
Park Yang mendatangi rumah Kane sore harinya. Dia membawa serta mobil box berukuran besar ke halaman rumah itu.
Pada saat yang sama Dee sedang berada di ruang keluarga bersama kedua anaknya. Pelayan memberi tahu jika Tuan Besar Park Yang datang mengunjungi mereka. Dee keluar bersama dengan dua putranya.
Entah mengapa firasatnya kali ini tidak baik-baik saja.
"Kakek Yang," sapa Jesper membungkukkan tubuhnya sopan. Jason mengikuti apa yang Jesper lakukan. Ternyata menjadi keluarga kaya raya itu sulit ada banyak peraturan yang harus dia lakukan jika tidak ingin dicap sebagai anak yang tidak tahu sopan santun.
"Selamat sore Ayah," sapa Dee mencium tangan Park Yang. Jason melihat itu lantas melakukan apa yang ibunya lakukan.
"Anak baik," ujar Park Yang. Mengusap lembut rambut Jason sambil menyunggingkan senyum lembut yang jarang terlihat dari wajahnya yang keras.
"Ini apa Kakek?" tanya Jason menatap ke arah mobil pick up di depannya.
"Ini yang Kakek janjikan untukmu." Park Yang memukul tongkatnya ke pintu Box. Seorang pria lantas membuka pintu itu. Lantas terlihat tumpukan mainan yang memenuhi isi box.
"Wow, ini sangat banyak Kakek. Kau memang yang terbaik," ujar Jason memeluk tubuh Kakek tua itu. Park Yang tertawa keras.
Dee tersenyum kecut. Dia menghela nafas panjang dan tetap bersikap ramah dan hangat.
Jesper berjalan menjauh dengan wajah sedih. Dia sendiri merasa iri karena selama ini Kakeknya hanya memberikan beberapa hadiah untuknya tidak sebanyak yang Jason dapatkan kali ini. Jauh di dalam hatinya bertanya apakah dia itu anak yang membosankan sehingga dia tidak mendapatkan perhatian seperti yang Jason dapatkan.
Papanya memang sering memarahi Jason namun Papa juga sering dibuat tersenyum dan kadang tertawa karena tingkahnya. Sedangkan untuk Jesper sendiri Papanya tidak pernah tertawa bahkan tersenyum.
Wajah Jesper yang ditekuk dan terlihat sedih tertangkap mata oleh Dee. Wanita itu memeluk bahu anaknya dari belakang.
"Kau sedih?" bisik Dee. Dia memutar tubuh Jesper agar bisa melihat wajahnya. Anak itu menatap wajah Mamanya yang teduh. Bibirnya yang terkatup rapat sama persis seperti Kane yang sedang gusar, marah dan sedih.
"Jason baru bertemu dengan mereka pantas jika mereka ingin membayar waktu yang telah terlewat. Mereka merasa menyesal jadi melakukan itu."
"Sedangkan kau itu anak Mama paling pandai dan bijaksana semua tahu hal itu. Jadi perlakuan yang kau dan Jason terima akan berbeda. Seperti Papa yang selalu mendidikmu dengan keras agar kau kelak bisa menggantikannya."
"Apa Mama juga lebih menyayangi Jason dari aku?" tanya Jesper menahan air mata di pelupuk matanya yang kecil.
__ADS_1
Dee mengernyitkan dahi sambil tersenyum lebar. Lalu memeluk Jesper dengan gemas. Walau anak ini terlihat dewasa masih ada sisi seperti anak kecil yang ingin dimanja juga.
"Mama seperti Papa yang ingin membayar waktu yang terbuang ketika kita terpisah dengan memberi perhatian yang berlebih padamu. Papa ingin memberikan banyak perhatian pada Jason juga. Kau mengerti kan?"
Mereka menatap ke arah Jason dan Park Yang. Kedua orang itu sedang sibuk membawa barang masuk ke dalam rumah.
"Jason senang hidup bersama Mama yang penuh kasih sayang sedangkan hidupku bersama Papa hanya penuh tekanan."
