Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 42 Antara Cinta dan Jodoh


__ADS_3

Dee mendekati Kane yang terlihat marah karena memergoki mereka sedang berduaan di sebuah ruangan.


"Kane ini tidak seperti yang kau lihat!" ucap Dee. Kane tertawa keras dengan hati yang miris.


"Apa yang kalian rencanakan, hah!" Dee terdiam. Menunduk. Kane mendorong Dee pelan agar menyingkir. Dia lalu menarik kerah baju Rizky.


"Kami tidak melakukan apapun, kami hanya....'' Dee memegang tangan Kane yang mencengkram Rizky.


"Hanya apa?"


"Dee tidak bersalah, aku yang ingin bertemu dengannya!" sela Kane. Membuat wajah Kane yang merah semakin mengeras. Menatap tajam Rizky seolah ingin membunuhnya.


Sebuah pukulan keras mampir ke wajah tampan Rizky. Bugh!


Dee memekik keras. "Kane jangan lagi!" teriak Dee menangis memegang tangan Kane.


Hal tambah membuat Kane semakin terbakar api cemburu. "Kenapa? Kau takut dia terluka, hah! Kau tidak rela?" Bentak Kane pada Dee.


Dee menggelengkan kepala. "Percayalah aku tidak berbuat apapun dengannya," lirih Dee tersedan-sedan.


Kane hendak memukul Rizki lagi tapi Dee memeluk Kane erat. "Jangan... kumohon...."


"Sudah kukatakan. Jangan jadi murahan Dee!" ucapnya lemas dengan suara goyah.


Tangan Kane diturunkan. Dia melepaskan pelukan Dee dan berbalik pergi.


Dee bingung harus menolong Rizky yang terluka atau Kane yang marah. Dia lalu lebih memilih Kane dan berlari mengejarnya.


"Kane, tunggu...." panggil Dee. Kane mengabaikan panggilan Dee. Dia keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil dan menutupnya.


Dee memukul pintu mobil namun Kane tidak bergeming.


"Kane, aku bisa jelaskan. Semua tidak seperti yang kau pikirkan."


"Jalan, Pak!" Sopir itu nampak ragu melihat Dee. Namun, Kane mengulangi perintahnya.


"Baik, Tuan." Mobil mulai melaju dengan pelan. Pengawal Kane yang tertinggal memegang tubuh Dee yang gemetar melihat Kane begitu saja meninggalkannya.


"Kane jangan tinggalkan aku, Kane!" teriak Dee menangis tersedu.


Di saat itu Kane melihat dari kaca spion, Rizky datang mendekat ke arah Dee dan Dee masuk dalam pelukannya. Kane yang pernah terluka karena ditinggalkan oleh ibunya kini merasa terluka lagi.

__ADS_1


Sedangkan, Dee menangis tersedu-sedu dalam pelukan Rizky. Rizky mulai sadar bahwa ini bukan lagi Dee yang dia kenal.


"Maaf Dee," kata Rizky. Dia tidak suka melihat Dee menangis atau bersedih.


"Kenapa dia meninggalkan aku sendiri di sini. Tidak mau mendengarkan penjelasan ku sedikitpun," ucap Dee marah.


"Mungkin dia mengira kau ingin bersamaku," balas Rizky.


Dee tidak tahu harus mengatakan apa.


"Hei, kau ku bayar untuk bekerja di hotel ini bukannya berpelukan," tegur Manager hotel melihat salah satu pegawainya malah berpelukan dengan seseorang bukannya bekerja.


Dee menjauh dari Risky dengan wajah memerah karena malu. Mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Kalau begitu saya akan keluar dari sini," ucap Rizky. Dee menatap ke arah Risky.


"Bukankah kau baru bekerja di sini?" tanya Dee ketika mereka sudah berada di luar hotel. Mereka berjalan di pinggir jalan sepanjang pantai.


"Ya, belum ada seminggu." Rizky membawa tas ransel di pundaknya sambil menarik koper Dee. Dia tidak akan membiarkan wanita hamil membawa kopernya sendiri apalagi itu adalah Dee, wanita yang dia cintai.


Dee yang merasa lelah lalu meminta Rizky untuk menepi di salah satu gubuk pedagang. Memesan minuman es kelapa muda. Mereka meminumnya.


