
Jantung Dee serasa berhenti berdetak begitu melihat Rizki akan di depannya. Matanya berkaca-kaca ingin mendekat tapi ingat jika ada Kane di balkon.
Sejenak mereka hanya saling beradu pandang dengan suasana syahdu. Rindu ini tidak bisa dipadamkan keduanya, tapi mereka kini seperti ada di dunia berbeda.
"Kau?" tanya Dee.
"Cepat pergi sebelum Kane melihatmu," ucap Dee serak dan panik. Sekuat tenaga menahan tangis. Namun, Rizki masih tetap berdiri di depan pintu tanpa bergerak.
"Aku ingin kita bicara berdua sendiri."
"Tidak bisa!" tolak Dee. Dia lalu melihat lagi ke arah Kane. Seperti seorang yang takut ketahuan selingkuh padahal mereka bertemu tanpa sengaja.
"Jika tidak aku akan tetap di sini."
"Jangan!" seru Dee tertahan dengan suara lirih.
"Kalau tidak temui aku di pintu gudang sebelah toilet saat makan siang nanti."
"Baiklah," ujar Dee karena melihat Kane sudah menyelesaikan pembicaraannya di telepon. Dee mengambil stroller dari tangan Rizky dan mendorongnya pergi menjauh.
"Siapa Dee?" tanya Kane.
"Petugas hotel," ucapnya menutup pintu sehingga Kane tidak melihat Rizki ada di sana.
Dee tersenyum kaku. Kane sempat melihat keanehan pada wajah Dee, tapi dia mengabaikan. Kane mendorong stoller menuju ke kursi makan. Mereka tinggal di presiden suit hotel jadi ada dua ruangan di kamar mereka, ruangan yang ada dapur minum dan sofa untuk menerima tamu.
Seperti biasanya Kane menyuapi Dee segelas susu hangat. Setelah itu baru mereka makan bersama.
__ADS_1
"Kau sangat rapih, apakah ada acara?"
"Biasanya juga rapih," jawab Kane. Dee hanya bisa menaikkan dua alis ke atas sambil memakan nasi goreng sea food di depannya.
"Aku sedang akan menemui seorang klien jika kau tidak keberatan."
"Klien, ditengah liburan kita?" balik Dee.
"Itu jika kau mengijinkan karena saat ini prioritasku adalah kau dan bayi kita."
"Lama atau sebentar?" tanya Dee.
"Mungkin sampai waktu makan siang."
"Baiklah, aku akan menunggumu dibawah nanti untuk makan siang."
"Untuk apa? Di hotel ini ada kan?" balas Dee menyembunyikan gugup dan paniknya.
"Sebenarnya aku lelah. Kau tahu kan jika aku tidak bisa jika terlalu lelah," lanjutnya memberi alasan yang tepat. "Lagipula tempat ini sangat indah. Mungkin aku ingin berjalan keluar melihat pantai di depan sana."
"Sendiri?"
"Tidak apa-apa kan?"
"Tidak ... tidak... tunggu aku, kau tidak boleh berjalan sendiri. Itu berbahaya."
Dee ingin menjawab tapi ditelannya lagi. "Kenapa kau takut aku kabur lagi?" ledek nya menggerakkan kedua alis naik turun.
__ADS_1
"Ck, itu benar! Harusnya aku membawa Emilio kemari juga untuk mengawasimu."
"Kau itu sangat pencemburu, makanya melarangku melakukan ini dan itu takut jika aku bicara dengan pria lain di luar," celetuk Dee tapi setelah itu dia menyesali ucapannya.
"Cemburu? Mana ada Kane cemburu dengan seseorang. Tidak ada yang melebihi aku, jika kau melihat orang lain lebih hebat artinya matamu itu sakit katarak."
"Mana ada, mataku normal," sungut Dee.
Kane yang gemas mengacak rambut Dee dan mencubit dua pipinya yang sekarang mulai berisi.
Setelah makan, Kane ijin pamit pada janin kembar di perut Dee. "Kalian jaga ibu kalian ya, jangan biarkan dia menyukai pria lain selain ayah dan jangan biarkan dia bertemu dengan pria lain selain ayah. Pokoknya kalian larang dia bertemu dengan pria lain selain ayah."
"Hei kau bisikan apa itu pada anak kita? Sangat tidak berguna."
"Berguna karena jika tidak ada aku, mereka yang akan menjagamu untuk ku," jawab Kane.
Dee mencebikkan bibirnya. Kane malah balas mencium Dee.
Kane pergi dari kamar mereka. Dee lantas pergi lagi ke ranjang dan meneruskan tidurnya. Tubuhnya terasa pegal karena Kane menghabisinya semalam. Nanti siang dia baru akan bertemu Rizki dan mengatakan jika mereka tidak bisa bersama lagi.
Siangnya sesuai dengan janjinya Dee pergi ke lantai bawah dimana restoran dalam hotel ini berada. Dia memesan minum dan makanan sebelumnya. Pelayan mengatakan jika Tuan Kane memang sudah memesan meja VVIP untuk mereka berdua sebelumnya.
Dee lalu melihat meja yang dipesan oleh Kane. Tersenyum. Pria itu memang selalu menyiapkan semuanya terlebih dahulu untuknya.
Dee pergi ke arah toilet berada .Dee lantas menengok ke kanan dan kiri sebelum masuk ke gudang di depan toilet wanita. Memastikan tidak ada yang melihatnya.
Dia membuka pintu ketika sebuah tangan menariknya masuk. Tubuh Dee langsung dipeluk oleh Rizki.
__ADS_1
"Dee aku sangat merindukanmu," ucap pria itu membuat Dee terkejut.