Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 55 Memungut kenangan lama


__ADS_3

Dari sudut lain, Emilio tersenyum bangga dan mengangguk ketika Dee melihatnya.


"Maafkan mereka, Dee, Ibu Dewi tidak berniat seperti itu," ujar Cindy


"Memandang kasta dan status, kumpulan apa ini. Kane benar mengatakan jika aku tidak cocok berada dalam lingkungan ini." Dee memutar tubuh hendak melangkah pergi ketika David mencegahnya.


"Kakak ipar tunggu sebentar, kau bahkan belum makan atau minum dari sini," ujarnya.


"Kami belum menjamu mu dengan baik."


"Aku tidak perlu dijamu aku hanya butuh teman saja di sini, nyatanya aku sendiri tadi. Sudahlah, aku akan pergi," ujar Dee merapikan bajunya yang tidak kusut.


"Kakak, bukannya tadi sudah kukatakan jika aku memanggil Ibu kemari dan mencarinya," bela David.


"Aku mengerti, sangat mengerti dirimu, dik dan Mom." Dee tersenyum tapi tidak sampai ke mata. Berjalan pergi dengan kepala tegak.


"Lihat lagaknya sok sekali dia. Aku tebak dia tidak akan lama dengan Kane. Pria itu pasti hanya menunggu anak itu lahir lalu meninggalkannya," sindir ibu yang lainnya.


"Kane lebih cocok dengan Rosemary," ujar yang lain.


"Nyonya, apa kita mau pulang?" Emilio datang mendekat. Dee mengangguk dan tersenyum getir. Dia lalu masuk ke dalam mobilnya dan memejamkan mata. Pintu dan jendela mobil langsung di tutup.


Dee menutup matanya erat, menahan tangisnya untuk tidak keluar.


"Dee jangan pergi, kita bisa bicarakan ini baik-baik," ketuk Mom Cindy.


Dee menurunkan kaca jendela mobil dan melihat Mom Cindy nampak cemas dengannya.


"Mom jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan masalah ini pada Kane," ungkap Dee. Terlihat wajah lega dari Mom Cindy.


"Maaf Dee, aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini."


"Bukan masalah besar, aku dari kecil sudah biasa dihina jadi penghinaan ini bukan sesuatu yang besar dan akan membuatku jatuh. Pikiran sempit orang yang menganggap mereka yang terbaik malah akan memenjarakan hati mereka dalam kegelapan."

__ADS_1


Dee melihat ke arah Emilio dan menyentuh sedikit bahunya.


"Cepat jalan," ujar Dee. Mobil mulai melaju, meninggalkan tempat itu.


Dee terdiam menatap ke arah luar jendela dimana pohon-pohon rindang, seperti berjalan menjauhinya. Dia menunduk memainkan kukunya.


"Aku kira kau akan menangis di sana, Nyonya Dee," ujar Emilio.


"Menangis tidak akan membuatku terbantu, itu malah akan membuat mereka tertawa. Aku tidak akan membiarkannya."


Emilio melirik ke arah Dee dari kaca spion. Dia tadinya ingin mendekat dan menolong, namun Dee bisa mengatasi permasalahan itu.


"Mau kah kau mengantarkan aku pergi ke panti asuhan lamaku yang terbakar. Aku sudah lama sekali tidak kesana," ujar Dee.


"Baik, Nyonya." Emilio lalu memberi pesan lewat handphone pada Kane jika dia akan membawa Dee ke panti asuhan. Kane mengijinkan.


Sesampainya di sana Dee berjalan diantara puing-puing bangunan. Semua bangunan bagian atasnya terbakar rata, namun beberapa tembok masih berdiri. Sangat memprihatinkan panti yang dulunya sangat ramai sekarang tinggal hanya kenangan saja.


Memungut apa yang bisa ambil, menatapnya seolah mengenang kembali semuanya. Dia lalu pergi ke kamarnya berharap ada sesuatu yang bisa dia ambil dan dia simpan.


Dia menangis sambil berjongkok. "Ibu... Dee rindu dengan kalian semua," gumamnya menangis sedih.


