Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 23 Rindu tapi enggan mengakui.


__ADS_3

Setengah jam kemudian terdengar bunyi deru mesin kendaraan masuk pekarangan rumah. Suara pintu mobil yang dibanting lalu langkah kaki menaiki anak tangga yang bergema sampai ke kamar Dee. Wanita itu lantas mengangkat wajah, buru-buru mengusap pipinya yang masih basah oleh air mata.


Dee tidak tahu mengapa sangat merasa emosional dan ingin menangis terus kali ini. Pintu dibuka dengan lebar. Di depannya nampak Kane yang berdiri dengan piyama hitamnya. Wajahnya nampak mengeras menahan marah.


"Bisakah kau tidak membuat anakku kesulitan karena ibunya tidak mau memakan apapun?" tanya Kane.


"Aku ... ." Perkataan Dee terhenti ketika tangan Kane meraihnya dan menarik keluar.


"Aku akan menemanimu makan."


Dee menepisnya. "Aku tidak mau makan!" kata Dee dengan nada merajuk.


"Kenapa? Apa karena kau tidak ingin melahirkannya?" tuduh Kane kejam. Pria itu dengan cepat mengangkat tubuh Dee membawanya ke ruang makan.


Pelayan yang tadi terlihat sudah menyiapkan berbagai menu masakan yang Kane pesan sebelum datang kemari. Pelayan itu mengabarkan jika Dee menolak untuk makan jadi dia langsung datang ke rumah dari apartemen yang dia tinggali beberapa hari ini.


Perut Dee, mendadak mulai mual mencium bau menyengat dari makanan yang disajikan. Kane bisa melihat perubahan air muka Dee. Wanita itu menutup rapat hidungnya.


"Bawa pergi jauh makanan itu," perintah Kane membuat beberapa pelayan lainnya ikut membantu pelayan utama tadi menyingkirkan makanan yang ada.


Kane melihat ke arah susu hangat yang ada di atas meja. "Kalau kau tidak mau makan minum susu hangat ini," ucapnya lembut.


Tadinya dia mengira Dee hanya ingin membuat ulah karena tidak mau makan. Belum lagi kekesalannya bertambah sewaktu melihat Dee mendapatkan sebuah pesan dari temannya jika kekasihnya akan kembali datang ke kota ini. Handphone Dee diam-diam telah dia retas dan dia buat kloningnya di salah handphone miliknya. Jadi semua aktivitas di handphone Dee bisa dia ketahui.


Kane menyerahkan susu itu pada Dee. Dee berlari ke arah wastafel, memuntahkan semua isi perutnya.


Kane yang melihat terpaku. Wanita itu memang mual dengan semua yang dihidangkan.

__ADS_1


Pak Jhon datang mendekat. Membisikkan sesuatu. "Mungkin jika Anda membuatkannya sendiri, Nona, akan mau. " Kane menoleh ke arah Pak Jhon. "Wanita hamil memang sulit ditebak, tapi perhatian ayah dari calon anaknya terkadang bisa meluluhkan. Coba saja, mungkin anak Anda ingin agar Anda yang menyiapkannya."


Pak Jhon lantas mundur dan pergi dari ruangan itu. Dia tadi sedang membicarakan tentang masalah proyek di apartemen dengan Kane ketika pria itu mendapatkan telepon jika Dee menolak untuk makan. Kane terlihat khawatir, langsung saja pergi menuju kediaman ini.


Kane mulai berjalan menuju ke arah dapur, mencari susu cokelat yang Dee suka. Dia mulai membaca cara membuatnya. Selama ini, dia yang dilayani jadi dia tidak mengerti bagaimana harus melayani seseorang. Apalagi itu wanita hamil.


Kane menyerahkan segelas panas pada Dee yang duduk di kursi.


"Sudahkah kubilang jika aku tidak mau apapun," kata Dee dengan terisak. Hal itu entah mengapa terasa tidak nyaman di hati Kane. Dia tidak suka melihat Dee menangis.


"Kau hanya memikirkan bayimu saja, tetapi tidak memikirkan ibu yang mengandungnya. Setidaknya bertindaklah yang manusiawi padaku, jangan selalu mengedepankan egomu yang hanya membuatku merasa tertekan jika berdekatan denganmu!"


