Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 113 Sendiri tak sanggup bersama kutersiksa.


__ADS_3

Kane menghela nafasnya.


"Kau marah padaku itu wajar. Maafku pun tidak bisa menyembuhkan lukamu dalam sekedap dan menghilangkan bekas kesalahan yang kulakukan. Namun, ijinkan aku untuk menyembuhkan dan merawat lukamu. Jangan karena ini kau pergi lagi dariku. Aku tidak akan sanggup menahan luka ini," ucap Kane dengan mata memerah, menatap ke arah Dee.


Tangis Dee pecah seketika. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa perih dan sesak yang dia tahan selama ini akhirnya keluar semuanya.


Kane langsung menarik tubuh Dee dan memasukkannya dalam pelukan.


"Hanya kau yang kuinginkan untuk bisa menemani hariku, hanya bersamamu aku ingin merajut mimpi bahagia, hanya kau yang bisa membuat hidupku cerah kembali, jangan pergi dan membuat hidupku kembali gelap."


"Tenanglah hatiku, tetaplah tegar berjalan di sebelahku. Aku janji semuanya akan baik-baik saja dan aku akan melakukan yang terbaik yang untukmu," ucap Kane. Dia memeluk Dee dengan erat seolah takut kekasihnya ini pergi untuk selamanya lagi.


Kane melepaskan pelukannya agar bisa menatap wajah Dee. Dia menyeka air mata wanita itu dengan kedua tangannya. Lantas mencium wajah Dee dengan sayang.


Dee menepis tangan Kane. Kane memegang kedua tangan Dee. Lalu mencium bibir Dee dengan lembut. Dee menolak, semakin Dee menolak semakin Kane memperdalamnya. Hingga Dee menyerah dan diam. Membiarkan Kane berbuat apapun padanya.


Dua jam kemudian.


"Kau bereskan semuanya, aku mau semuanya sudah selesai besok sore," ujar Kane menutup teleponnya.


Dia menatap ke tubuh yang berbaring di sisinya. Menarik selimut ke atas, yang sebelumnya turun sedikit, memperlihatkan bagian tubuh Dee bagian atas yang terekspos sempurna.


Dia lantas mengambil rambut panjang Dee ke belakang dan mengecup bibirnya lembut. Lalu menyentuh wajah Dee sambil memandanginya.


"Aku mencintai, Sayang. Jangan pernah pergi lagi dari hidupku dan membiarkan aku hidup sendiri."


Kane kembali memeluk Dee dan meletakkan kepalanya masuk ke dada pria itu. Lantas mencium pucuk kepala Dee sebelum ikut memejamkan mata bersama dengan Dee.


Dee bangun ketika merasa tubuhnya terguncang. Dia membuka matanya pelan dan mengernyitkan dahi. Mengingat semua yang terjadi.


Dia tidak tahu kenapa ada di dalam mobil. Bukankah terakhir kali dia tertidur di kamarnya? Netranya lantas mendengar gelak tawa kembar dari balik kursi di depannya.


Lalu bangun dan melihat Kane sedang menyetir di kursi depan. Netranya menatap ke arah luar jendela. Nampak hamparan pantai yang indah di sepanjang jalan.


"Kau sudah bangun," ucap Kane yang melihat Dee dari kaca spion.


"Kita akan kemana?"


"Berlibur. Kata Papa kita akan ke rumah dekat pantai," ujar Jason penuh semangat.


Dee lantas bersandar pada jok kursi sambil melihat ke depan. Rencana apalagi yang akan Kane lakukan. Liburan? Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya karena kesibukan Kane yang padat dengan semua jadwal pekerjaan yang ada.


"Bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Dee lagi.


"Ayah sudah meminta ijin pada Bu Guru."

__ADS_1


Tatapan Dee dan Kane bertemu di kaca spion. Dee memilih untuk membuang muka ke samping. Rasa sakit yang dia rasakan ketika mendengar jika Rosemary hamil anak Kane masih terasa sampai sekarang. Walau Kane berkata tidak tapi itu tetap saja tidak membuat hatinya tenang.


