
Kane berjalan ke arah kamar anaknya dan membuka pelan. Di saat itu, dia tidak menemukan Dee ada di dalam.
Dahinya berkerut, Kane lantas pergi ke lantai bawah sambil menengok ke penjuru arah, tapi dia tidak menemukan Dee.
Baru saja dia melihat Dee ada masih ada di dalam kamar anak-anak dan dia tinggal masuk ke kamarnya sendiri sebentar hanya untuk mengambil handphone. Namun, Dee sudah pergi.
"Kau cari siapa Kane?" tanya Pak Jhon.
"Dee, dia sudah tidak ada di kamar anak-anak. Apa dia sudah pergi?" ucap Kane kecewa.
"Saya tidak melihatnya, Tuan. Saya akan tanyakan pada penjaga gerbang bila diperlukan."
"Biar aku sendiri saja," ujar Kane berjalan keluar.
Pak Jhon menatap sedih pada Kane.
Kane lantas pergi ke gerbang, bertanya pada penjaga.
"Apakah kalian melihat, Nyonya kalian keluar dari sini?"
"Iya Tuan, dia sudah pulang dengan seorang pria yang menjemputnya."
Dada Kane terasa seperti dipukul oleh benda keras. Sulit untuk bernafas. Baru saja Dee mengatakan jika dia harus percaya padanya, lagi-lagi dia dikecewakan.
Dia memang marah pada Dee, tapi dia juga tidak ikhlas Dee pergi apalagi sampai dimiliki pria lain.
"Oh, baiklah kalau begitu," ujar Kane lesu. Dia lantas pergi masuk ke dalam rumah.
Ketika Kane sudah masuk ke dalam rumah seseorang keluar dari tempat persembunyian.
"Sudah aman?" tanya pria itu sambil membawa tubuh Dee.
"Ya," ujar penjaga lalu membantu membawa Dee keluar pintu samping gerbang.
Di depan sudah ada sebuah mobil minibus yang menjemput dan Dee dibawa masuk ke dalamnya.
***
Dua hari Dee tanpa kabar membuat Emilio cemas. Dia lantas pergi ke sekolah kembar.
"Paman Emilio, Paman mau jemput Jason kan? Jason rindu Mama, mau pulang saja. Hu... Hu... Mama meninggalkan aku di rumah Papah," adu Jason pada Emilio. Anak kecil itu menangis dan memeluk Pamannya.
__ADS_1
"Kau pasti, Jesper," ujar Emilio menatap ke anak kecil yang mirip dengan Jason.
"Iya, Paman."
"Jason, kamu di rumah Papah dulu ya. Nanti Paman dan Mama akan ke sana menengok kalian. Mama kalian sedang sibuk mengurus pekerjaan jadi tidak bisa bertemu dengan kalian untuk sementara."
"Aku mau Mama saja," isak Jason.
"Kau dengarkan apa yang Paman ini katakan. Kita harus menunggu Mama datang. Jika sudah datang Mama pasti akan menjemput kita pulang ke rumahnya. Kita bujuk Mama saja biar tinggal di rumah Papa."
Emilio mengangguk. Dalam hatinya merasa cemas mencari keberadaan adiknya. Dee tidak bersama kembar, lalu dimana dia?
Apakah mungkin Kane menculik Dee dan menyekapnya? Atau...? Sebelum dia melakukan sesuatu, lebih baik dia memastikan diri dulu, bertanya pada Kane.
"Paman harus kembali bekerja. Jason, kau bersama kakakmu, ya. Baik-baik di rumah Papa Kane. Jangan buat nakal."
"Jesper, Paman tahu kau anak yang baik dan bijaksana. Jaga adikmu dengan baik ya." Emilio mencium pucuk kepala dua anak itu sebelum pergi meninggalkan mereka di taman kanak-kanak.
Emilio langsung mengarahkan kendaraannya ke kantor Taeyang corp. Sesampainya di sana dia langsung mendatangi resepsionis.
"Pak, mau bertemu dengan siapa?" tanya resepsionis itu sambil tersenyum manis pada Emilio. Dia terpana dengan wajah tampan Emilio dan pesona yang keluar dari dalam dirinya.
"Aku mau bertemu dengan Kane Alexander Yang, Presiden Direktur perusahaan ini."
