
"Selamat pagi, Ayah," sapa David.
"Hmm. David, ada yang ingin ayah katakan," kata Park Yang.
David menoleh. "Ya, Ayah. Apa yang mau Ayah katakan?"
"Kau tahu ayah sudah tua bukan? Sedangkan sekarang ini malah perusahaan Diamond sedang bermasalah. Jadi, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan." Park Yang mulai memasang wajah yang serius.
"Apakah ini berkaitan dengan pemimpin masa mendatang di Diamond?" David bertanya seolah ia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Park Yang.
"Kau benar. Dengan kondisi Diamond saat ini, ayah yakin bila Diamond membutuhkan orang yang berkompeten. Orang yang akan membuat Diamond kembali ke masa berjaya," ucap Park Yang.
"Kalau begitu katakan saja, Yah. Ini kan menyangkut perusahaan Diamond," desak David.
Park Yang tersenyum. "Apa kau tidak takut dengan keputusan ayah?"
Dahi David mengernyit. "Kenapa takut, Yah? Bukankah saat ini perkara perusahaan Diamond jauh lebih penting dari apapun? Ini menyangkut kelangsungan keluarga Yang."
Kali ini Park Yang sungguh terharu mendengar kata-kata David. Sepertinya Park Yang semakin berani untuk membahas masalah penerus perusahaan Diamond.
Pada akhirnya Park Yang menceritakan keinginannya tentang penerus Diamond. David memasang wajah serius dan seolah mengerti bagaimana perasaan Park Yang. Meski tak ayal bila David sendiri sangat ingin menyingkirkan Kane.
"Kenapa Ayah takut sekali padaku? Aku tidak akan tersinggung atau apa. Mengingat personality kakak sangat bagus. Begitu pula dengan kerja kerasnya. Aku rasa Kak Kane memang yang pantas untuk menghandle Diamond. Kakak memang memang yang terbaik." David menganggukkan kepala. Ia juga menikmati makanan yang tersaji.
"Kau benar baik-baik saja, David?" tanya Park Yang memastikan.
__ADS_1
"Benar. Ayah tidak usah khawatir. Kami berdua sama-sama anak Ayah. Kenapa Ayah malah takut?" balas David.
"Tidak. Biasanya meskipun saudara sekalipun pasti ada yang seperti itu. Bertengkar hanya untuk tahta," sahut Park Yang.
"Sayang, jangan khawatir. David sudah dewasa. Dia pasti tahu seperti apa keinginan hatimu. Sudah, ayo sarapan. Makanannya jadi dingin kan?" Cindy menyela pembicaraan Park Yang dan David.
Suasana menjadi hening. Mereka bertiga menyantap sarapan dalam diam. Cindy dan David saling melempar pandang. Keduanya terlihat kesal dengan keputusan Park Yang. Namun hal itu tak berlangsung lama.
"David, Apakah hari ini kalau sibuk? Apakah hari ini kalian berdua mau menemani ayah ke rumah Kane?" Park Yang bertanya pada Cindy dan David.
"Bukannya Ayah tidak ingin melihat menantu Ayah yang kampungan itu? Lalu untuk apa Ayan repot-repot ke sana?" David langsung bertanya tentang tujuan ayahnya ke rumah Kane.
"Meskipun ayah dan mom tidak menyukai wanita itu, tapi wanita itu sedang mengandung keturunan keluarga Yang. Terlebih Kane menyukai wanita itu. Mau tidak mau kita harus tetap menghormati wanita kampung itu." Park Yang berbicara dengan nada kesal. Ada banyak hal yang membuat kekesalan semakin menumpuk. Terlebih sikap Kane yang sangat membenci keluarga yang.
"Meski mom juga tidak menyukai istrinya tapi dia merupakan wanita yang dicintai oleh Kane. Apalagi wanita itu sedang mengandung keturunan keluarga Yang. Mau tak mau bukankah kita harus memberikan hadiah? Kalau begitu hadiah apa yang pantas untuk kita berikan kepada mereka?" Cindy memang tidak menyukai hari ini .