Ucapan Dee menampar diri Kane. Dia memang hanya membutuhkan bayinya, bukan Dee. Namun, jika iya mengapa dia peduli dengan semua yang Dee lakukan?


"Minumlah, ini. Aku sendiri yang buat. Seumur hidup aku tidak pernah melayani seseorang apalagi seorang wanita, jadi coba dulu. Jika kau tidak suka boleh menolaknya, tapi coba dulu, mungkin anak ini mau meminum susu buatan ayahnya," bujuk Kane mengambil menyendokkan susu dari cangkir lantas memberikan pada Dee.


"Anak baik," tepuk Dee pelan pada kepala Dee.


"Kau mau makan apa, biar aku siapkan. Mungkin kita bisa makan diluar, mencari sesuatu yang bisa kau makan. Kalau memasak itu bukan bakat ku dan aku tidak akan pernah melakukannya."


Dee menghela nafasnya. "Aku tidak suka dengan makanan yang berbau menyengat," ungkap Dee dengan memainkan jari tangannya sambil melirik ke arah Kane.


Terlihat menggemaskan, pikir Kane. Dia ternyata hanya menginginkan sesuatu tetapi tidak mau mengatakannya.


"Bagaimana kalau roti atau salad, tapi ini sudah malam, mana ada penjual salad, jika kau mau aku akan suruh pelayan untuk membuatkannya."


Kane bangkit, tangan Dee menyentuhnya, terjadi sengatan listrik antara keduanya. Mereka saling menatap. Dee menarik dengan cepat tangannya lagi.

__ADS_1


"Jangan ini sudah malam, mereka seharusnya pergi beristirahat tidak seharusnya kita mengganggu karena urusan kecil ini."


"Pekerjaan mereka adalah melayani kita. Untuk apa mereka aku gaji jika hanya makan gaji buta," tegas Kane.


"Memanusiakan manusia akan membuat kau menjadi pribadi yang lebih baik. Selayaknya manusia pada umumnya mereka juga butuh dihargai dan dimengerti. Mereka butuh uang karena itu bekerja untukmu, jika kau berbuat baik pada mereka, mereka akan menghormati juga menyayangimu. Melakukan suatu kebaikan kecil tidak akan merugikan kita, tetapi akan membuat derajat kita lebih baik di mata orang."


"Semakin baik kau, maka kau akan dimanfaatkan oleh banyak orang. Tidak semua orang se pemikirkan denganmu. Jika seperti itu tidak akan ada orang tertindas dan orang kelaparan serta kekurangan. Kita jadi juara karena kita bisa mengalahkan banyak orang, kita jadi penguasa karena kita bisa membuktikan bahwa kita yang terkuat. Hidup ini hanya ada dua pilihan, menindas atau tertindas. Terserah kau mau memilih mana."


"Aku tidak punya pilihan karena kau yang menindas ku!" Dee menatap Kane penuh ragu. Takut jika perkataannya akan menyinggung perasaan Kane karena hubungan mereka baru baik tiga puluh menit ini.


"Makanya lain kali jangan jadi orang lemah," balik Kane dingin dengan lirikan tajam.


"Kau yang merasa kuat seharusnya melindungi yang lemah," balas Dee membuat Kane terdiam, mendengus keras.


Dee menahan senyumnya seraya mengusap perutnya. Dalam hati berkata, "Kesayangan Ibu, jangan dengar omongan Ayahmu, ya. Kau harus jadi manusia yang lebih baik darinya."


Kane berdiri dan menarik tangan Dee. Mimik wajah wanita muda itu nampak takut.


"Aku tidak akan memaksamu sekarang, hanya mengajakmu keluar mencari makanan yang kau inginkan."


"Tapi ini sudah malam," ujar Dee.


"Dimasakkan tidak mau, beli diluar tidak mau, lalu kau mau apa? Dasar wanita selalu menyusahkan saja. Dunia ini akan tenang tanpa ada wanita."


Mata Dee memerah kembali.


"Jika kau tidak mau direpotkan jangan pedulikan aku, tinggalkan saja aku di sini sendiri. Aku sudah terbiasa hidup mandiri dari kecil tanpa bantuan orang lain."

__ADS_1


__ADS_2