Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 22 Merajuk kesal


__ADS_3

Setelah kejadian itu kan menjadi pribadi yang berbeda. Dia sedikit lembut walaupun sikap dingin yang tidak bisa dirubah namun hal itu membuat merasa nyaman. Kehamilan terasa lebih ringan Untung saja dia tidak seperti wanita lain yang mengalami 'ngidam'. Kehamilannya biasa saja dia rasakan.


Hingga suatu malam. Kane mendatangi kamarnya. Dia berbaring mendekat ke arah Dee dan mencium rambutnya dalam. Lantas memeluknya erat. Dee yang sedang tertidur pulas mulai terusik dengan kehadiran Kane.


"Kane, apa yang kau lakukan?" tanya Dee terkejut mundur ke belakang menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bukankah kita pernah membicarakan hal ini jika aku akan meminta hal ini darimu. Aku telah menahannya lama dan aku tidak bisa menahannya lagi," ungkap Kane jujur.


Dee bisa melihat binar gairah di mata Kane yang kelam. Dia nampak bingung. Dia memang tidur di kamar pria itu namun setiap malam Kane memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja dan pagi ketika dia baru bangun Kane sudah mulai bersiap.


"Kau tahu jika kata dokter kita tidak ... ." kata-kata di tenggelam dalam mulut mulai menyerang kalau ini tapi hanya terdiam tidak memberontak atau melakukan sesuatu yang bisa memancing kemarahan Kane.


Dee merasa ada yang berbeda. Kalau ini kan berasa kaki lebih lembut dan berperasaan tidak menggebu seperti biasanya. Hentikan gerakannya ketika hati mulai kehabisan nafas. Dia lantas berbisik di telinga Dee.


" Aku janji akan pelan. Hanya butuh dirimu saat ini," ungkap Kane dengan suara serak dan berat. Membuat Dee seperti terhipnotis dalam lingkaran kabut gairah pria itu.


"Kane ... ," panggil Dee yang hilang ditelan gelombang hasrat yang Kane ciptakan.


Dee memejamkan mata dengan kepasrahan penuh seluruh Indra yang seolah bernyanyi dan sarafnya seakan terbakar ketika ciuman itu tidak datang juga.


Mulut Kane berada sesenti diatas mulutnya. "Bukalah matamu!" perintah pria itu.


Dee membuka matanya patuh dan dia menatap pria itu, jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa saat. Dia melihat fitur maskulin garis aristrokat sang majikan.


"Aku tidak ingin kau yang diam seperti patung," ujarnya.

__ADS_1


Dee tertawan tatapan malas dan yakin dari pria itu. Jantungnya mulai berdebar-debar sementara panas membakar tubuhnya. Mungkin harusnya bersikap lebih dingin, tetapi terlalu bersemangat hal untuk bisa mengingat arti dingin. Sepertinya ini bawaan dari hamil yang ingin meminta disentuh membuat libidonya naik begitu Kane datang mendekat. Pikir Dee.


Dee dicengkram kenikmatan dahsyat meledak-ledak yang meningkat sewaktu mulut game akhirnya meluncur ke mulutnya dengan keterampilan luar biasa.


Lidah Kane menjelajahi bagian dalam mulutnya dengan terampil dan cantik langsung meleleh, mengerang pelan di tenggorokan sewaktu akan mengarahkan tubuhnya yang menggeliat bersentuhan dengan tubuh maskulin pria itu.


Dee melayang dari bumi ke langit, langsung diterjang ******* setelah sebelumnya Kane dengan sabar membuatnya merasakan pemanasan yang tidak berujung. Dia merasakan puncak yang menghancurkannya.


Samar-samar dia mendengar umpatan tidak percaya Kane dan ritme pria itu yang tiba-tiba goyah sewaktu hilang kontrol diri karena respon tubuh Dee yang di luar dari perkiraannya.


Dee menyebutkan nama pria itu, membenamkan jarinya ke kulit licin pundak pria itu. Tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan ketika setiap dorongan gairah mengantarkannya kembali ke langit.


