
Setelah Kane selesai makan, dia langsung bangkit untuk membayar makanannya. Dia menyerahkan kartu berwarna hitam pada Dee. Kartu ATM tanpa limit yang hanya segilintir orang di dunia ini yang memilikinya.
"Kau bisa membayarnya lewat kasir yang bertugas," tolak Dee sambil membereskan bekas makan Kane.
"Kau terimalah karena ini milikmu," ujar Kane meletakkan kartu itu di dekat Dee .
Hal itu, membuat Dee tertegun untuk sesaat dia lalu mengangkat kepalanya dam menatap dalam netra Kane.
Sedangkan Rizky yang duduk tidak jauh dari meja mereka, mendengar semua pembicaraan itu. Dia sudah kehabisan kesabaran melihat Kane yang kembali merayu Dee. Dia bangkit dari tempat duduknya dengan tangan yang meninju telapak tangan satunya. Mendekat ke arah Kane.
"Maksudnya?" tanya Dee tidak mengerti.
"Maksudnya Kane ingin kau yang membayarnya ke kasir, begitu," ujar Rosemary menyembunyikan kepanikannya.
"Ini untukmu. Kau bisa menggunakannya untuk membeli apapun. Bukanlah sudah kukatakan tadi jika kau itu masih istriku, Dee, jadi aku seharusnya masih memberimu uang untuk menafkahimu kan?" ujar Kane dengan wajah tersenyum mengejek.
Dee menyatukan kedua alisnya dan teringat perkataan Kane tadi di ruang kantor.
"Istri?Aku akan mengingatkanmu jika kau lupa. Kita sudah berpisah selama lima tahun. Hanya tinggal ketuk palu saja yang belum," ujar Dee melipat tangan di dada.
"Itu maksudku, belum ketuk palu, artinya kau masih menjadi milikku.Milikku," tandas Kane membuat Dee tidak senang.
"Aku bukan barang yang bisa kau buang dan pungut kembali seenakmu," ujar Dee tidak terima.
"Kau memang seperti itu, datang ketika kubeli lantas dicuri pria lain," sindir Kane melirik Risky.
"Apa maksudmu mengatakan hal ini?" Rizky akhirnya maju ke depan. Dee lalu berdiri didepan Risky memegang pundaknya agar tidak terjadi keributan.
"Tenang, Kak. Tenanglah, semua bisa dibicarakan baik-baik. Jangan termakan emosi karena mendengar kata-katanya."
Kane menghela nafas, menatap miris pada pasangan sejoli itu. Dee ternyata hanya memperdulikan Risky. Tidak pernah perduli dengan perasaannya. Kepedulian Dee bagai menabur garam diatas luka Kane yang belum sembuh.
"Kau tahu apa yang terjadi. Semua masalah ini ada karena kedatanganmu! Jadi jangan sok jadi pahlawan di depanku. Kau dan dia itu sama saja munafik."
"Dee bagaimanapun kau itu masih istriku, suka atau tidak suka jadi aku bisa saja menyeret mu kembali pulang ke rumah."
Dee memejamkan mata sejenak mengendalikan emosinya. Dia menurunkan tangan yang sudah terkepal lalu membalikkan tubuh dan menatap Kane, berani.
"Statusmu sebagai suami itu sudah tidak berlaku ketika kau pergi meninggalkan aku sendiri," ungkap Dee berapi-api.
"Kau juga bawa anakku pergi dan aku... aku bahkan belum melihatnya sama sekali. Di mana dia?" teriak Dee marah.
__ADS_1
"Ada di rumahku. Kau hanya perlu pulang untuk melihatnya," balas Kane tenang.
Kane meraih tangan Dee dan meletakkan kartu itu ke tangannya. "Jika kau ingin melihatnya dan memperdulikan dia, maka pulanglah," ujar Kane meninggalkan Dee.
Dee terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Hanya menyeka air mata yang keluar.
Rosemary sendiri menatap benci pada Dee ketika melewatinya. Kane berjalan dengan kepala tegap. Dia merasa puas karena telah memberi pelajaran pada Rizky dan menyadarkan pria itu bahwa dia bukan pria yang mudah dikalahkan. Ini baru awal karena akan ada hal lain yang membuat mereka menyesali apa yang pernah mereka lakukan padanya.
Jesper sendiri langsung bersembunyi di belakang pot bunga sewaktu Papahnya melewatinya. Kali ini dia suka dengan gaya Papahnya yang terlihat keren menghadapi musuh.
"Papah aku akan membantumu mendapat Mama kembali."
