Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 93 Kedatangan Tamu


__ADS_3

Dee tidak begitu terkejut ketika Kane tahu alamat rumahnya tanpa bertanya terlebih dahulu dan mobil berhenti tepat di depan rumah.


Dee melepaskan seatbelt dan membuka pintu ketika Kane tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan mencium bibir Dee dengan setengah memaksa.


Dee memejamkan mata membiarkan Kane melakukan apa yang dia mau karena dia pun sebenarnya rindu padanya. Marah tapi rindu sulit untuk dicerna dengan otak.


Ciuman itu membuat mereka lupa segalanya dan terhanyut masuk dalam dunia sendiri. Setelah merasa puas, Kane melepaskannya. Hanya mengusap dengan tangan yang bergetar bibir Dee yang basah karena ulahnya.


Tidak mengatakan apapun hanya menatapnya dengan dalam dan sendu. Mata Dee pun berkaca-kaca membalas tatapan Kane.


Kane kembali lagi melihat ke jalan sambil memegang stir kemudi dengan erat. Jakun di lehernya bergerak dengan cepat, dia seperti menahan emosi yang mencengkram hatinya dengan kuat.


Dee pun sama tidak ingin memancing emosi Kane. Dengan canggung dan kaki masih terasa gemetar dan melayang Dee keluar dari mobil. Emilio yang melihat semua itu lantas keluar dari rumahnya dan membuka pintu gerbang sedikit. Dia mengetuk kaca jendela mobil Kane.


Kane turun, sedangkan Dee hendak mendatangi Emilio untuk menjelaskan semuanya.


"Masuk Dee!" Dengan sikap tegasnya Emilio menunjuk ke arah rumah. Dee tidak bisa melakukan apapun, dia tahu ini ranah lelaki yang tidak bisa dia masuk ke dalamnya. Dee lalu berjalan masuk ke rumah hingga ke pintu. Di pintu dia melihat ketegangan antara Kane dan Emilio.


"Untuk apa kau kembali mendekati adikku! Bukankah sudah kukatakan jika kau harus pergi dari hidupnya!" ujar Emilio dengan dada yang membusung. Air mukanya nampak mengeras.


"Sepertinya mulai hari ini aku akan memanggilmu dengan sebutan Kakak, walau terasa aneh karena kau bekas anak buahku dan umurku pun lebih tua darimu," ujar Kane santai.


"Aku hanya mengajak Dee menemui putranya, apa itu salah? Yang kedua jika Dee tidak keberatan untuk kembali bersamaku apa kau akan menentang? Itu terserah padamu. Aku tahu kau berusaha untuk melindungi adikmu tapi jika caranya salah maka akan banyak yang terluka. Tanya adikmu, apa dia juga bahagia dengan semua masalah ini! Jika kau memang kakak yang baik dan peduli dengan adikmu, kau tahu apa yang mesti kau lakukan!"


"Jangan mengajari aku apa yang baik dan buruk jika bersamamu saja bisa membuat adikku hampir mati dan celaka dua kali, aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi untuk ketiga kalinya!" tandas Emilio meninggalkan Kane sendiri. Pria itu lantas mengajak Dee masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Kane menghela nafas panjang. Besok adalah hari yang panjang dan dia tidak sabar menunggu matahari terbit.


***


"Papa mana?" tanya Jesper pada Pak Jhon mencari keberadaan Kane.


"Papamu sudah berangkat kerja lebih awal. Katanya ada pertemuan penting di luar kota," terang Pak Jhon.


Jesper merasa kecewa. Dia berharap ini hari pertamanya diantar pergi ke sekolah oleh ayahnya. Ketika dia dan Jason bertukar tempat, Jason selalu diantar oleh ayahnya dan dia juga ingin merasakan itu. Namun, kembali lagi, dia dan Jason adalah dua sosok berbeda. Mungkin Jason terlihat menyenangkan sehingga Papa memperhatikan dia. Pikiran buruk mulai merayap di otak kecil Jesper.


"Bagaimana pendapat mu tentang Mamamu?" tanya Pak Jhon menyerahkan roti panggang yang telah diberi selai kacang.


"Mama baik dan cantik, seperti Mama yang aku impikan," jawab Jesper.

__ADS_1


"Apa kau ingin Mamamu ada di rumah ini lagi?" tanya Pak Jhon.


"Tentu saja iya."


"Kalau begitu bujuk Mama dan Papamu agar kembali bersama," ujar Pak Jhon.


"Aku akan melakukannya," ungkap Jesper bersemangat.