Emilio yang melihat turut merasakan kesedihan Dee. Kedua orang tuanya pun sudah meninggal ketika dia masih bertugas di Papua. Sehingga dia tidak bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya.


Emilio ingin menyentuh kepala Dee dan memberinya semangat tapi ditahannya. Dia menengadahkan wajah agar matanya yang basah tidak mengeluarkan butiran air yang sedang merangsek keluar. Dia mengerjapkan mata cepat.


Emilio dengan setia menemani Dee.


"Nyonya, ini sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang. Tuan pasti sebentar lagi pulang."


Dee melihat jam yang melingkar di tangannya. Pukul empat lebih tiga puluh lima.


"Aku ingin membawa semua barang ini pulang," ujar Dee menunjuk ke tumpukan barang yang dua pungut dari tadi

__ADS_1


"Untuk apa Nyonya?"


"Untuk kenangan agar suatu hari jika ada orang memujiku aku sadar jika aku hanya orang miskin yang diberi baju dan perhiasan dari suaminya. Aku seperti babi yang dikalungi berlian. Berlian itu jadi tidak berharga ketika kukenakan."


"Nyonya perkataan mereka jangan diambil hati," ungkap Emilio sedih.


"Kau benar, tapi yang mereka katakan pun benar."


Dee memeluk foto yang diambilnya tadi pergi menuju ke mobilnya. Mereka lantas kembali ke rumah.


"Bawalah barang-barang itu ke belakang, suruh pelayan untuk membersihkan atau membetulkan bagian yang rusak."


"Baik, Nyonya," kata Emilio. Dee naik ke kamarnya. Dia meletakkan foto itu di atas meja sofa lalu pergi ke kamar mandi.


Seperti biasa dia menyalakan keran dan mulai menangis terisak di sana. Bagaimanapun penghinaan yang orang-orang itu lakukan sangat melukai hatinya. Apa salah menjadi anak panti dan miskin? Dia juga ingin menjadi wanita yang lahir dari keluarga kaya namun nasibnya berkata lain dan seumur hidup dia tidak pernah menyalahkan takdirnya. Baru kali ini dia pikir Tuhan telah melakukan hal tidak adil untuknya. Oleh karena itu, dia kini menanggung penghinaan ini.


Dia teringat wanita yang pernah menemuinya dan mengatakan jika dia ibunya. Wanita itu sangat kaya lantas mengapa dia sampai tega membuangnya ke panti? Sungguh kejam.


Setelah menyelesaikan pertemuan penting dengan klien. Kane buru-buru pulang ke rumah. Dia mengkhawatirkan keadaan Dee. Dia langsung masuk ke kamar dan mendengar suara gemericik air. Pintu kamar mandi tidak dikunci, Kane membukanya. Lagi-lagi dia melihat Dee yang duduk menangis di kamar mandi.


Wanita itu sangat suka sekali menyembunyikan kesedihannya. Memilih untuk menangis di kamar mandi dari pada berbagi dengan orang lain. Kane sudah curiga jika ini pasti akan terjadi.


Kane lantas pergi mencari Emilio. Pria itu dia temukan sedang ada di belakang merapikan beberapa pigura rusak. Ada beberapa barang lain pula seperti boneka, celengan ayam, buku yang kotor ada di sana.


"Tuan," sapa Emilio bangkit. Pria itu lantas mengerti arti tatapan Kane yang tertuju ke arah barang bekas itu.


"Semua ini milik Nona Dee, dia mengambil nya tadi dari panti asuhan.''


Kane berjongkok lantas melihat isi dalam kotak kardus itu.


" Apa yang terjadi tadi di rumah Yang?"


"Seperti yang kita perkirakan Tuan, jika ada beberapa orang yang tidak senang dengan kehadiran Nona Dee akan melayangkan hinaan padanya," ujar Emilio. Kane lantas mendengarkan semua secara seksama.

__ADS_1


"Cindy dan David tidak membantunya? Ini sungguh sangat keterlaluan! Ternyata membuatku menderita tidak juga membuat mereka puas, mereka pun ingin membuat istriku ikut menderita juga," geram Kane.


__ADS_2