Dee terdiam selama perjalanan kembali ke rumah. Wanita itu langsung masuk ke kamarnya.
Rizky hanya menatap kosong ke arah pintu kamar.
"Paman sebaiknya pulang saja. Mama sepertinya sedang butuh waktu untuk menyendiri."
Rizky tersenyum kecut mengusap lembut kepala Jesper.
"Temani, ibumu, dia butuh kau ada di sisinya."
Dia sebenarnya juga bisa merasakan jika Paman ini baik seperti yang Jason katakan, hanya saja dia ingin agar Papanya yang tetap menjadi suami Mamanya bukan orang lain.
Jesper lantas memesan makan malam untuk mereka dari aplikasi. Setelah itu dia menyiapkannya diatas meja.
Dengan gerakan sangat pelan Jesper masuk ke kamar. Lalu duduk di dekat Dee yang sedang berbaring telungkup.
Jesper merasa sedih melihat Mamanya seperti itu. Ingin rasanya dia langsung memeluk Mamanya, tapi dia masih canggung dan malu untuk melakukan itu karena belum terbiasa. Lagipula Mamanya tahu dia adalah Jason, saudara kembarnya, bukan Jesper anak yang terpisah.
"Ma," panggil Jesper.
Dee langsung mengusap air matanya. Duduk di sebelah Jesper dan tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau mau makan ya, Sayang, Mama akan masakkan."
"Tidak usah aku sudah pesan makanan dari luar dan sudah ada di meja."
Dee terkejut, biasanya anak itu akan merengek kelaparan jika Dee telat memberi makan, malah kini sudah menyiapkan makanan.
"Ada masalah?" tanya Jesper dengan raut wajah orang dewasa yang penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Dee memeluk bahu Jesper dan memasukkan dalam dekapannya. "Tidak ada. Mama hanya lelah."
"Ma, boleh aku tanya sesuatu?"
Dee mengangguk. "Memang kau mau tanya apa?"
"Ma, siapa Paman tampan tadi yang pakai jas rapih?" Jesper pura-pura tidak tahu siapa Papanya itu di depan Mamanya.
Dee terdiam, langsung melihat ke arah Jesper. Dia kira tadi anak itu ada di dalam mobil ketika di cafe.
"Dia, bos Mama."
"Oh, tapi maaf, Ma. Aku dengar pembicaraan kalian di dalam cafe. Pria itu mengatakan Mama istrinya, berarti dia papaku, Ma?"
Mendengar hal ini kepala Dee yang sakit terasa seperti ditimpuk kayu besar. Bagaimana dia menjawab ini pada Jason. Dee memegang kepalanya yang terasa berputar untuk sejenak.
Dia menunduk dalam, lalu menangis lagi. Mengangguk.
"Dia benar Papaku, Ma? Dan tadi pria itu juga bilang jika Mama bisa menemui anaknya di rumah pria itu, apa itu artinya aku juga punya saudara?"
Dee lantas memeluk Jasper erat. "Semua tidak semudah yang kau pikirkan. Tetap rahasiakan ini jangan sampai Papamu tahu jika kau masih hidup," ujar Dee.
"Tapi kenapa?" tanya Jesper sedih.
"Karena Papamu akan membawamu pergi lagi seperti dia yang membawa kakakmu pergi dari Mama," ujar Dee menangis hebat.
"Mama tidak mau kehilangan kalian berdua.''
Kabar ini seperti petir bagi Jesper. Jadi Papanya yang memisahkan dia dan Mamanya. Bagaimana bisa Papa setega itu padanya juga Mama, serta Jason. Mengapa Papa menghancurkan keluarga mereka menjadi dua?
"Kenapa harus seperti itu, Ma? Bukankah kita akan bahagia jika bersama."
"Itu, tidak seperti yang semudah kita pikirkan."
"Kalau begitu apa alasannya, Ma?"
Dee terdiam, teringat kejadian memilukan lima tahun lalu. Sangat menyedihkan untuk diceritakan dan menyesakkan untuk kembali dikenang. Dia sempat seperti orang gila yang kehilangan anak serta suami, untung ada Jason yang menguatkannya sehingga dia bisa berdiri tegak kembali.
"Kamu terlalu kecil untuk tahu urusan orang dewasa. Hanya saja jangan buka masalah ini jika kau masih ingin bersama Mama. Mama takut jika kau akan diambil dari Mama dan kita berpisah selamanya."
Jesper memeluk Mamanya erat. Dia juga takut jika harus kembali berpisah lagi dengan Mama yang selama ini dia rindukan.
__ADS_1