
Hari berganti hari dan kesedihan atas kematian Pak Jhon sedikit demi sedikit mulai hilang. Mereka mulai bangkit saling menguatkan. Dee yang paling berperan penting membuat senyum dan tawa kembali terbit di keluarga ini.
"Bangun, Sayang," ucap Dee membangunkan Kane yang masih memejamkan matanya. Dia duduk di sebelah suaminya sambil mengusap lembut pipi Kane.
Dengan manjanya Kane meletakkan kepalanya dipangkuan Dee. Lalu memeluk wanita itu dan menghirup aroma sabun bercampur parfum milik Dee yang masih terasa segar.
Dee menunduk. "Kane, bukankah kau ada rapat pagi ini. Tadi malam kau bilang harus berangkat pagi sekali," ujar Dee.
Dengan malas Kane membuka matanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia ingin libur panjang dan bisa bermalasan di rumah.
"Bangun dan pergi bekerja jika tidak kau tidak akan bisa membelikanku tas mahal seperti punyanya Jisoo."
Kane langsung membuka matanya. Untuk pertama kalinya Dee meminta sesuatu.
"Kau minta apa? Tas siapa jelong apa Miso?" kata Kane.
"Jiso, dia brand ambassador sebuah produk ada tas yang kuinginkan, tapi harganya mahal. Jika kau tidak bekerja, kau tidak bisa membelikannya."
"Kau benar-benar ingin?" tanya Kane. Dee mengangguk. Dia pikir Kane tidak akan memberikannya karena harga tas itu bukan ratusan juta tapi milyaran. Lagipula edisi tas itu hanya terbatas. Hanya tiga saja produksinya dan itu sudah dipesan oleh orang.
Dee hanya ingin Kane bangun dan beraktivitas dengan semangat. Tidak loyo seperti kemarin-kemarin. Mungkin semangat kerjanya hilang karena biasanya ada Pak Jhon yang seringnya mendampingi atau memberikan nasehat jika dia dalam masalah.
"Ck, kau tidak akan bisa membelikannya jika hanya bermalas-malasan dan tidak mencari uang. Sana, bangun dan pergi bekerja seperti biasa. Sudah tujuh hari dan kita sudah cukup dalam masa berkabung. Bukan aku tidak bersimpati, aku hanya ingin kau bangkit seperti menjadi Kane yang biasanya."
Kane masih mengenyitkan dahinya seperti tidak percaya jika Dee meminta sesuatu hal yang mahal padanya. Bukannya dia tidak mau membelikan hanya saja itu bukan seperti Dee yang biasanya.
Dee lalu pergi ke kamar anaknya untuk membangunkan dua jagoan miliknya. Begitu membuka kamar dia terkejut melihat Jesper dan Jason yang sudah bersiap ke sekolah.
"Kalian sudah siap?" tanya Dee. Mendekat.
Kembar menganggukkan kepala bersama-sama. Dee menatap ke arah Jason. Anak itu biasanya malas bangun cepat kenapa sekarang tiba-tiba berubah? Apakah karena Jesper?
"Anak Mommy manis-manis. Jason kau hebat bisa mandi sendiri."
"Ck, aku itu sudah besar. Aku malu pada cewek-cewek di sekolah kalau masih dimandikan Mommie," ujar Jason membuat Dee menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Aku bilang akan bilang pada teman perempuan di kelas kalau Jason masih dimandikan oleh Mommie. Dia takut jadi mandi dan berpakaian sendiri."
"Aku adalah idola mereka, aku tidak mau mereka melihat remeh diriku," ujar Jason sambil menyisir jambulnya.
__ADS_1
"Jason kau masih kecil tidak perlu memikirkan wanita."
"Aku hanya mengikuti petunjuk Om Emilio jika pria keren itu banyak wanitanya, makanya Om banyak ceweknya," ungkap Jason. Jesper menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala.
Dee menghela nafas panjang. Kakaknya itu telah meracuni pikiran kecil Jason dengan hal tidak berguna.
"Papah juga keren makanya banyak wanita yang mengejar dan yang suka termasuk Mama."
"Papah yang suka Mama," bela Jesper.