"Yang kudapat malah kabar kau sudah dibawa oleh Kane dari Anna. Aku mencarimu di rumah itu, bukannya melihatmu, malah dibawa anak buah Kane ke tempat pembuangan sampah dan aku di buang di sana. Itu juga bukan salah mereka sepenuhnya. Aku yang memaksa untuk bertemu denganmu jadi membuat mereka naik pitam dan menghajarku."


"Tetap saja itu salah, aku tidak terima kau diperlakukan seperti itu. Aku juga ingin menemuimu menjelaskan semuanya, tapi Kane dia orangnya...." Dee mende*ah.


"Pencemburu?" ujar Rizky. Dee menoleh terkejut dengan pernyataan pria itu.


"Ya, sangat posesif malah," lirih Dee.


"Itu artinya dia mencintaimu," lanjut Rizky.


Dee menghela nafas panjang.


"Seharusnya kau beruntung dicintai oleh pria itu, pria ayah dari anakmu." Dee menyetujui perkataan Rizky.


"Aku mencintaimu Dee, tapi aku bukan pria egois yang akan melakukan segala cara agar kau tetap berada di sampingku. Bisa saja aku mengajakmu kembali tapi apakah kau akan bahagia bila bersamaku? Bahagia seperti dulu, sedangkan aku tidak yakin apakah kau masih sama dengan Dee-ku yang dulu."


Inilah yang membuat Dee menyukai Rizky dari dulu, sifat bijaksana Rizky dan kebaikannya.


"Tapi dia sudah kecewa padaku, dia meninggalkan aku," cicit Dee meneteskan air mata. Bersandar di pundak Rizky.

__ADS_1


"Lalu apakah kau ingin berpisah dengannya?" tanya Rizky. Dee menyentuh perutnya.


"Anakku butuh ayahnya," kata Dee.


"Jadi kau akan menyerahkan mereka semua pada Kane?"


Hati Dee seketika terasa perih. Dadanya sesak membayangkan hal itu. Ketakutannya selama beberapa bulan ini adalah ketika Kane mengambil anak yang dia kandung.


Tangis Dee bertambah deras.


Rizky menyentuh kepala Dee dan menepuk nya.


"Jika kau memang tidak ingin berpisah darinya maka kembalilah," kata Rizky membuat Dee terkejut. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Rizky.


Rizky mengangguk. Walau hatinya sakit tapi dia akan ikut bahagia jika Dee bisa tersenyum lagi. Bukankah tingkat tertinggi dari mencintai adalah bahagia bila melihat senyuman orang dicintai walau bukan bersamanya.


"Aku akan mengantarmu kembali padanya."


"Bagaimana jika dia menolakku?" tanya Dee ragu.


"Tidak jika dia memang mencintaimu, apalagi kau sedang mengandung anaknya. Dia pasti akan menerimamu kembali di rumahnya. Hanya saja kau punya tugas sulit setelahnya. Kau harus membujuknya agar tidak marah lagi."


"Membujuk pemarah itu?" gerutu Dee. Selama ini dia yang dibujuk oleh Kane. Akan aneh rasanya jika dia yang membujuk pria itu.


"Jika kau mencintainya itu tidak akan sulit. Namun, pertanyaannya kau sudah mencintainya atau belum?"


"Atau kau masih mencintai diriku?"


Dee menatap ke depan dengan pandangan kosong. "Aku tidak tahu."


"Kalau begitu kau kembalilah padanya dan cari tahu sebenarnya yang kau cintai itu aku atau dia."


"Kau terdengar mudah untuk mengatakannya, apakah kau tidak sakit hati?"


"Bahagiamu lebih penting bagiku. Luka ini akan sembuh oleh waktu."


"Maaf, Kak. Aku menyakitimu."


"Cinta dan takdir itu milik Tuhan. Jadi kita tidak bisa memaksa. Ada yang saling mencintai tapi tidak berjodoh ada yang berjodoh tapi tidak mencintai. Yang beruntung adalah yang mencintai dan akhirnya berjodoh. Semoga kau dan dia masuk yang ketiga. Jika tidak kau bisa mencariku lewat Anna."


Apa yang Rizky ucapkan itu benar, namun dia sendiri tidak tahu siapa yang dia cintai. Pikirannya hanya ingin membuat anaknya punya orang tua lengkap saja dan dia punya keluarga bahagia. Bukankah cinta ada karena terbiasa.

__ADS_1


__ADS_2