Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 96 Butuh kejujuran! Untuk apa? lebih baik aku pergi.


__ADS_3

Dee berjalan dengan lesu menuruni tangga. Di saat itu, dua anaknya yang ada di lantai bawah. Kedua putranya langsung berlari ke arah Dee.


"Ma, mau masak apa? Aku lapar," ujar Jason mengusap perutnya.


"Tadi kau sudah makan dua porsi ayam krispi, masih kurang juga kah?" tanya Jesper.


"Tapi itu kan sore, ini sudah mulai malam. Kita makan buat makan malam bersama ada Mama dan Papa," ujar Jason.


"Iya, kau benar, untuk pertama kalinya kita makan bersama. Mama harus masak yang spesial buat kita," lanjut Jesper antuasias.


Dee tersenyum sedih. "Kalian ingin makan apa?"


"Masakan apapun pasti enak."


"Bagaimana kalau masak sederhana saja, ayam kecap dengan sayuran yang ada di lemari pendingin, kita lihat ada apa saja?" kata Dee mengajak anaknya masuk ke dapur.


"Aku hanya ingin memasakkan untuk anakku, bolehkan?" tanya Dee menatap ke arah Kane yang melihat ke arahnya.


Kane mengangguk.


Jesper mengernyitkan dahi, membaca situasi sedangkan Jason tidak peduli dengan pembicaraan Dee dan Kane. Dia hanya ingin membantu dalam arti merusuh di dapur seperti biasanya.


"Wah, Mama ada ice cream, kita buat dessert yang lezat, yang lumer di mulut yang seperti Mama buat di Papua itu lho kemarin," ujar Jason.


"Oh, ya. Nanti akan Mama buatkan."


Dee meletakkan bahan-bahan yang akan dia masak diatas meja. Jason mencolek ice cream di tangannya sedangkan Jesper menarik.


"Tidak boleh, jorok!" ujar Jesper merebut itu.


"Mama, dia jahat padaku," ujar Jason mengadu.


"Kakakmu benar, Jason. Tidak boleh seperti itu." Dee mengambil kotak icecream itu dari tangan keduanya. Jesper menjulurkan lidah.


Jason berlari ke arah Papanya yang sedang berbicara dengan Pak Jhon.


"Papa, kau kan kaya. Aku hanya ingin makan icecream sedikit oleh Jesper tidak boleh," rajuk Jason menarik celana Kane.


"Hanya sekotak ice cream, tentu saja boleh." Kane menggendong Jason, pergi ke dapur mengambil ice cream yang dia inginkan. Jason lalu tertawa penuh kemenangan.


Jesper nampak tidak suka melihatnya. "Papa, kata Mama itu nanti saja."


"Apa salahnya dengan icecream. Papa bisa membawanya satu truk sekalian jika kalian mau. Atau kita beli pabriknya?"


"Kau jangan terlalu memanjakannya. Boleh untuk melakukan sesuatu tapi jangan berlebihan."

__ADS_1


Jesper mengangguk setuju dengan ucapan Dee.


"Aku belum pernah memberikan apapun untuknya. Dia hanya meminta sekotak ice cream apakah itu namanya memanjakan?"


Dee terdiam. Dia kembali lagi fokus pada pekerjaannya. Entah apa yang dia pikirkan.


Tubuh Dee menegang ketika Kane mengikat rambutnya ke atas dengan asal membentuk cempolan.


"Kau selalu saja seperti ini," ujar Kane. "Selalu mengabaikan hal kecil."


"Adakah yang bisa aku bantu?" tanya Kane lembut.


"Kau cuci ini dulu." Dee menyerahkan sayuran pada Kane.


Jesper dan Jason tertawa tanpa suara melihat orang tuanya bersama. Dari ruang makan Pak Jhon memberi tanda agar kembar meninggalkan mereka berdua bersama. Kembar lalu mengendap pergi tanpa suara.


Oleh karena pikiran Dee yang sedang kacau, ketika dia mengiris daging tanpa sengaja ujung pisau mengenai tangannya.


"Aww!"


"Kau kenapa?" tanya Kane melihat Dee memasukkan jarinya ke mulut. Kane mendekat dengan wajah khawatir. Dia menarik tangan Dee dan melihat luka Dee yang sedikit dalam.


"Tunggu," ucap Kane berlari mencari kotak obat. Lalu, terdengar suara teriakan Kane memanggil pelayannya dari ruang sebelah.


