Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 30. Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Kane naik ke atas tempat tidur menjajari Dee. Wanita malah kebingungan.


"Kau tidak pergi?" tanya Dee heran.


"Kau biasanya pergi."


"Ini rumahku jadi aku bisa melakukan apapun di sini." Mereka mulai pertengkaran kecil lagi.


Dee menekuk wajahnya. Dia lantas membuat batas antara mereka dengan meletakkan guling di tengah. Kane membuangnya.


"Kau?"


"Kau berani padaku? Aku adalah hukum di rumah ini?"


"Tapi ...." Tubuh Dee sudah ditarik oleh Kane mendekat dan didekap.


"Seperti ini lebih baik," bisik Kane di telinga Dee. "Aku hanya ingin tidur dengan anakku dan merasai mereka saja."


Dee yang menatap ke dalam mata Kane, terkejut itu pasti tapi dia mencoba memahami perubahan diri Kane yang menurutnya tiba-tiba. Dia lebih suka dengan Kane dingin yang tidak perduli padanya.


Tangan besar Kane diletakkan di perut Dee dan mulai mengusapnya pelan.


"Apakah dia sudah mulai bergerak?" tanya Kane.


"Baru empat bulan jadi hanya gerakannya sudah mulai terasa, tapi tidak sering," terang Dee mulai merasa nyaman ketika Kane mengusap perutnya.


Dee menatap ke arah tangan Kane, mendadak dia merasakan gerakan dibawah tangan itu.


"Wah, dia bergerak," pekik Kane senang, melihat ke arah Dee.


"Dia tahu itu tangan Ayahnya," jawab Dee. Kane tersenyum lebar lantas mengganti meletakkan kepala di perut Dee. Tiba-tiba dia menyibak baju Dee dan meletakkan telinganya di kulit Dee yang hangat.


Dee ingin marah tapi tertahan ketika Kane mulai berbicara dengan calon anak mereka.


"Hai, Sayang. Ini Ayah. Apakah kalian bisa mendengar Ayah berbicara. Kalian harus kenal dengan Ayah kalian yang tampan ini. Ayah kalian bla ... bla ... bla ...," Kane bercerita tentang dirinya hingga membuat Dee mengantuk. Dia menatap Kane hingga lama-lama matanya terasa berat dan mulai terpejam.


Ketika Kane mendengar dengkuran halus Dee, dia mengangkat kepala dan menatapnya. Sebuah senyum tipis tersemat di bibirnya yang **** lantas menyelimuti Dee. Dia ikut berbaring di sisi Dee dan ikut memejamkan mata.

__ADS_1


Tengah malam, Kane merasakan pergerakan Dee yang terasa tidak tenang. Dia mengusap punggung Dee yang terarah padanya karena posisi mereka saat ini adalah Dee berada memunggungi Kane.


"Apa tubuhmu merasa tidak enak?" tanya Kane. Dia membaca artikel jika tubuh Ibu hamil akan sering merasakan sakit di beberapa tempat karena efek hormon yang meningkat.


Dee masih nampak gelisah. Kane mulai tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Mendadak dia mendengar suara nyanyian dari perut Dee. Dia menahan tawanya. Selama Dee marah pada Kane wanita itu tidak mau makan sampai berhari-hari, tapi Kane baru tahu jika dia memaksakan dirinya untuk tidak makan karena biasanya nafsu makan ibu hamil akan meningkat setelah trisemester pertama kandungan.


"Kau lapar?"


"Tidak!" kata Dee masih menahan diri.


"Angkuh!"


"Kau bilang apa?"


"Angkuh dan sombong. Kau tahu jika anak kita sedang kelaparan tapi kau membiarkan dia tetap kelaparan di dalam perutmu. Ibu apa kau ini?"


"Kau menyalahkan aku, lantas jika aku pun bisa membalikkannya. Ayah apa kau ini yang hanya sibuk memperkaya diri, tapi tidak tahu apa yang dibutuhkan anaknya!"


Kane kini tahu ungkapan jika wanita akan selalu benar. Dia mulai merasakannya. Seharusnya dia bersikap kejam dan dingin sehingga membuat wanita itu takluk dan ketakutan padanya. Sikapnya yang penuh perhatian seperti ini malah membuat Dee melonjak.


