Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 108 Janji yang dipertanyakan


__ADS_3

Kan lalu duduk lemas di sofa kamar. Dee duduk di sampingnya. Dia menyerahkan secangkir teh hangat pada suaminya.


Teh diterima oleh Kane minumnya sambil mengingat hal-hal yang pernah lewat bersama Pak John. Dadanya terasa sakit, separuh hatinya terasa telah pergi dengan kepergian Pak John untuk selamanya. Pria yang selama ini selalu melindunginya memberinya kasih sayang dan cinta dan menemani setiap saat telah berpulang untuk selamanya.


Kane merasa patah hati. Dia bingung harus melakukan apa pegangan hidup dunia seakan telah pergi.


Dia meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


"Ikhlaskan dia, suamiku, Pak Jhon sudah menemukan kebahagiaan dan ketenangannya bersama dengan keluarga yang dia rindukan," ucap Dee lembut sambil menyentuh wajah suaminya.


Kane lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Dee. "Aku bahkan belum pernah membahagiakannya sama sekali. Belum bisa membalas semua kebaikannya."


"Dia bahagia jika melihat kau bahagia. Dia tidak ingin dibalas hanya ingin dihargai dan kau telah memberikan semua yang dia inginkan. Sebuah pengakuan jika kau menganggapnya seorang Ayah. Hanya itu yang dia inginkan. Dia pun mendapatkan cintamu dan Jesper selama ini. Jadi kau sudah melakukan yang terbaik untuknya dengan selalu menjadi anak yang baik, menuruti semua yang dia katakan," jelas Dee panjang lebar.


Perkataan Dee membuat hati Ken merasa sedikit lebih tenang. Dia membalikkan posisi tubuh dan menatap Dee.


"Terima kasih," ujarnya dengan tersenyum indah.


Kane bangkit lantas menghela nafas.


"Tugasmu sekarang adalah membuat pemakaman yang indah untuk Ayahmu."


"Kau benar."


"Berbuat baik tidak hanya dilakukan ketika dia hidup saja, tapi juga ketika sudah tiada kau bisa mengiriminya doa membuat sedekah untuknya yang dibagikan pada orang miskin."


Kane mengusap kepala Dee dengan lembut lantas mencium dahinya.


Dia bangkit hendak keluar kamar ketika Dee memanggil.


"Ada apa lagi?"


"Kau tampan dengan baju Koko itu," ungkap Dee.


"Aku selalu terlihat tampan dengan pakaian apapun."


Ketika hujan turun dari tangga dia melihat park Yang dan istrinya, sudah ada di bawah dengan para tamu yang akan menghadiri acara pemakaman Pak Jhon.


Tangannya mengepal keras tidak suka kehadiran pria tua itu ke dalam rumah, setelah apa yang dia perbuat pada keluarganya. Apalagi melihat Cindy dia ingin segera menendangnya keluar dari halaman rumah ini tapi ini bukan saat yang tepat untuk melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


Suara tongkat terdengar membuat semua orang melihat Park Yang yang sedang berjalan mendekat ke arah Kane.


"Kau tidak mengabariku tentang kematian Pak Jhon?"


"Aku tak sempat," jawab Kane dingin sambil memalingkan ke arah lain. Dia lantas berjalan melewati ayahnya begitu saja. Para tamu mengucapkan bela sungkawanya.


"Ayah mertua," sapa Dee ketika turun dan mendapati pria itu duduk dengan muka ditekuk menatap ke arah Kane.


"Kau." Hanya itu tanggapan pria itu, sama dinginnya seperti Kane.


Dee mengambil tangan mertuanya dan mencium punggung tangan. Dia ke arah Cindy yang duduk tanpa mau menatapnya. Wanita itu memegang kita sambil diayunkan di dekat wajah.


Enggan bagi Dee untuk menyapa mertua tirinya, tapi yang melakukan hal itu.


"Tante," sapa Dee mengulurkan tangan pada wanita itu.


Cindy hanya melirik tajam pada Dee lantas mengabaikannya. Dee menghela nafas sambil kembali menarik tangannya.


Jesper melihat Park Yang dan Cindy dia lalu menarik tangan Jason.


"Eh tunggu dulu," ujar Jason.


