Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 67 Cara Menjerat Wanita


__ADS_3

Jason menatap Kane penuh harap, tatapan itu terasa tidak asing untuknya. Akhirnya Kane luluh. Mengangkat tubuh kecil itu. 


"Kau itu banyak maunya, ya?" ujar Kane. 


"Kalau mau menolong, menolong sakalian, Paman jangan tanggung-tanggung, kata ibuku," kata Jason. 


"Kau ini masih kecil sudah cerewet, pasti sama seperti ibumu," celetuk Kane. 


Dahi Jason yang tertutup topeng spiderman nampak berkerut. Seperti berpikir. Dia berpegang pada sisi atas toilet karena Kane melepaskannya.


Kane juga mau kencing. 


"Oh, ibuku tidak cerewet hanya saja suka mengomel, jika sudah bicara seperti kereta api tidak akan berhenti. Kami hanya boleh mendengarkan tanpa boleh menyela, kalau tidak capit crab ditangannya akan mencapit hidung atau telingamu."


"Dia pasti ibu yang sangat menyeramkan, seperti nenek sihir," ujar Kane teringat pada Cindy yang terus menghukumnya ketika masih kecil. 


"Ibuku cantik seperti bidadari, paman akan jatuh cinta padanya jika bertemu."


"Oh, ya?"


"Hmm," tanggap Jason. Mata Jason membelalak besar ketika melihat punya Kane yang besar. 


"Burung paman besar sekali, tidak seperti punyaku atau kedua pamanku, oops!" seru Jason menutup mulutnya. Dia melihat ke arah miliknya yang kecil. 


"Tentu saja, karena ini para perempuan berebut untuk jadi pacarku," ujar Kane bangga dengan miliknya sendiri yang berukuran besar. Dia memamerkannya pada Jason. 


"Apakah karena ini Nella tidak suka padaku?" gumam Jason dengan ekspresi sedih, membuat Kane menyemburkan tawa. 


Anak ini sungguh lucu sekali, pikirnya. Sangat ekspresif. 


"Dua pamanku juga tidak punya pacar, apa mungkin karena miliknya tidak sebesar punya Paman?"


Kane mengangguk, meyakinkan Jason kecil. Membuat pikiran suci anak itu menjadi kotor. 


"Bagaimana cara membesarkannya, Paman? Aku juga mau yang seperti itu ketika besar. Apakah harus beli di sopi?" Jason menanyakan itu dengan wajah serius dan muka polosnya. Membuat Kane tertawa. 


Perut Kane sampai tegang karena pertanyaan kocak dari Jason. Setelah lima tahun dia baru bisa tertawa lagi. Itu juga dengan anak Dee. Sepertinya otak kecil wanita itu diturunkan pada anaknya. 

__ADS_1


Tawanya kemudian hilang. Dia sedih karena teringat pada Dee. Apapun tentang Dee selalu dia sukai. Bahkan anaknya bersama dengan pria lain pun dia sukai. Hidup terasa tidak adil untuknya. 


Kane memasukkan kembali burungnya dan setelah itu merapikan baju yang dia kenakan. 


"Apa kau sudah selesai?" tanya Kane. Jason mengangguk. Pria itu membantu Jason memakaikan celana dan memasangkan sabuk. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pada Jesper malah dia lakukan pada anak saingannya. 


Kane menghela nafas sesak. Jason sendiri mulai melihat tangan Kane yang bebat dengan sapu tangan. Dia menyentuh dan melihatnya dengan seksama. 


"Tangan paman terluka?"


"Ya, tadi Paman memecahkan gelas," jawab Kane. 


"Sudah besar masih memecahkan gelas, memang sama Ibu paman tidak diajari jika sehabis minum gelas itu harus langsung ditaruh di meja biar tidak jatuh dan pecah. Gelas itu mahal, akan repot jika harus beli lagi. Jika ibuku tahu aku melakukannya dia akan mengomel seharian."


"Oh, ya?" Kane mulai tertarik dengan cerita anak ini tentang ibunya. Dia mengangkat Jason ke atas wastafel. 


"Apakah ibumu suka marah padamu?" tanya Kane. 


"Ya, ibu suka memukul pantatku, jika sedang marah, tetapi setelah ibu akan memelukku dan menangis karena melakukannya."