"Berkat Papa mu itu kau jadi anak yang cerdas dan pandai untuk bersikap. Cara mengajar Papa dan Mama itu berbeda. Seorang Ibu akan memberikan cintanya sedangkan seorang ayah akan memberikan perhatian lewat semua hal yang bisa dia berikan untuk anaknya, memastikan anaknya mendapatkan hal terbaik nantinya, tidak kurang suatu apapun," terang Dee.
"Kau mengerti sekarang?"
Jesper mengangguk mengerti. Walau Papanya dingin tapi Papanya akan memberikan semua yang dia inginkan. Dia juga memberikan guru terbaik untuk mengajarnya belajar. Mendidiknya dengan disiplin.
"Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya." Walau begitu Dee merasa sedih karena dia ingat jika hidupnya dulu juga tidak diinginkan oleh ibu dan ayahnya.
"Jesper, ayo masuk. Kita buka semua mainan itu bersama-sama. Katamu, punyamu itu juga punyaku. Maka sekarang milikku adalah milikmu," ujar Jason menarik kakaknya.
Jesper tersenyum lebar. Dia merasa malu cemburu pada adiknya. Padahal Jason sangat menyayanginya.
Dee menghela nafas. Berharap pikiran buruknya pada Park Yang tidak akan terjadi.
Dia menemani anaknya membuka kotak hadiah dari Park Yang.
"Dee kau bahagia bisa hidup bersama Kane, putraku?" tanya Park Yang sambil menatap kedua cucunya.
"Apa yang bisa kukatakan? Kau bisa melihatnya kan!" jawab Dee tenang.
"Ya. Anak panti asuhan tanpa orang tua bisa hidup bersama dengan Pangeran adalah sebuah anugerah besar."
"Kau benar. Ini seperti mimpi yang terwujudkan."
Park Yang melihat jam di tangannya. Dia seperti menunggu seseorang di balik pintu. Dee bisa melihatnya.
__ADS_1
"Apakah kau sedang menunggu suamiku pulang, Ayah? Oh aku tidak tahu kau sebenarnya menerimaku sebagai menantimu atau tidak, hingga berani memanggilmu Ayah?"
"Kau akan kuterima sebagai menantuku dengan satu syarat."
Dee tertawa kecil dengan sinis. "Aku percaya jika itu bukan syarat yang mudah. Ada harga yang harus dibayarkan kan?" Dee tersenyum mengejek.
Suara mobil masuk ke halaman rumah. Mereka berdua menoleh ke arah pintu bersamaan. Terdengar suara orang bersitegang diluar.
"Jason, Jesper kalian bawa semua ini masuk ke kamar. Pelayan tolong bawakan ini ke kamar anak-anak dan bawa mereka naik sekarang!" ujar Dee tegas.
Setelah itu dia mengikuti Park Yang keluar rumah.
Ternyata di luar ada Kane yang sedang berhadapan dengan Rosemary.
"Jika kau tahu malu seharusnya kau pergi dari sini secepatnya sebelum aku lupa bahwa kau ini wanita!" bentak Kane penuh emosi.
"Kane, dengarkan aku dulu." Kane menepis tangan Rosemary. "Paman," panggil Rosemary penuh harap pada Park Yang.
"Oh, Ayah di sini juga? Mau apalagi kalian kemari," ucapnya penuh emosi. Dia telah melalui hari yang menegangkan di kantor dan ingin pulang menenangkan diri malah di suguhi dengan pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
"Kane," Dee memegang tangan Kane dengan lembut. Pria itu menoleh ke arah Dee
"Kita masuk," ajak Dee. Kane menatap sinis pada dua orang di depannya.
Rosemary mendekat ke arah Park Yang dan ayahnya juga ikut keluar dari mobil Rosemary.
Kane menghela nafas panjang. Dia meregangkan dasinya yang terasa mencekik leher karena masalah ini.
"Kalian silahkan masuk," kata Dee ramah.
Mereka bertiga lalu masuk terlebih dahulu..Sedangkan dia dan Kane berjalan di belakangnya.
"Sebenarnya ada apa Dee?" ujar Kane berbisik. Dee mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Kalian ingin apa?" tanya Kane ketika mereka sudah duduk saling berhadapan.