
Dee membuka matanya dengan malas. Entah mengapa hari ini dia malas sekali untuk bangun. Tubuhnya terasa pegal dan lelah. Kepalanya juga berdenyut sakit.
Tiba-tiba rasa mual menerjangnya. Dia langsung menyibak selimut dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya.
Kane yang mendengar suara Dee dari kamar mandi langsung bangun dan berjalan mendekatinya.
Dia membuka pintu kamar mandi dan melihat istrinya nampak lemas berpegangan meja keramik wastafel.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kane.
"Entahlah," ujar Dee yang merasakan kembali gejolak di perutnya.
"Kau keluar saja," perintah Dee yang tahu jika Kane orangnya mudah jijik terhadap barang kotor.
Dia memuntahkan kembali isi perutnya. Kane bukannya pergi langsung mendekat dan memijat tengkuk Dee.
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya dan membersihkan diri, Dee dibantu Kane kembali ke tempat tidurnya.
Kane lantas memanggil pelayan untuk membawakan Dee teh hangat. Dia menyelimuti Dee.
"Aku akan memanggil Dokter kemari," ujarnya menelfon Dokter.
"Mungkin aku hanya masuk angin biasa," ujar Dee.
"Mungkin juga kau hamil," lanjut Kane.
"Kita baru sebulan lebih bersama."
"Dulu juga baru satu kali kau hamil. Memang bibirku itu unggul karena aku selalu menjaga kesehatan dan makananku."
Dee menatap malas pada suaminya yang mulai narsis. Sifat itu tetap tidak bisa hilang dari Kane.
"Nyatanya, kau bertahun-tahun dengan wanita lain tidak ada yang hamil. Berarti aku memang yang subur."
Kane menghentikan kegiatannya menatap ke arah Dee.
"Aku tidak pernah membiarkan diriku menyentuh wanita lain tanpa pengaman. Jadi jangan ungkit lagi wanita lain di antara kita," ucapnya serius.
Dee menutup mulutnya rapat. Entahlah terkadang mengingat itu membuat hati Dee sakit. Dia sendiri enggan untuk disentuh pria lain selama berpisah dengan Kane dan pria itu malah sudah bersama wanita lain. Kane tidak sepenuhnya salah hanya saja rasanya tidak bisa menerima sepenuh hati.
Tidak lama kemudian, kembar berlari masuk ke dalam kamar.
"Mama sakit?" tanya Jason langsung naik ke atas tempat tidur. Sedangkan Jesper memilih berdiri di sebelah Dee. Dee duduk bersandar dan meminta anaknya untuk duduk di sebelahnya.
"Mama hanya pusing biasa. Tidak enak badan. Mungkin kurang tidur," kata Dee.
Jason dan Jesper melihat ke arah Kane.
__ADS_1
"Ini pasti karena Papa yang nakal!" Jason meletakkan tangannya di pinggang.
"Oh, tidak. Ini kesepakatan kami agar kalian segera mempunyai adik. Kalian ingin punya adik kan?"
Jason menyipit mata tidak percaya, lantas menatap ke arah Mamanya. "Benar Ma, buat adik untuk kita? Memang bahannya apa saja?"
Dee menghela nafas dalam. Sedangkan Jesper menepuk jidatnya. Kane menahan tawanya. Anaknya yang satu ini memang tidak terlalu pintar tapi selalu bisa membuat orang tertawa.
"Bahannya adalah dengan cinta Mama dan Papa. Nanti jika sudah besar kau akan tahu," jelas Kane.
"Cinta, aku tidak mengerti," ujar Jason.
"Otak kita belum akan faham dengan hal ini. Nanti jika kita sudah dewasa baru mengerti."
"Kemarin Yaya bilang cinta padaku, ingin jadi pacarku. Apakah nanti Yaya juga akan punya anak?"
"Jason kau masih kecil, sudah berpikir anak perempuan lainnya. Seharusnya kau gunakan otakmu yang cerdas ini untuk belajar berhitung. Bu guru mengatakan kau sangat sulit sekali untuk diajak belajar berhitung dan membaca." Lalu Kane menasehati Jason panjang dan lebar membuat anak itu terdiam.
"Aku akan mandi dan sekolah, Pah," sela Jason sebelum Papanya membuat kepalanya sakit seperti ibunya.
