
Dee tersenyum cerah. Dia memiringkan kepalanya ke samping sambil menatap ke arah Kane.
"Tuan Kane yang terhormat. Aku tidak punya apapun di dunia ini selain kehormatanku sebagai wanita dan manusia. Untuk itu aku akan menjunjung nya tinggi walau dengan nyawaku sendiri."
"Jadi, aku tidak akan berkhianat pada siapapun sekalipun itu musuhku."
Kane merasa tenang mendengarnya.
"Tapi ingat satu hal, walau aku tidak akan mengkhianati seseorang, jika aku sudah terlalu kecewa dengan orang dan prinsipku dilukai maka siapapun dia langsung aku jauhi. "
Dee mulai memakan makanan yang dihidangkan. Kane sendiri takjub dengan perkataan Dee. Dia menghela nafas lega. Setidaknya ada harapan baru untuk mereka ke depannya.
Mereka lalu mulai makan dalam keheningan. Berkali-kali Kane melirik ke arah Dee, mencuri-curi pandang. Walau dia beberapa kali berhubungan dengan wanita, tapi hanya dengan Dee menjalani hubungan yang dalam. baik itu secara percintaan maupun hati.
Dee yang berkali-kali ditatap oleh Kane jadi salah tingkah. Dia melihat ke arah lain untuk mengusir perasaannya, tersenyum dalam hati.
"Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Kane sambil menggigit daging lobster yang empuk dan gurih.
"Tidak, mungkin perasaanmu sendiri," jawab Dee makin salah tingkah.
Anak diperut Dee mulai bergerak membuat Dee meringis tidak nyaman. Kane yang sadar langsung meletakkan sendok di tangannya memegang bahu Dee dengan khawatir.
"Kau kenapa?" tanya Kane.
Dee memberi tahu ke perutnya dengan isyarat matanya. Kane yang melihat tidak mengerti. Dee kesal karena Kane tidak tanggap dengan yang dia ingin sampaikan.
Dee meletakkan tangan Kane ke perutnya sambil menyandarkan bahu ke tembok pembatas yang terbuat dari bambu. Memberi Kane ruang untuk menyentuh anak mereka dalam perutnya.
Kane yang merasakan pergerakan kedua anaknya dalam perut Dee melonjak gembira. Kepalanya di letakkan di perut Dee yang buncit. Sebuah tendangan dari dalam perut mengenai pipi Kane.
"Wah, sepertinya dia akan menyukai olah raga sepak bola karena tendangannya sekeras ini."
Dee tersenyum, tangannya mengusap rambut Kane. Rasanya nyaman dan tenang merasuk di hatinya.
Setelah selesai makan mereka berjalan-jalan di pantai lalu duduk di bawah pohon. Kane membuka jaket miliknya dan dipakaikan ke tubuh Dee.
Tidak ada kata yang terucap hanya tatapan keduanya yang mulai berubah, ada rasa sayang pada keduanya. Dee lalu menyandarkan kepala di pundak Kane.
Tangannya memeluk lengan Kane. Dulu dia memimpikan ini bisa dia lakukan bersama Rizky, tapi kini dia melakukannya dengan pria yang berbeda.
__ADS_1
Cinta memang bisa memilih kepada siapa dia akan berlabuh tapi jodoh itu takdir Tuhan yang tidak bisa diganggu hak preogratifnya. Dia berkuasa penuh pada takdir itu.
Kini dia hanya belajar menerima Kane sebagai suaminya. Lagipula, kini Kane tidak seburuk waktu pertama kali mereka bertemu, dia lebih halus walau kata-katanya acap kali terdengar tidak enak untuk didengar.
Kane sendiri merasa hidupnya telah lengkap. Sesuatu yang kira hanya sebuah impian kosong telah dirasakannya. Bersama dengan seorang wanita yang mulai dia cintai dan wanita itu kini mau menyandarkan dirinya pada dia. Dia seperti memiliki semua yang diinginkan di dunia ini.
Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Duduk berdua menikmati keindahan alam sambil melihat banyaknya orang yang melakukan kegiatan masing-masing di pantai. Ada yang bernyanyi sambil menyalakan api unggun. Ada yang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Ada yang melakukan hal panas di bawah pohon, membuat Kane dan Dee yang tidak sengaja melihatnya saling bertatap pandang dan tertawa.
"Kalau mau kita bisa melakukannya?" tawar Kane.
"Di tempat umum? Aku tidak segila itu untuk melakukan hal seperti itu di depan orang lain."
"Namanya juga sedang jatuh cinta Dee."
"Ck, tetap saja salah."
"Bagaimana kalau kita menyalakan sebuah lagu romantis sambil berdansa dibawah sinar bulan dengan latar lautan lepas."
"Aku tidak bisa berdansa dan aku tidak mau kau menertawakan ku karena hal itu."
"Aku akan mengajarimu, lagi pula ini bukan lantai dansa tidak perlu bagus-bagus dalam melakukannya."
Dee menerima uluran tangan itu dan Kane membantunya berdiri.
"Letakkan satu tanganmu di leherku dan tangan lain menggenggam erat tanganku. Lalu kau ikuti langkah kakiku.''
Dee mengikuti saran dari Kane, tapi berkali-kali kakinya menginjak kaki Kane.
"Aww! Hati-hati Dee," ujar Kane.
"Sudah saja kalau begitu," ungkap Dee merasa tidak enak.
"Cobalah jangan tegang dan nikmati alurnya."
Dee mencoba untuk santai. Kedua tangannya kini berada di leher Kane dan kepalanya di sandarkan di dada pria itu. Sedangkan pinggulnya di peluk oleh Kane. Mereka larut dalam suasana romantis itu.
"Satu tambah satu, itu dua dalam ilmu matematika. Kalau aku tambah kamu bisa empat, lima dan seterusnya sampai bahagia dengan anak kita."
"Hah!" reaksi Kane. Dee yang melucu tapi tidak mendapatkan tanggapan semestinya jadi kesal sendiri.
__ADS_1
"Kau bilang apa?" tanya Kane.
"Tidak!"
"Tadi katamu sampai kita bahagia dengan anak-anak kita?"
"Memang apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Anak dan kebahagiaankan?" Dee menghentikan dansanya dan duduk kembali.
Kane tersenyum cerah. Dia lalu duduk di samping Dee.
"Aku tidak pernah melakukan itu dengan kekasihku jadi tidak tahu, maaf!"
"Aku sering melakukan itu dengan Riz ...." Dee menghentikan kata-katanya dan menggigit lidahnya yang salah berucap.
"Jadi kau pernah mengatakan itu dengan pacarmu?" ujarnya tidak senang.
"Maaf, jika aku menyinggungmu. Namun, jangan jadikan malam yang indah ini rusak karena pertengkaran kita."
Kane menatap Lisa. Mengusap pipinya dan melihat ke depan. Mereka terdiam.
Perutnya yang kenyang dan semilir angin di pantai membuat Dee mengantuk. Dee mulai menguap.
"Kau mengantuk?" tanya Kane. Dee mengangguk.
"Tapi aku masih ingin menatap bulan dan bintang di langit.
Dee menyandarkan kepala di bahu Kane dan memeluk lengannya. ''Biarkan, aku tidur seperti ini.''
Tidak lama kemudian Dee sudah tertidur pulas terdengar dari suara nafasnya yang mulai teratur. Kane lantas menggendongnya kembali ke resort tempat mereka menginap.
Dia melewati salah seorang petugas Resort yang berjalan menunduk melewatinya. Kane tidak memperhatikan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Dia mulai membuka pintu dengan perjuangan. Dee mulai melakukan gerakan karena merasa tidak nyaman.
"Kane? Jangan seperti itu. Biarkan aku tidur dulu, ya?"
Kane tersenyum mendengar Dee yang mengigau.
Sedangkan petugas resort tadi menyorot tajam kebersamaan mereka. Ada rasa iri tapi tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
"Dee apakah kau benar telah hidup bahagia dan melupakan aku?" gumam Rizky sedih.