"Kita turun saja dan masak sendiri," kata Dee.


Kane mengangguk. Mereka lantas pergi ke lantai bawah untuk memasak makanan.


"Aku ingin makan mie instan dengan telur serta sayuran dan cabai rawit." Air liur terasa di mulut Dee ketika membayangkan makanan yang diinginkan.


"Mie instan? Tidak boleh!"


"Kenapa? Aku ingin itu. Lagipula makan mie instan tidak akan membuatku sakit dan mati" ujar Dee mencari bahan yang ingin dia masak.


"Jangan katakan hal seperti itu. Ucapan adalah doa. Kali ini kau boleh memasak itu lain kali tidak."


"Lain kali pun akan boleh jika ingin. Kau tidak boleh melarang ibu hamil jika menginginkan sesuatu atau anaknya bisa-bisa ileran."


Kane hanya bisa mendengus. Dia meletakkan kepalanya yang masih mengantuk di meja sambil menunggu Dee selesai memasak.


Sebenarnya dia ingin membantu Dee hanya saja sepanjang hidup, dia tidak pernah masuk dapur jadi dia tidak tahu tentang hal itu.

__ADS_1


Dee meletakkan mangkuk besar berisi mie instan yang berbau harum khas bumbu mie.


Kane mengangkat wajahnya. "Sudah matang?"


Dee mengangguk. Dia lantas menawari Kane makan. Menyerahkan sendok pada pria itu.


Kane terdiam mengamati Dee.


"Ayo makan?" kata Dee.


Kane tidak pernah makan satu piring dengan siapapun jadi ini yang pertama kali untuknya dan itu dia lakukan dengan Dee. Mereka mulai makan dengan bersemangat.


Dia merasakan mie instan yang memang terasa lezat. Pantas saja jika semua orang menyukai ini.


Dee sebenarnya masih marah pada Kane hanya saja perlakukan Kane yang manis membuat dia bungkam. Kane benar-benar berusaha menjadi calon ayah yang baik bagi kedua anaknya dan Dee tidak bisa melarangnya. Untungnya hal itu bisa membuat tembok penghalang mereka.


Beberapa hari kemudian Kane benar-benar mengajaknya menemui keluarga besarnya. Sebagian dari mereka sengaja datang dari Shanghai untuk bersama merayakan ulang tahun adik Kane.


Pintu rumah dengan ukiran huruf China's dan berukuran besar tersemat di atas pintu besar. Seorang pelayan pria mulai membuka pintu. Nampak sudah banyak orang yang menunggu kehadiran pasangan ini.


Ini pertama kalinya Dee menjalani perjamuan resmi sebuah keluarga. Dee sangat antusias dengan ini karena hal ini akan dia simpan dalam memori otaknya dengan caption, 'Keluarga bahagia' sesuatu yang belum pernah Dee rasakan mempunyai keluarga sendiri.


Kane merenggangkan tangannya dan Dee mengerti jika dia harus memeluk lengan Kane. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


Rumah itu nampak sangat mewah, tidak kalah indah dengan yang ditempati oleh Kane saat ini. Beberapa orang pria wanita yang ada di dalam sana nampak menghentikan kegiatannya menatap ke arah Kane dan Dee.


Tubuh Dee menegang dengan tangan yang berkeringat. Kane mengerti reaksi tersebut. Dee merasa gugup.


"Tenanglah, ada aku di sini. Kau hanya harus tetap di sisiku agar tidak melakukan sesuatu yang bisa mempermalukanku nanti."


Dee menatap ke arah Kane. Lantas tersenyum kecut dan mengangguk.


"Hallo Kane? Apakah ini istri kecilmu yang kau sembunyikan dari kami?" tanya seorang wanita datang mendekat pada Kane. Wanita itu ingin mencium pipi Kane, tapi gerakan Kane seolah ingin menghindar.


"Kau seharusnya membuat acara besar untuk merayakan pernikahan kalian bukannya malah diam-diam saja seolah kau sendiri malu jika punya istri dia," sela seorang pria berwajah tampan dan mirip dengan Kane hanya saja tampilannya berbeda. Kane lebih terlihat berkharisma dan berkarakter serta sangat manly.


"David!" sentak Tante Cindy.

__ADS_1


__ADS_2