"Saat ini ayah sudah tua. Ayah sangat menyesal karena sudah membuat Kane menderita. Bahkan ayah sudah membuang dan menyia-nyiakan hidupnya di masa lalu. Ayah hanya ingin hidup tenang. Ayah juga ingin melihat keluarga kita hidup tenang dan bisa berhubungan baik. Terlebih Kane bisa dekat dengan keluarga Yang. Ayah sangat menantikannya." Senyuman tulus terbit di bibir Park Yang.
Ia tak menyangka bila anak yang sudah dia sia-siakan nyatanya sangat mirip dengannya di masa lalu. Seolah Kane merupakan cerminan dirinya di masa lalu. Park Yang menarik napas.
"Bagaimana menurut kalian?" tanya Park Yang.
"Kami setuju. Tentu saja itu akan menjadi momen menyenangkan. Bagaimana tidak? Kami akan mengunjungi Kane dan calon penerus keluarga Yang!" Cindy berseru seolah dia sangat menantikan mimpi Park Yang untuk menjadi kenyataan. Padahal, justru Cindy sangat ingin menyingkirkan Kane.
"Justru aku sangat ingin menyingkirkannya. Entah apa yang akan aku lakukan nanti, tapi lihat saja. Aku akan membuatmu tidak memiliki pilihan selain menjadikan David sebagai penerus Diamond. Semuanya butuh waktu. Karena semua akan indah pada waktunya." Cindy tersenyum penuh arti. Lalu ia melirik pada David yang bingung.
__ADS_1
"Sebenarnya aku terus membenci hal ini. Dibanding-bandingkan dengan orang yang dulunya sudah dibuang dan termasuk dalam orang tak diharapkan. Kenapa belakangan ini aku selalu memiliki firasat, rupanya ayah memang ingin condong kepada Kane." David membatin.
"Kalau begitu setelah pulang dari bekerja kita ke rumah Kane," kata Park Yang begitu bersemangat.
Begitulah rencana mulai tersusun. Pada akhirnya mereka semua benar-benar mendatangi rumah Kane. Park Yang terpaku dengan kekayaan Kane. Bahkan hanya untuk rumah saja, Kane memiliki rumah mewah dengan interior dan desain yang luar biasa.
"Hebat sekali. Mana orangnya?" Park Yang menunggu dengan tidak sabar. Padahal Cindy masih baru akan mengetuk pintu.
Ceklek.
Pintu rumah mewah itu terbuka. Tiga orang yang datang ke sana langsung menoleh. Terlihat dari sana wanita cantik dengan perut buncit membuka pintu.
"Mom!" Dee berseru penuh suka cinta.
Cindy pun segera memeluk Dee dengan hangat. "Apa kabar? Kami bertiga ke sini untuk mengunjungi kalian. Maaf, ayah Kane benar-benar ingin datang ke sini. Jadi terpaksa aku harus membawanya ke sini. Ini ada hadiah untukmu."
Dee mengamati hadiah yang diberikan oleh Cindy dengan seksama. "Bukankah Mom sudah memberiku banyak hadiah? Lalu beberapa waktu lalu Mom juga kasih aku perhiasan? Kenapa hari ini masih membawa lagi?"
"Ini bukan apa-apa. Lagipula ini untuk menantu kami. Kenapa kau mempermasalahkannya? Padahal kita ini sedang bahagia karena memiliki menantu dan calon cucu. Sudah, tidak apa-apa. Jangan sungkan oke?" Cindy menggenggam kedua tangan Dee.
Tentu saja Dee hanya bisa tersenyum kaku. Ia sedikit canggung dengan kehadiran Park Yang. Dee ingat apa yang terjadi waktu itu. Park Yang ini merupakan orang yang arogan. Kane sangat tidak menyukainya. Tanpa mereka sadari bahwa di kejauhan terlihat seorang pria yang memandang tidak suka pada tiga orang tamu di rumahnya itu. Pupil mata pria itu mengamati raut wajah Dee yang terlihat senang dengan kehadiran tamunya.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Kane dengan nada ketus.
"Kane? Kau sudah pulang? Kami hanya sekedar berkunjung saja," jawab Park Yang.
__ADS_1
"Hanya sekedar berkunjung atau memang ingin membuatku berubah pikiran tentang tender besar itu?" Kane menatap tidak suka ke arah Park Yang. Kane langsung memojokkan Park Yang tanpa rasa takut. Ia terang-terangan menyerang Park Yang.