"Kenapa paman bertanya tentang ibuku? Apakah paman jatuh cinta padanya?" tanya Jason. 


"Mana mungkin, Paman tidak kenal dengan ibumu, lagi pula jika dia bertemu paman dia yang akan jatuh cinta pada Paman," ujar Kane. Dia lalu merasa jika Jason ini seumuran dengan Jesper. 


"Umurmu berapa tahun, Nak?" tanya Kane. Dia tertawa sendiri dalam hati, berharap anak ini adalah anaknya dan dokter di rumah sakit berbohong padanya. 


"Empat tahun, aku baru TK kecil," ungkap Jason. Bercermin membenarkan letak topengnya. 


"Oh, empat tahun," ulang Kane lirih, tersenyum miris. Seharusnya dia sudah tahu dari awal jika anak ini memang anak Dee dengan Rizky. 


Berarti wanita itu memang langsung menikah dengan pria itu setelah berpisah dengannya dan melahirkan anak ini satu tahun kemudian. 


Rasa sakit mengingat peristiwa lima tahun lalu kembali lagi membuatnya nyeri. 


"Paman kok malah melamun. Sekarang bantu aku turun, Paman. Aku harus kembali, jika tidak ibuku pasti akan mencemaskan aku."


"Jason? Apakah kau didalam, Nak?'' panggil Dee di pintu luar toilet. 

__ADS_1


Dada Kane kembali berdetak cepat. Rasanya masih sama seperti dulu. Padahal dia telah dikecewakan oleh Dee tapi mengapa dia masih tidak bisa membuang bayangan Dee dalam hidupnya. 


Setelah sekian lama dia mencoba bersahabat dengan keadaan, kini Dee yang lama menghilang kembali lagi ada di depannya saat ini. Dia harus apa? 


Jason berlari keluar pintu toilet dan membukanya. Lalu pintu kembali tertutup. Kane yang berada di dalam toilet itu sekilas melihat Dee di sana. Dia masih sama cantik dan terlihat lebih dewasa dan matang dari terakhir kali mereka bertemu. 


"Kau lama sekali di dalam sana, ibu sampai khawatir. Siapa yang melepaskan celanamu tadi?" tanya Dee. 


"Aku bisa sendiri," ujar Jason. 


Suara mereka lalu berangsur menghilang. Kane keluar dari toilet dan melihat ibu anak itu kembali memasuki aula pesta. 


Rosemary terlihat mendekati Kane. Langkahnya terlihat anggun dan wanita itu, nampak sempurna dengan apa yang menempel padanya. 


"Kau lama sekali Kane? Aku kira kau meninggalkan aku?" ungkap Rosemary. 


"Hmm, perutku mulas jadi lama di kamar mandi." Kane memberi alasan yang masuk akal pada Rosemary. Tidak ingin wanita itu membuat masalah lagi dengan Dee karena tahu mantan istrinya ada di sini. 


"Setahuku kau tidak suka dengan toilet umum?" Rosemary melihat Kane dengan seksama. Dia sangat faham dengan penyakit Mysophobia Kane yang suka sekali terhadap kebersihan. Malah berlebihan malah. 


"Aku sudah lama belajar untuk menghilangakannya agar aku bisa hidup di manapun juga," terang Kane. Mereka berjalan kembali ke aula. Rosemary memeluk lengan Kane dengan mesra. 


"Kau tidak menceritakan hal itu padaku?" ucapnya. 


Tiba-tiba ada telepon masuk ke handphone Kane. Rupanya dari Pak Jhon. 


"Ada apa lagi, Pak Jhon?" tanya Kane. 


"Tuan Muda terjatuh dari pohon karena menolong Candy," kata Pak Jhon dari dalam benda pipih itu? 


"Makanya sudah kukatakan untuk membuang saja binatang itu. Cari anjing atau kelinci yang tidak bisa memanjat pohon," ungkap Kane kesal. 


Rosemary terlihat menghela nafas tidak senang ketika Kane berbicara dengan anaknya. 


"Ayah saja yang dibuang, bukan kucingku!" teriak anak kecil dari dalam sana. 


"Kau itu selalu saja membangkangku!" teriak Kane kesal. Kapan anak itu mau menuruti semua omongannya. Mengapa hidupnya selalu sulit seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2