Jason menyipitkan mata menatap Mamanya. Dee menyorot tajam ke arah Jason.
Jason langsung berlari menyingkir sambil memegang pantatnya.
"Ampun Ma jangan pukul lagi."
Dee baru akan memberi pelajaran anaknya ketika pelayan datang.
"Nyonya, Anda dipanggil oleh Tuan."
"Awas ya, nanti Mama tidak buatkan bekal!"
"Ini anak!" Dee langsung ke kamarnya dan mendapati Kane masih duduk di pinggir tempat tidur tanpa memakai baju hanya ditutupi handuk saja.
"Kau belum memakai baju?"
"Aku menunggumu menyiapkannya," ujar Kane sambil melipat tangan di dada menatap Dee.
"Biasanya kau juga apa-apa sendiri sekarang mengambil baju sendiri saja tidak mau padahal sudah aku siapkan di ruang ganti," omel Dee masuk ke ruang ganti dan mengambil jas lengkap dengan dasi berwarna merah.
"Merah?"
"Agar hidupmu lebih berwarna," jawab Dee mulai mengambil kemeja dan memakaikannya pada Kane.
"Hari ini Jason pintar sekali mandi dan pakai baju sendiri. Aku pikir pekerjaanku akan berkurang nyatanya Jason besar malah yang manja," gerutu Dee memasangkan kancing baju Kane.
Setelah itu, mereka sarapan bersama dalam suasana hangat. Rumah yang biasanya sepi dan hanya ada suara tangis Jesper kini berubah menjadi ceria lagi.
"Cendol, kau mau ayam goreng? Aku bagi punyaku," ujar Jason pada kucing yang saat ini berada di kaki Jesper.
__ADS_1
"Emo...h," jawab Candy.
"Kau itu menyebalkan semenjak ada Jesper tidak mau main sama aku," ujar Jason. "Aku akan beli anjing pudel saja yang lebih lucu."
"Anjing?" Jesper nampak tidak suka.
"Jason," ujar Dee tidak suka jika anaknya itu mulai memprovokasi.
"Apa ada yang salah, anjing kan lucu."
"Lebih baik beli kucing pria saja agar Candy punya teman."
"Kucing jantan," potong Dee pada Jesper.
"Itu maksudku Ma, hanya saja aku lebih suka kucing pria karena Candy itu wanita."
Dee hanya bisa memutar malas bola matanya.
"Dee kalau kau suka kucing jantan yang perkasa kan?" celetuk Kane dengan wajah datar dan dingin sambil memakan sandwich.
"Hentikan pembicaraan kucing ini!" seru Dee kesal. Tidak Papa dan anak, sama-sama menguras energi."
"Aku ingin berlibur," celetuk Dee kesal karena ingin libur santai tanpa diganggu Kane dan Kembar.
"Iya, Papa belum pernah mengajak kami berlibur," ujar kembar kompak menyetujui saran Mamanya.
Sedangkan di tempat lain,
"Om, aku hanya ingin menikah dengan Kane. Jika Om bisa melakukan itu aku akan jadi menantu Om yang baik dan menuruti semua keinginan Om."
"Kane tidak bakal memutuskan hubungannya dengan wanita itu, Rose."
"Aku tidak meminta agar Kane bercerai dengan Dee. Hanya saja aku ingin jika aku menikahi Kane," ungap Rosemary penuh harap.
"Lalu jika begitu apa maumu!" ujar ayah Ben.
"Aku bersedia menjadi istri kedua Kane asal bisa memiliki pria itu walau harus berbagi dengan Dee."
"Kau gila, Rose. Kita adalah orang terhormat tidak layak meminta posisi kaum rendahan."
__ADS_1
"Pa, walau aku yang menjadi istri kedua tapi aku pastikan jika posisi utama ada padaku. Hubungan Kane dengan Dee belum terekspos ke media. Jadi jika aku yang selalu menemani Kane setiap waktu mereka tahunya hanya aku istri Kane. Lagipula Dee bukan wanita pandai yang bisa membantu usaha Kane. Hanya aku yang bisa menghandle pekerjaannya, hal itu tentu akan membuat aku lebih unggul dari posisi istri pertama," jelas Rosemary terang-terangan.