
"Aww... sakit Papa durhaka," teriak Jason ketika pantatnya yang berisi dan mulus ditabok oleh Kane hingga memerah kulitnya.
Tubuh kecil Jason ada dipangkuan ayahnya menatap lantai sedang Kane menurunkan celananya agar bisa memberi pelajaran pada anaknya agar berbicara dengan sopan dan beretika.
"Bilang lagi!" Kane melakukannya sekali lagi tapi tidak membuat Jason jera. Dia sudah terbiasa dengan hukuman seperti ini dari ibunya, tapi perlakuan Papahnya terasa lebih sakit.
"Papa jahat karena memukul anak kecil."
'Mama tolong aku dari kejamnya papa durhaka,' tangis Jason dalam hati.
Setelah itu melihat kulit anaknya yang memerah Kane menghentikan hukumannya.
''Besok, jaga sikapmu jangan jadi anak pembangkang!" Kane memperbaiki celana dan baju Jason dengan rapi.
"Tapi Papa juga jadi Papa yang baik!" tukas Jason. Membuat Kane hanya bisa menghela nafas. Ini anak sukar sekali dia kendalikan saat ini.
Dia menatap tajam pada Jason, tapi anak itu tidak ada takutnya. Malah mendekatkan wajahnya dan menatap balik Kane dengan tajam sehingga dahi mereka bersentuhan.
Mendadak Jason memeluk ayahnya. "Ayah sudah hukum aku sekarang antarkan aku ke sekolah sehingga aku tidak bosan berada di penjara ini bersama dengan Kakek Jhon. Kami bisa menjamur karena hanya duduk berdiam diri seharian."
"Belajar dari mana kalimat itu?"
"Papa tidak gaul, aku tidak harus belajar untuk bisa berbicara dengan bagus karena aku punya otak pintar. Ayo sekarang antarkan aku, jika tidak aku akan cari Papa baru yang baik."
"Siapa yang mau memungut anak bandel seperti dirimu? Panti asuhan saja tidak mau."
"Aku tahu ibuku masih hidup, aku akan cari dia dan ikut dengannya," ujar Jason berjalan pergi meninggalkan Kane yang tertegun sendirian.
Pria itu melihat ke arah Pak Jhon seperti sedang bertanya siapa yang membocorkan masalah ini pada Jesper? Pria tua itu hanya memberi jawaban dengan mengangkat bahu tidak mengerti.
Kane lantas mengantarkan Jason ke sekolahnya. Tepat di depan sekolah sebelum anak itu keluar mobil, Jason mencium Kane dan memeluknya.
__ADS_1
Kane tertegun. Dia selama ini kejam pada Jesper, Jesper pun tahu dengan sifatnya. Kini hanya satu malam dan pagi saja pikirannya berubah seiring dengan perubahan sikap Jesper. Dia berpikir bahwa apakah yang dia lakukan selama ini tidak lebih baik dari perlakuan Park Yang pada dirinya. Hatinya kembali sakit.
"Aku sayang Papah, sampai jumpa lagi. Jadi Papa yang baik agar aku tidak takut jadi anakmu. Kalau tidak aku akan mencari orang lain saja untuk mengasuhku," ujar Jason ketika mobil hendak berjalan pergi. Anak itu lantas berlari meninggalkan mobil Kane masuk ke dalam halaman rumah dan disambut oleh teman-temannya.
Kane ingin mengatakan sesuatu tetapi melihat Jesper pergi membuat dia mengurungkan niat.
Jesper asli berdiri di belakang sebuah pohon. Dia lalu mendekati Jason ketika mobil ayahnya sudah pergi.
Selama ini Ayahnya tidak pernah memperhatikannya. Kini baru satu hari bersama dengan Jason saja ayahnya mengantarkan anak itu. Jesper merasa sakit karena merasa bahwa dia anak yang tidak menyenangkan sehingga ayahnya tidak mau perhatian.
Jason yang melihat Jesper merasa prihatin dengan nasib buruknya yang mempunyai ayah yang durhaka pada anaknya.
Dia langsung memeluk Jesper erat dan mengembalikan kaca mata anak itu.
"Aku lelah jadi Jesper, aku tidak ingin mainanmu. Sekarang kita tukar peran saja."