"Mama lekas sembuh agar adik cantik segera keluar dari perut Mama," ujar Jason mencium Mamanya lalu berlari pergi.
"Jason, Papa belum selesai bicara."
"Dilanjutkan nanti sore saja Papa, aku nanti terlambat sekolah," kilah Jason berlari cepat.
"Mama lekas sembuh. Semoga adik bayi lekas ada untuk bisa menemani kita."
Dee memeluk Jesper dan mencium dahinya. "Terimakasih, Sayang atas doanya. Mama tidak bisa membantu kalian bersiap pergi ke sekolah."
"Kami sudah besar, jadi bisa sendiri."
"Kau bantu juga Jason ya, dia suka ceroboh lupa akan sesuatu."
"Iya, Mama." Jesper lantas pergi.
"Kau membuatnya menjadi anak yang baik seperti itu, dia terlihat dewasa." Kane menanggapi pernyataan Dee dengan tersenyum kecut.
Jika melihat Jesper, timbul penyesalan di hati Kane. Dia dulu sangat keras dan dingin pada anak itu sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang pendiam.
"Kau juga membuat Jason menjadi pribadi yang menyenangkan. Dia apa adanya dan selalu bersemangat serta berani mengeluarkan pendapatnya. Kau wanita yang hebat, Dee." Kane duduk di samping Dee. Mencium pucuk kepalanya. Tangan mereka saling bertautan erat.
"Kau tidak bersiap-siap ke kantor?"
"Bagaimana aku bisa pergi jika melihat istriku sedang sakit seperti ini." Dee bersandar manja pada Kane.
Suara ketukan membuat Dee dan Kane terhenyak.
__ADS_1
"Tuan, Dokter sudah datang," ucap suara Patrick dari luar pintu.
"Bawa dia kemari," ujar Kane. Dia lalu bangkit dan merapikan sisi tempat tidur serta selimut.
Dokter masuk ke dalam kamar bersama dengan Patrick. Dia lalu memeriksa Dee.
"Kapan terakhir kali Anda datang Bulan?" tanya Dokter itu.
"Dua bulan lalu, tapi aku biasa terlambat datang bulan," jawab Dee.
"Bagaimana Dokter?" tanya Kane tidak sabar.
"Sepertinya ini hanya gejala hamil saja, kalian bisa memeriksakannya kembali ke dokter spesialis kandungan."
"Sungguh?" Wajah Kane nampak berseri-seri. Dia langsung memeluk dan mencium dahi Dee.
"Terimakasih, Sayang."
"Dokter bilang ini gejala belum pasti," balas Dee.
"Kemungkinan besar Anda sedang hamil, Nyonya," imbuh Dokter itu. "Aku menyampaikan selamat atas kehamilan Anda ini. Apakah ini adalah kehamilan pertama?"
Belum juga Dee menjawab Kembar yang sudah berpakaian rapi hendak pergi ke sekolah masuk.
"Mama, kok Dokter ada di sini?" tanya Jason bingung. Biasanya ibunya akan sembuh dengan obat warung saja, tidak perlu membawa Dokter. Lagian Dokter itu kan membawa suntik yang menyakitkan.
"Dokter memeriksa keadaan Mama, Sayang," jawab Dee.
"Tidak minum bodede saja. Nanti biar Jason belikan."
"Eh, Mama kalian tidak boleh minum obat sembarangan."
"Biasanya Mama minum itu langsung sehat. Ya kan, Ma," ujar Jason naik merangkak ke atas tempat tidur mendekati Dee.
"Wah jadi mereka ini anak pertama kalian? Kembar yang tampan karena ayah dan ibunya juga cantik dan tampan." Dokter itu mendekati Jesper dan mengusap kepalanya.
Kane mengangguk. Menatap bangga pada kedua anaknya.
"Di perut Mama kalian sepertinya ada adek bayi. Jadi tidak boleh minum obat sembarangan."
"Wah, adek bayi. Kita akan punya adek bayi Jesper," seru Jesper senang. Dia turun dan melompat-lompat sambil memegang tangan Jesper.
"Hore," serunya senang.
"Terimakasih Dokter, Anda membawa berita bahagia untuk kami," ujar Kane ketika Dokter itu undur diri.
"Saya juga senang menjadi bagian kebahagiaan kalian," lanjut Dokter itu.
__ADS_1