"Akung, Amah," ujar Jason membungkukkan tubuh memberi hormat pada Kakek dan Neneknya sambil menarik tangan Jason untuk mengikuti apa yang dia lakukan.


"Ini Kakek dan Nenek, aku memanggilnya Akung dan Amah," terang Jesper berbisik pada Jason. Jason menatap kedua orang itu.


"Kau rupanya kembaran Jesper, tapi kau terlihat berbeda dengannya. Kau anak yang kasar sama seperti ibumu," ujar Cindy.


Dee yang mendengar lantas menarik Jason dalam pelukannya.


"Dia memang anakku dan dia tahu mana yang harus dihormati dan mana yang tidak karena hati anak polos tahu mana yang tulus menyayangi dan mana yang membencinya.''


"Ayah mertua, maaf aku harus menemani Suamiku. Jesper ikut Mama. Sebentar lagi kita akan pergi ke makam."


Park Yang menatap ke arah Cindy dengan tidak senang. "Ini acara pemakaman seharusnya kau bisa menjaga lidahmu dengan baik."


"Kau sudah ambil hak anakku tujuh tahun lalu dan kau diam saja ketika Kane menembak tangan David. Apa pikiranmu hanya Kane saja? David juga anakmu, anak kita!"


"Aku ingat itu dan aku malu punya anak seperti itu. Jika kau ingin bertengkar sebaiknya kau pulang saja sendiri. Tidak perlu untuk ikut pemakaman Pak Jhon."

__ADS_1


"Lebih baik aku pulang saja. Dia hanya mantan sopir tidak perlu harus dihormati layaknya orang penting."


Cindy lantas pergi meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan pada Kane. Kane dan keluarganya hanya bisa melihat itu.


Acara pemakaman telah selesai. Kane benar-benar melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang anak. Dia sendiri yang menguburkan Pak Jhon. Dia sudah terlihat lebih tenang.


Dalam hatinya Park Yang merasa iri dengan perlakuan yang Kane berikan pada Pak Jhon. Jesper sendiri terlihat menangis sepanjang acara pemakaman seolah itu memang keluarga mereka bukan bawahannya.


Dia mungkin tidak akan mendapatkan penghormatan lebih dari Kane ketika nanti dia meninggal seperti yang dilakukan Kane untuk Pak Jhon.


'Jhon terimakasih karena kau telah merawat anakku dengan baik dan memberikan kasih sayang pada Kane seperti anakmu sendiri. Jasamu tidak akan bisa kubalas sampai kapan pun.'


"Kane, Dee, Ayah pulang," ujar Park Yang.


Kane yang sedang berjongkok di sebelah nisan Pak Jhon menoleh dan menganggukkan kepala.


"Ayah pulang sendiri, tidak mampir dulu ke rumah atau menginap?" tawar Dee sopan.


"Mungkin lain kali. Kalian butuh istirahat dan mendamaikan hati."


"Jesper, Jason, Akung pulang."


Jesper memeluk Akung dan Jason masih saja diam. Dee memberi tanda pada Jason untuk mengikuti apa yang Jesper lakukan.


Dengan malas Jason mendekat dan ikut memeluk tubuh Park Yang.


"Anak baik," kata Park Yang mengusap kepala Jason. Lain kali kita bertemu lagi dan berbicara banyak. Kakek akan memberikanmu mainan banyak. Namun, hanya untukmu karena Jesper sudah punya banyak."


Jason mengangkat wajahnya dan membaca raut wajah pria tua di depannya.


"Apa kau sungguh-sungguh?"


"Tentu saja, apa yang tidak untukmu dan Jesper," kata Park Yang.


"Kalau sudah janji tidak boleh berbohong lho," ujar Jason.


"Jason yang sopan pada orang tua," peringat Dee.


"Dia hanya anak Dee, jangan terlalu keras padanya." Park Yang lantas melihat ke arah Jason.

__ADS_1


"Mana pernah Akung berbohong. Jika kau mau kau bisa tentukan harinya untuk berbelanja mainan yang kau suka."


Kane menyatukan kedua alisnya. Dia curiga dengan kebaikan Park Yang. Apakah dia tulus atau hanya modus untuk menjalankan niat buruk yang lain?


__ADS_2