Ketika Kane kembali, Dee sudah kembali meneruskan memotong daging.


"Kane, lukaku hanya sedikit."


"Letakkan kataku!"


"Aku bisa menyelesaikannya."


"Bisakah kau sekali saja menurut padaku, Dee!" bentak Kane membuat Dee menjatuhkan pisaunya.


Kane mendekat, membersihkan luka Dee dan membalutnya dengan plester.


"Kau itu sangat mengesalkan," ujar Kane.


"Bagaimana dengan makan malamnya?" tanya Dee.


"Ada pelayan yang bisa melayani, tapi aku sudah pesan makanan agar lebih cepat."


"Kane semua ini?" tanya Dee melihat bahan yang sudah disiapkan.


"Aku tidak peduli dengan semua itu, aku hanya peduli denganmu tapi kau tidak peduli denganku."

__ADS_1


Hati Dee sakit mendengarnya.


"Kau boleh marah padaku, Kane. Itu hakmu, aku pun akan berbuat sama jika ada di posisimu."


"Kau masih belum mau menjelaskan semua?"


"Posisiku tidak mengijinkan aku untuk mengatakan semuanya. Lebih baik aku diam untuk kebaikan semua orang terutama kau."


"Aku? Kenapa bukan kekasihmu, calon ayah sambung Jason." Kane maju selangkah hingga tubuh mereka tidak ada jarak.


"Semua yang terlihat, tidak seperti yang terlihat."


"Jadi bukan karena dia?"


"Seharusnya kau bisa menilai sendiri, siapa yang lebih penting bagiku saat itu?''


"Aku ragu dengan diriku," jawab Kane jujur.


"Artinya kau tidak percaya padaku. Lalu untuk apa sebuah hubungan tanpa sebuah kepercayaan?"


"Dari sisi mana aku bisa yakin padamu saat itu, sedangkan kau bersama dengan pria itu bersama dengan Cindy! Mengkhianatiku!"


Kane memegang bahu Dee dan mengoyak nya. "Ini menyebalkan Dee, kau memberikan aku sebuah masalah yang seharusnya bisa kau jelaskan dan membuat kesalahpahaman ini berakhir, tapi kau memilih diam."


Dee tersenyum sinis. "Jika kau percaya padaku, kau tidak akan bertanya!" tandas Dee. Dia melepaskan tangan Kane di bahunya.


"Mama, Papa, makanannya sudah datang," teriak anak-anak yang berlari ke arah mereka, membuat dua orang yang berdebat ini terdiam. Mereka lalu tersenyum bersama menyambut anak mereka.


Jason memilih digendong ayahnya dan Dee menggendong Jesper.


Mereka lantas makan bersama. Hati Kane sedikit lebih lega karena Dee mengatakan semua yang dia lakukan untuk Kane, bukan Rizky. Dia harus mencari tahu sendiri sebenarnya apa yang terjadi. Karena jika Dee mengatakan tidak berarti tidak.


Dia tahu Dee bukan orang yang suka berbohong. Dia meletakkan kejujuran diatas segalanya. Kejujuran yang terkadang dimanfaatkan oleh orang licik.


Makan malam kali ini terasa hangat dan sangat membahagiakan. Kane tidak ingin jika suasana seperti ini harus hilang karena kepergian Dee.


Dee pergi ke kamar anak-anak untuk mengantarkan mereka tidur. Kane mengintip sedikit ke dalam kamar ketika Dee sedang membacakan buku cerita.


Jason terlihat manja sekali. Kaki dan tangannya memonopoli tubuh Dee. Sedangkan Jesper memilih memeluk lengan Dee.


Sekarang dia mengerti mengapa Jason diam-diam masuk ke kamarnya tengah malam. Mungkin karena terbiasa tidur dengan memeluk Dee.


Kane tersenyum. Dia lantas menutup pintu kamar itu lagi. Dee sendiri bangkit ketika melihat anaknya sudah tertidur pulas. Dia menyelimuti mereka dan mencium keduanya dengan lembut. Setelah itu, Dee keluar dari kamar.


Tangan Dee ditarik oleh seseorang ketika baru menutup pintu. Mulutnya dibekap oleh sapu tangan dan kepalanya ditutup oleh kain hitam. Tubuh Dee mendadak melepas. Dia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ayo cepat, sebelum ada yang tahu," ucap salah seorang diantara penculik itu.


__ADS_2