
"Apakah semua sudah selesai?" tanya Linda.
"Sudah, Ma. Semua sudah selesai dikemas. Tapi kenapa aku harus di kursi roda?" balas Dee.
"Ini perintah suamimu. Biar kau tidak kelelahan. Bukannya kau seharusnya senang? Suamimu sangat perhatian. Tidak semua perempuan yang mendapatkan kesempatan sepertimu, Dee. Mama rapikan rambutmu." Linda menyisir rambut Dee dengan lembut.
"Tapi tidak enak, Ma. Rasanya aneh saja. Padahal Dee masih bisa berjalan," keluh Dee.
"Sudah. Menurutlah pada suamimu. Dia sudah lelah mengurus 3 anakmu. Jangan merengek lagi. Suamimu sudah benar. Dia mencoba untuk menjadikan istrinya seorang ratu dalam hidupnya. Hargailah usaha Kane itu, Dee." Linda memberikan nasihat untuk Dee.
Hening melenggang. Tidak ada lagi yang bersuara. Linda menyisir rambut Dee dengan lembut. Linda seperti ingin mengulang masa di mana ia tidak pernah menyisir rambut Dee ketika Dee masih kecil. Seulas senyuman terbit di bibir Linda. Tidak ada yang menduga bahwa hal ini akan terjadi. Kesempatan baik ini datang dan membuat Linda dapat menebus semua kesalahan di masa lalu.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Kane.
"Sudah, Kane. Kemarikan Ara. Aku ingin menggendongnya," pinta Dee.
"Tidak. Kau baru saja sembuh. Jangan sampai kau kenapa-kenapa. Kau tidak boleh kelelahan. Aku akan menggendong Ara. Ma, boleh minta tolong bawa istriku? Aku harus menggendong cucu Mama yang cantik ini." Kane akhirnya meminta Linda untuk mendorong kursi roda Dee.
"Dengan senang hati, Kane," jawab Linda.
"Apa? Kane! Apa kau tidak merasa berlebihan? Ini berlebihan oke! Kau sudah membawa Ara, setidaknya aku bisa jalan kaki sendiri. Jangan merepotkan orang lain, Kane. Kau sangat berlebihan," gerutu Dee.
"Mama tidak keberatan, Dee. Sudahlah. Anggap saja ini sebagai penebusan dosa mama di masa lalu. Kalau kau tidak mau menuruti kata-kata Kane, beri mama kesempatan untuk menebus dosa mama," sela Linda.
"Tapi, Ma!"
__ADS_1
"Hargai suamimu." Dua kata dari Linda yang cukup menohok di hati Dee. Membuat Dee tak lagi membantah. Sebenarnya dalam hati Dee, ia sangat terharu karena Kane sangat perhatian kepadanya.
"Aku ingin kau tidak terlalu banyak bergerak. Tugasmu hanya makan dan memberikan minum untuk Ara. Seharusnya kau memahami keinginanku, Sayang. Aku juga tidak ingin Kau terlalu lelah. kalau begitu ayo kita pulang." Kane berjalan mendahului semuanya.
Ia memimpin jalan bagi semua orang. Dee hanya bisa pasrah saat Kane sama sekali tidak mendengarkannya. Pada akhirnya mereka semua mengikuti Kane yang berjalan terlebih dahulu. Dee maupun Linda juga mengikuti di belakang Kane tanpa bicara apapun.
Mobil Kane melesat membelah jalanan ibukota yang berdebu. Suasana di sore hari seperti ini sangat bagus untuk melihat keadaan sekitar di mana matahari mulai tenggelam. Akan tetapi buruknya di saat sore hari ini adalah situasi mulai macet karena memasuki jam pulang bekerja dari.
Sebenarnya Dee diperbolehkan untuk pulang saat pagi hari. Namun Kane tidak mengizinkan untuk istrinya itu pulang pagi sesuai arahan dokter. Setelah menghabiskan beberapa waktu, akhirnya mereka semua sampai di rumah Kane.
Dee sangat bahagia akhirnya ia bisa menjejakkan kakinya di rumah kembali. Dee sangat menyukai suasana rumah ini. Padahal sudah mengajaknya untuk ke rumah yang lebih besar milik Ken. Mengingat saat ini mereka saja sudah memiliki 3 orang anak.
"Dor!"