Hingga akhirnya mereka berbaring di sana puas dan kelelahan.


"Aku tidak tahu ternyata aku bisa sampai seperti ini," ucap Dee pelan dengan pipi yang menempel di dada Kane.


Kane yang sekarang begitu lembut, penuh gairah dan menuntut serta penuh perhatian. Membuat benteng yang Dee bangun tinggi-tinggi kini mulai membuka sedikit pintunya untuk bisa menerima Kane. Walau untuk sementara setidaknya sampai anak ini lahir.


Terdengar hembusan nafas berat Kane. Pria itu lantas melepaskan diri dari Dee dan turun ke lantai. Mengambil jubah dan memakainya.


Tanpa mengucapkan satu kata pun Kane pergi ke pintu dan membantingnya. Dee bingung, gelisah dan hatinya terluka. Dia berbaring melihat ke arah pintu dimana Kane telah keluar begitu saja.


Satu Minggu berlalu dan pria itu tidak pernah kembali ke rumah ini. Serasa ada yang hilang dalam diri Dee. Dia mulai memikirkan sebenarnya apa yang salah dalam kejadian terakhir mereka bersama. Apakah ada kata-katanya yang salah dan membuat Kane marah? Dee tidak pernah tahu isi hati Kane.


"Nona makanlah!" kata Butler yang melihat Dee merenung sendiri di depan meja makan. Tangannya memangku wajah dan menatap kosong ke depan.

__ADS_1


"Aku tidak nafsu," ujar Dee beranjak pergi.


"Nona, Tuan memerintahkan saya untuk memaksa Anda untuk makan. Anda bisa sakit jika seperti ini," paksa Butler.


Emilio yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela nafas. Sejak peristiwa itu, dia dilarang keras oleh Kane untuk dekat dengan Dee. Dia hanya boleh mengawasi dari jarak tertentu.


"Apakah dia perduli aku makan atau tidak? Tidakkan? Yang dia pedulikan itu hanya anaknya saja!" omel Dee kesal.


"Dan kau kenapa kau masih saja bersikap seperti patung, aku bosan dengan tingkah kalian yang melakukan sesuatu harus sesuai dengan perintah majikannya. Kalian itu manusia mata, pikiran, dan hati. Bukan robot yang baru mengatakan sesuatu sesuai ... ." Dee merasa kesal.


Biasanya ada Emilio yang dia ajak bicara kini tidak ada satu orang pun yang mengajaknya bicara atau berkomunikasi layaknya manusia pada umumnya. Mereka hanya datang untuk menawarkan sesuatu lantas pergi hanya itu.


Dee mengambil vas diatas meja hias dan melemparnya ke arah Emilio. Dengan gesit pria itu bisa meraihnya.


"Kau seperti binatang saja yang mendekat ketika bola dilempar! Aku rindu dengan Emilio yang dulu yang mengajakku berbicara. Kalian ini kenapa menjadi bersikap dingin seperti ini padaku!" pekik Dee.


"Nona kami tidak bermaksud mengabaikan Anda. Hanya saja kami tidak boleh melakukan interaksi lebih dengan Anda."


"Oh, seperti itu. Dia pergi lalu melarang kalian berbicara padaku! Okey, kalau begitu kalian anggap saja aku tidak ada. Tidak usah menawariku makan. Aku akan lihat apakah dia juga perduli atau tidak? Aku lebih baik mati saja dari pada menggila di tempat ini."


Dee langsung naik ke kamar atas dengan kaki yang dihentakkan ke lantai. Butler dan Emilio saling berpandangan.


"Jika Nona Dee masih belum makan maka kita yang akan dapat masalah."


"Kau hubungi saja Tuan Kane dan katakan jika Nona Dee tidak mau makan selama tiga hari ini. Dia mengancam akan mogok makan sampai pria itu datang."

__ADS_1


"Apakah nanti Tuan tidak akan membunuh kita?"


"Percayalah padaku!"


__ADS_2