Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 29. Rencana yang Gagal


__ADS_3

Dee terdiam menanti jawaban pemilik mobil itu dari balik jendela. Dia melihat pria itu, menggantungkan kain di pohon. Wanita itu merasa tenang.


Kane benar-benar tidak pulang rumah itu membuat Dee merasa lega. Malam harinya Dee berpikir untuk keluar dari rumah itu dengan melompat dari jendela.


Wanita itu melakukannya. Tengah malam dia membuka pelan pintu jendela. Setelah itu, dia berjalan mengendap melalui genteng rumah. Berjalan merayap di atas genteng. Dia melihat beberapa penjaga nampak berjaga di depan gerbang saja. Tidak ada yang berkeliling seperti biasanya. Hati Dee merasa bahwa dia aman.


Dia berjalan terus hingga hampir sampai ke ujung genteng yang berdekatan dengan pohon mangga. Dee meraih salah satu ranting kuat pohon itu. Lalu naik ke atas ranting mulai turun ke bawah.


Dia hampir mencapai tanah ketika sebuah tangan memegang pinggangnya lalu mengangkat tubuhnya.


Dee terkejut, membuka mulutnya. Dari aroma yang tercium dia sudah tahu siapa yang melakukan ini padanya.


" Ada ibu hamil mengendap-ngendap di atas genteng tengah dan dengan lincah menuruni pohon. Haruskah aku mengatakan, wow!"


Dee menunduk ketika disidang oleh Kane di dalam kamarnya. Pria itu mengelap tangan dan kaki Dee yang kotor.

__ADS_1


"Katakan kenapa kau lakukan ini," tanya Kane lagi.


"Bicaralah Dee jangan buat kesabaranku habis! Aku sudah mencoba untuk bersikap baik padamu tapi yang kau lakukan? Sangat luar biasa lebih dari apa yang kupikirkan. Untung saja ada Emilio yang memberitahuku tentang anehnya sikapmu itu."


Dee masih terdiam nampak acuh tak acuh. Dia bangkit dan berjalan masuk ke dalam tempat tidurnya dan menyelimuti tubuh dengan selimut tebal.


"Apa kau sangat ingin kabur dariku? Tidak bisakah kau bertahan sampai anak ini lahir?"


Perkataan Kane yang terdengar sedih itu membuat hati Dee merasa iba walau cepat-cepat dia menepisnya.


Kane duduk dengan lemas di kursi, menyandarkan kepalanya yang mulai terasa pening. Ada masalah perusahaan yang membuatnya harus memutar otak untuk menyelesaikan semuanya. Sedangkan di rumah energinya telah habis karena memikirkan Dee yang hendak kabur dari rumah.


Kane menghela nafas.


"Bukan masalah empat atau lima bulan lagi, Tuan!"

__ADS_1


Panggilan Tuan terasa mengejutkan bagi Kane. Dia merasa Dee ingin membuat jarak lagi dengannya setelah sebelumnya dia mau memanggil Kane padanya.


"Tapi masalah bayi ini. Kau menganggapnya sebagai barang yang ingin kau miliki. Sedangkan aku ingin memilikinya karena aku mencintai anakku dan aku ingin hidup dengan mereka."


"Kalau begitu tinggallah disini dan besarkan anakmu!"


"Dengan menjadi budak nafsumu? Yang benar saja. Di luar masih ada orang yang tulus mencintaiku dan kucintai, yang mau menungguku kembali. Jadi untuk apa aku berkorban terlalu banyak demi pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri?''


"Ucapanmu setajam silet Dee," kata kane.


"Memang itu kenyataan. Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri bukan orang lain dan aku tidak bisa hidup dengan keadaan ini. Kecuali jika aku mencintaimu, itu beda cerita. Namun, sepertinya akan sulit karena arah jalan kita berbeda."


"Aku akui, aku memang akan pergi darimu ketika ada kesempatan, jadi jangan sampai lengah yang menyebabkan kau kehilangan diriku."


"Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Dee, kecuali aku yang mengijinkannya."

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti!"


__ADS_2