"Bagus, anak pintar harus punya banyak ide untuk menyelesaikan masalah rumit. Di mulai dari masalah orang tuamu. Jika bukan kau yang membantu mereka bersatu siapa lagi?" terang Pak Jhon.


Jesper tersenyum indah. Senyum yang selama ini tidak dilihat oleh pria tua itu selama dia mengasuhnya. Entah Dee bersalah atau tidak Pak Jhon tidak perduli. Yang dia inginkan hanya melihat keluarga ini bahagia dan ceria agar dia bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.


Tanpa Kane tahu, Pak Jhon menyimpan penyakit yang dia sembunyikan selama ini. Penyakit liver yang sudah menyerangnya selama enam tahun ini semakin mengganas. Dia kerap merasakan sakit perut yang teramat sangat, tapi dia tidak membaginya dengan siapapun.


"Sekarang bersiaplah berangkat sekolah," kata Pak Jhon membantu Jesper bersiap dan mengantar hingga ke depan mobil.


Jesper lalu memeluk Pak Jhon ketika akan memasuki mobil. "Terimakasih karena selalu ada untuk Jesper."


Mata Pak Jhon berkaca-kaca. Dia mengangguk. Jesper masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Jesper melambaikan tangannya.


Netra yang dulu terlihat tajam kini telah menjadi sayu seiring dengan bertambahnya umur. Netra itu mulai basah ketika mobil. beranjak pergi dari rumah. Dengan tangan keriput yang sudah sedikit gemetar Pak Jhon mengusapnya.


***


Jason menatap kecewa ketika bertemu dengan Jesper di depan kelas.


"Kenapa?" tanya Jesper.


"Kenapa kau tidak bersama Papa? Padahal aku merindukannya dan ingin melihatnya. Aku kira dia akan datang mengantarmu berangkat ke sekolah."


"Papa sedang ke luar kota," terang Jesper.


"Kau tidak mau cerita tentang kemarin ketika Mama datang?" Mereka lantas masuk ke ruang kelas dan duduk di kursi masing-masing.


"Seru dan menyenangkan. Aku senang Mama memanggilku dengan nama Jesper bukan Jason lagi."


"Wah? Apakah Mama tidak curiga melihat wajah kita yang sama?" tanya Jason.


"Awalnya tidak, hanya... ketika Mama tahu sekolah kita sama, Mama langsung tahu jika yang kemarin bersama Mama itu bukan kamu tapi aku."

__ADS_1


"Lalu?"


"Ya seperti itu?"


"Seperti itu bagaimana? Kau menangis?"


"Mana pernah aku menangis," bohong Jesper yang tidak mau terlihat cengeng di depan adiknya.


"Papah?"


"Papah belum tahu."


"Aman ... aman... bahaya kalau Papah tahu. Bisa-bisa pantatku yang gemoy dan seksi ini menjadi sasaran amukannya." Jason mengusap pantatnya, teringat siksaan yang dilakukan Kane, membuat dia sulit untuk duduk karena sakit.


"Memang kau pernah di pukul Papah?"


Ketika Jason mau menjawab Bu guru masuk ke dalam kelas. Pelajaran di mulai.


"Kenapa Bu guru senang sekali memberikan soal berhitung, kita kan baru TK tidak seharusnya diberi soal yang susah yang membuat kepala pusing." Jason mengerucutkan bibirnya yang merah itu sambil menatap barisan buah dan angka yang ada di depannya.


Jesper menghela nafas. "Kau hanya perlu menghitung ini, lihat ini di tambah ini, hitung semuanya!" terang Jesper.


"Kenapa tidak kau berikan saja lembar jawabanmu, kau itu kan kakakku jadi harusnya membantu kesulitan adik."


Sebuah pukulan kecil mendarat di kepala Jason. "Kau menyiksaku!"


"Belajar agar tidak jadi bodoh. Nanti kau dibodohi orang kalau bodoh!"


"Galak sekali kau, seperti Papa!"


Tiba-tiba Bu guru kepala sekolah masuk ke kelas. Semua anak disuruh diam.


"Anak-anak, Papa dari salah satu murid di sini datang untuk menjemput pulang, sepertinya ada urusan penting. Yang melihat Papahnya membereskan barangnya ya!"


"Mari Pak," kata Bu guru itu mempersilahkan seseorang untuk masuk.


Seseorang berpakaian resmi dan rapih masuk ke dalam ruang kelas membuat dua kembar tercengang.


"Papa Burung Besar datang," teriak Jason. Jesper menutup mulut adiknya dengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2