Dee tersentak kaget saat mengetahui ada kejutan ketika dirinya membuka pintu rumah. Wanita itu terkejut Bukan main saat menyadari ada banyak orang yang datang ke rumahnya. Tak hanya itu. Rumah besar itu dihias sedemikian rupa. Seperti sedang merayakan sebuah pesta yang besar. Dia tak lagi mampu membendung rasa bahagianya. Air matanya jatuh berurai dengan sendirinya tanpa permisi.
Sepertinya Kane membawa anak-anak panti untuk menyambut kepulangannya. Kedua mata Dee berbinar bahagia. Suaminya yang dulu sangat kaku itu kini sudah membuktikan bahwa ia merupakan suami yang sangat siaga.
"Mereka menyambutku pulang?" Dee menunjuk satu banner yang menunjukkan ucapan selamat datang untuknya. Hingga tak lama kemudian si kembar datang.
"Selamat datang kembali, Mama!" Jesper dan Jason memeluk Dee secara bergantian. Hal ini membuat Dee sangat terharu.
"Terima kasih anak-anak mama. Mama senang sekali memiliki anak-anak yang pintar seperti kalian berdua." Dee lalu memberikan kecupan di kening Jesper dan Jason. Seolah sedang menunjukkan cintanya yang besar untuk mereka berdua.
"Apa Mama tahu? Jason sudah menjadi anak yang baik. Jason juga membantu Bibi pelayan dan Papa menyiapkan kamar Ara. Sekarang kamar Ara sangat cantik, Ma. Bukankah Jason hebat, Ma?" Jason bercerita dengan menggebu-gebu. Bocah laki-laki itu tampak penuh semangat.
__ADS_1
"Hei! Lalu bagaimana denganku? Aku juga membantu Papa. Kenapa kau tidak menyebut namaku di dalam penjelasanmu? Rasanya kau sangat ingin mendapat hati Mama," cibir Jesper.
Kini dua orang anak laki-laki itu berdebat. Membuat suasana yang sedikit riuh. Pada akhirnya Dee ikut tertawa bersama orang-orang karena Jesper dan Jason sama-sama tidak ada yang mengalah. Dee baru menghentikan gelak tawanya saat melihat wajah sang kakak yang baru muncul itu.
"Adikku, selamat datang kembali ke rumah ini. Selamat ya atas kelahiran putri bungsu yang sudah melengkapi keluarga kalian. Bersyukurlah kau memiliki mereka semua." Emilio memeluk Dee sekilas.
"Terima kasih. Aku tidak menyangka akan mendapatkan kejutan ini." Dee sangat bahagia karena semua orang bersuka cita menyambut kepulangannya.
"Bersyukurlah karena kau memiliki suami yang luar biasa hebat seperti Kane, Dee. Dia bisa berubah dan lihat sekarang. Kane sangat bertanggung jawab dan ia bisa membuatku percaya bahwa dia sangat mencintaiku." Emilio memuji Kane yang dinilainya sabar mengurus si kembar.
"Halo, Dee." Seseorang menyapa Dee. Tentu saja Dee menoleh dengan cepat karena ia merasa mengenali suara itu.
"Kak Rizki? Kakak datang ke sini?" Dee cukup terkejut karena Rizki datang bersama Anna. Dahi Dee mengerut karena sepertinya dua orang itu sangat terlihat bahagia. Bahkan Anna sampai tersenyum tiada henti.
"Bagaimana kabarmu, Dee? Apa kau sudah sehat?" tanya Rizki.
"Ah! Aku sehat. Ya, aku sehat-sehat saja. Kehadiran kalian berdua sungguh mengejutkan," jawab Dee.
Rizki menoleh ke arah Anna. Gadis itu lalu membuka tas kecil yang ia bawa. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas. Setelah dapat, Anna memberikan satu kertas kepada Rizki.
"Ada apa?" tanya Dee tidak sabar.
"Ini undangan pernikahanku dengan Anna. Jika kau menganggap kita berteman baik, maka datanglah bersama keluarga kecilmu, Dee. Aku sangat mengharapkan kedatangan kalian semua." Rizki memberikan surat undangan kepada Dee.
Buru-buru Dee menerima dan membacanya cepat. Mulutnya tidak tertutup rapat. Lantas setelah Dee membaca undangan itu segera mengangkat wajah dan menatap Rizki dengan tatapan yang tidak percaya.
__ADS_1
"Apa ini? Kalian berdua akan menikah?"