobil Kane yang bersih kini penuh dengan makanan dan juga bungkusnya.


Kane yang terkena penyakit Mysophobia mulai merasa jengkel karena Dee mengotori mobilnya.


"Kenapa kau risih?" tanya Dee yang mengerti arti lirikan Kane.


Kane mengusap tengkuknya.


Dee memegang burger di satu tangan dan tangan yang lainnya memegang segelas minuman boba. Nafsu makan Dee mulai naik akhir-akhir ini. Mungkin karena mengandung bayi kembar di perutnya.


Terakhir mereka memeriksakan kandungan. Mereka baru mengetahui jika janinnya ternyata lelaki sedangkan yang satunya belum diketahui.


"Aku biasanya akan marah bila ada kotoran sedikit saja di mobil atau apapun yang ada di sekitarku. Hanya saja, melihatmu membuatku malah merasa lucu. Pipimu sudah mulai membesar dan dagumu sudah ada dua. Tidak seperti satu bulan lalu. Kau terlihat sangat kurus."


"Syukurlah kau mengerti keadaan ibu hamil ini."

__ADS_1


"Kau mau? Ini enak lho?" Dee mendekatkan gelas minuman ke Kane.


"Minuman apa ini?"


"Boba, ini enak. Coba sih," bujuk Dee. Kane yang tidak terbiasa berbagi dengan yang lainnya akhirnya mau menerima minuman itu.


Dia menyedot pelan dan butiran boba masuk ke mulutnya.


"Wow, apa ini? Kenyal?"


"Manis dan legit seperti aku," kata Dee.


"Sungguh? Aku jadi ingin merasakan manismu lagi. Bagaimana jika kita nanti menginap di hotel?"


"Terserah padamu," ujar Dee.


Kane menghentikan mobilnya di dermaga, di sana mereka naik sebuah kapal pribadi menuju ke pantai pasir putih pulau seribu.


Dia memeluk Dee sewaktu kapal mulai berjalan membelah lautan. Berdiri di atas dek kapal menyaksikan burung-burung bertebaran di atas langit biru yang cerah. Terkadang burung itu hinggap di atas kapal.


Kane mengambil gambar mereka berdua dengan berbagai pose.


"Dee lihat itu," kata Kane menunjuk sekumpul ikan lumba-lumba yang berenang di sekitar kapal.


"Itu, apakah tidak berbahaya?" tanya Dee mengeratkan pelukannya pada Kane.


"Itu lumba-lumba bukan ikan pedofil."


"Oh." Dee lantas mengamati lumba-lumba itu.


"Apa kau belum pernah menyeberang lautan?" Dee menggelengkan kepala.


"Berarti ini pertama kali kau naik kapal dan melihat lautan?"


Dee mengiyakan.


Kane yang sedang memeluk Dee dari belakang lalu meletakkan kepalanya di bahu Dee.


"Kalau begitu, izinkan aku menjadi yang pertama bagimu soal apapun. Kau bisa meminta apa yang ingin kau lihat atau miliki," bisik Kane.


Tangan Dee menyentuh pipi Kane yang halus dan putih. Mengusapnya lembut. Kane senang dengan perubahan sikap Dee yang mulai menghangat. Mulai membuka hatinya.


Kane merasa dunianya kini telah lengkap. Ada orang yang bisa dia kasihi dan dua calon anak yang nantinya akan memanggilnya ayah.


Dee berjalan dengan kaki telanjang diatas pasir putih yang hangat. Dia tertawa lepas ketika kakinya terkena air laut. Berjalan lebih jauh lagi ke laut. Kane mengikutinya.

__ADS_1


Ketika ada ombak besar, Kane langsung memegang tubuh Dee dan mereka terkena ombak itu hingga jatuh ke tanah yang basah.


Tubuh Dee ada di atas tubuh Kane. Mereka saling menatap. Tangan Kane menyentuh bibir Dee.


"Kane kita di tempat umum," kata Dee melihat ke arah orang-orang yang seperti melihat ke arah mereka.


''Biarkan saja," ujar Kane. Dee memukul lengan Kane kuat.


Dee turun ke samping. Kane bangkit dan mengulurkan tangan pada Dee. Mereka berjalan di pinggir pantai.


"Kita tidak bawa baju ganti," ujar Dee.


"Kita beli nanti. Kau lapar tidak? Jika lapar kita bisa makan di salah satu restoran terdekat."


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku ikut," kata Dee.


"Nah, begitu baru manis." Kane menyentil hidung Dee.


"Mereka lantas membeli baju di gerai toko sekitar pantai. Langsung mengganti pakaian mereka yang basah dengan yang baru.


Setelah itu mereka makan di rumah makan yang menghadap langsung ke pantai.


"Katanya dua ratus meter dari lokasi ini ada resort mewah."


"Apa harus mewah?" tanggap Dee.


"Kita harus cari tempat yang nyaman untuk kau tinggal."


"Aku nyaman tinggal di manapun,"


"Namun, seorang lelaki yang baik akan memastikan pasangannya nyaman di manapun dia berada."


"Kane, apakah kau merasa senang bersamaku? Apakah kau tidak akan menyesal suatu hari nanti karena memilih wanita miskin seperti diriku?" tanya Dee.


"Menurutmu bagaimana? Apakah aku senang atau tidak?"


Dee mencebikkan bibirnya yang mungil dan merah itu.


"Aku bertanya malah di jawab dengan pertanyaan lainnya."


"Baiklah aku jawab. Aku baru pernah merasakan hal seperti ini. Seperti memiliki keluarga yang bahagia. Dalam hatiku aku takut jika ini akan berakhir suatu saat nanti."


"Tidak jika kau tetap baik seperti ini, tapi jika kau masih sama dengan pria yang mengontrakku dulu, maka aku akan berbalik membencimu dan akan meninggalkanmu!"


"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak memulainya. Satu lagi, jika kau khianati aku sedikit saja, tidak akan pernah memaafkanmu!"

__ADS_1


__ADS_2