"Kau coba hubungi dia, katakan jika Emilio kakak iparnya ingin bertemu!" ujar Emilio tidak sabar.
"Tunggu sebentar, Pak," ujar wanita itu.
Wanita itu mencebik. Dia lantas menghubungi sekretaris Kane. Dalam hati wanita itu kecewa karena senyumnya tidak diperhatikan sama sekali oleh pria didepannya. Ternyata pria yang tampan ini galak sekali.
Ternyata dia kakak dari penjaga cafe sebelah. Berarti benar rumor yang ada jika Pak Kane aslinya sudah menikah dengan penjaga Cafe itu.
"Pak, Anda sudah ditunggu di ruang Presdir."
Emilio langsung pergi begitu saja membuat si resepsionis menekuk wajahnya. Ganteng dan gagah sayang galak dan sombong.
"Pak, Tuan Emilio sudah datang."
"Suruh dia masuk!" ujar Kane menutup map.
Emilio langsung masuk dengan diantar oleh sekretarisnya.
__ADS_1
"Kau boleh pergi," kata Kane pada sekretaris.
"Angin apa yang membawa Kakak Ipar sampai datang kemari? Apakah kau keberatan aku mengambil Jason dan ingin merebutnya kembali?" tanya Kane dengan tangan yang disatukan di depan.
"Aku bukan orang yang suka basa-basi. Aku hanya mau bertanya padamu, dimana kau sembunyikan Dee?"
Kane mengernyit, bangkit. "Apa kau bercanda? Atau sedang mengujiku!"
Tangan Emilio mencengkeram kerah leher Kane. Wajahnya nampak menyeramkan dan penuh kemarahan.
"Kau tahu aku tidak pernah bermain-main. Katakan dimana Dee! Jika kau menyembunyikannya dan terjadi apa-apa dengannya aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" murka Emilio.
"Aku tidak tahu, yang kutahu Dee sudah pergi dari rumahku dua hari yang lalu, pada malam itu...." Kane teringat jika Dee tiba-tiba menghilang.
"Dee tidak bersamamu?" tanya Kane balik, bingung.
"Untuk apa aku bertanya padamu jika Dee bersamaku!" ungkap Emilio marah.
"Sial! Kalian bermain teka-teki bersamaku dan ... sebenarnya apa yang terjadi lima tahun yang lalu? Apakah ini ada hubungan dengan menghilangnya Dee?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!" kata Emilio hendak pergi tapi dicegah oleh Kane.
"Aku akan membantu mencari Dee," kata Kane. "Jika Dee sudah ketemu, ceritakan semuanya padaku."
"Jika Dee dalam keadaan baik-baik saja dan dia masih hidup!" ujar Emilio.
Wajah Kane memucat seketika. "Ikuti aku!" ujar Kane. Emilio lantas mengikuti Kane.
Mereka menuju ke kediaman Kane. "Katamu Dee tidak bersamamu? Apa kau sedang menipuku?"
"Diamlah, pernahkah aku menipumu. Kau itu mantan bawahanku, sudah tentu paham dengan sifatku."
Emilio terdiam. Kane lantas mengajak Emilio masuk ke dalam sebuah ruang CCTV. Di sana ada seorang pria dengan tubuh terikat di sebuah kursi.
"Tuan," sapa pengawal kepercayaan Kane, Darren.
"Pak Emilio!" pria itu memberi hormat dengan mengangkat tangan ke alis pada mantan atasannya dulu sewaktu mereka bekerja di TNI dan setelahnya bekerja bersama dengan Kane.
"Patrik, kau masih betah di sini," ejek Emilio. Patrik hanya tersenyum masam.
"Tuan semua CCTV sudah saya cek. Sebagian besar memang sudah diganti tapi CCTV yang terdapat diluar kamar Tuan masih aman. Seseorang menyergap Nyonya ketika keluar dari kamar," terang Patrik.
__ADS_1
Kane langsung melihat rekaman itu. Wajahnya menggelap seketika ketika Dee dibekap dan diseret keluar dari lorong.
Kane mendekat ke arah penjaga itu. Patrik menyerahkan sarung tangan pada Kane. Pria itu lantas memegang dagu penjaga gerbang itu dengan keras. Penuh kemarahan.