Jesper hanya terdiam. Sepanjang hari Jesper terlihat muram. Jason bercerita banyak hal tentang dia yang tidur dengan ayahnya dan mandi bersama ayahnya. Namun, anak itu tidak menceritakan tentang kemarahan Kane yang membuat pantatnya sakit. Bahkan untuk duduk pun masih terasa sangat sakit. Namun, dia anak kuat yang akan malu jika memperlihatkan kelemahannya pada orang lain.
Hati Jesper dipenuhi rasa iri karena Jason bisa melakukan semua yang tidak bisa dia lakukan. Anak itu juga punya ibu yang baik, yang selalu menjaga dan memberinya kasih sayang. Apakah salah jika dia ingin bertukar peran selamanya dengan Jason? Toh, ayahnya bahagia dengan kehadirannya.
Jesper yang sedang memegangnya lalu memasukkan kembali bekal makanan itu.
"Kau jangan mengambil barang milikku karena aku juga tidak mengambil apapun dari sana. Perutku sudah lapar dan aku harus makan."
"Memang Papa tidak memberikanmu makan? sampai kau kelapatan?"
"Aku susah menelan jika itu bukan masakan Mama." Jesper melihat kotak makannya. Dia sayang untuk membagi dengan Jesper karena itu kotak makan pertama yang ibunya buatkan khusus untuknya
Saat jam pulang. Jesper langsung berlari ke mobil yang akan mengantarkannya pulang. Jason yang melihat tidak terima. Dia menarik tubuh Jesper, tapi Jesper melawan. Mereka akhirnya berkelahi.
"Biarkan aku pulang ke rumah Mama," pinta Jesper.
__ADS_1
"Tidak, Mama itu punya ku, kau punya Papa dan dia akan bersikap baik setelah ini," tegas Jason.
"Kalau kau suka dengan Papa kau saja yang bersamanya." Jesper lalu masuk ke dalam mobil membuat Jason tertegun dan marah. Dia ingin menarik tubuh Jesper agar mengganti posisi lagi dengannya tapi tidak bisa. Jesper sudah pergi dengan mobil sekolah yang akan membawanya pulang.
Jason melihat beberapa orang sudah mendekat ke arahnya. "Tuan, ayo kita pulang!"
***
Kane keluar dari mobilnya dan melihat Dee sedang di sudut lain gedung itu membersihkan meja di cafe yang baru dibuat. Wanita itu hanya memakai celana jeans dengan kaos berkerah bertuliskan cafe ini, namun terlihat menarik.
Dada Kane masih berdesir menatap ke arah Dee. Apalagi ketika tatapan mereka bertemu. Jantungnya berdetak dengan cepatnya. Dia rindu tapi benci perasaan yang membuatnya gila.
Rosemary yang ikut bekerja dengan Kane, langsung mendekati ketika melihat Kane ada di pelataran gedung.
"Selamat pagi, Kane," sapa Rosemary sambil melakukan cipika-cipiki. Sesaat dia sempat melihat Dee yang berada di kejauhan menatap ke arah mereka.
Dengan lembut Rosemary memeluk lengan Kane seperti seorang kekasih hati. Dia menegakkan kepalanya ketika berpapasan dengan semua orang yang melewati mereka.
Semua sapaan dari karyawan hanya didiamkan oleh mereka berdua. Sesampainya di dalam lift Kane melepaskan pelukan.
"Kau kenapa?" tanya Rosemary.
"Apanya yang kenapa?"
"Membawa wanita itu muncul kembali di depan kita."
"Dia yang datang bukan aku yang mengundang."
"Kane kau bisa melemparnya jauh dari hidupmu," ujar Rosemary dengan lembut dan rendah.
"Justru karena dekat aku bisa membalaskan dendamku dengannya."
__ADS_1
"Kane!" ujar Rosemary tidak senang. "Dia itu telah menghancurkan mu seharusnya kau membalas dengan kejam dan membuangnya jauh dari hidupmu!"
"Itu urusanku, urusanmu selesaikan pekerjaanmu!" ujar Kane meninggalkan Rosemary sendiri. Wanita itu menghentakkan kaki dengan kesal ke lantai sebelum dia berjalan cepat di mengejar Kane.