Tidak lama kemudian mereka sampai ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Kita akan belanja kebutuhan rumah terlebih dahulu karena selama tinggal di sana kita tidak akan memakai pelayan sama sekali. Hanya kita berempat saja.


"Asik, itu pasti seru," seru Jesper senang. Ini pertama kali baginya bisa santai bersama dengan keluarganya.


Dee masih terdiam melihat keluar jendela.


Kembar langsung keluar dengan semangat sedangkan Dee masih tidak beranjak. Matanya kosong menatap keluar jendela. Hal itu membuat Kane merasa bersalah dan menyesal.


"Kau tidak ingin pergi keluar bersama kami?"


Dee terhenyak dari lamunannya, menggelengkan kepala. Kane membalikkan tubuhnya melihat ke belakang.


"Aku tidak tahu apa saja yang kita butuhkan di sana. Tidak ada bahan makanan juga karena rumah itu kosong lama. Aku hanya menyuruh orang untuk membersihkannya saja."


"Aku baru bangun tidur dan memakai piyama," ujar Dee dengan suara tidak senang.


"Kau masih terlihat cantik walau baru bangun."


Dee memejamkan matanya untuk sesaat, meredam emosi yang masih ada di dada.


"Mama, Papa cepat keluar," teriak kembar dari depan.


Kane tersenyum tipis. Lalu menyerahkan botol air mineral pada Dee. Mereka lantas keluar mobil. Dee mencuci wajah sekedarnya saja. Kane memberikan handuk kecil pada Dee. Dee mengambilnya.


Kane tiba-tiba menyisir rambut Dee dari belakang. "Lima tahun lamanya aku rindu melakukan ini padamu," lirih Kane.


Dee terdiam. Mungkin sebelum tahu ini, dia akan bahagia mendapatkannya. Namun, kini berbeda.


Kembar nampak senang melihat kebersamaan orang tuanya yang dinilai manis. Mereka saling tersenyum sendiri.


Mereka lantas masuk ke pusat perbelanjaan. Kane mendorong keranjang, sedangkan Dee memilih apa saja yang akan mereka butuhkan di rumah. Kembar sendiri asik memilih makanan dan minuman di lorong yang lain.


Kane menatap Dee terus ketika Dee melihat Dee nampak serius membaca tulisan yang ada di produk yang akan dia beli. Dia lantas memasukkannya. Sekilas dia melirik ke arah Kane, "ada apa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bahagia kita bisa melakukan hal ini bersama."


Dee menghela nafas baru berjalan lagi ke lorong lainnya. Wanita itu lantas melihat alat pengaman ketika berhubungan. Dia menghampiri hendak mengambilnya tapi tangan Kane mencegahnya.


"Jangan, biarkan adik kembar hadir," ujar Kane.


"Bukankah sudah ada," ketus Dee memperlihatkan rasa marah dan cemburu yang ada di dada.

__ADS_1


"Mungkin karena kita telah melakukanya berkali-kali."


"Bukan aku tapi wanita itu," ujar Dee.


"Sumpah demi apapun, itu bukan anakku. Aku akan membuktikannya padamu secepat mungkin."


"Jika iya, apa kau akan membuang ku dan menikah dengan wanita itu?" tanya Dee sakit.


"Tidak akan. Hanya kau yang akan menjadi istriku, tidak akan ada wanita lain yang akan merebut dan menggantikanmu. Kau bisa pegang kata-kataku."


Netra Dee berkaca-kaca. Dia ingin mengatakan sesuatu ketika Kembar memanggilnya.


"Mama, aku ingin ice-cream yang banyak untuk persiapan kata Jesper cukup satu saja. Itukan kurang ya?"


Kane memegang rahang Dee dengan satu tangan, ibu jarinya mengusap pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang.


"Beri kesempatan padaku sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Ku mohon."


Bila kutanya pada diriku


Mengapa aku bertahan


Menerima keadaan yang tak baik saja


Memaksakan segalanya


Sakit tak sanggup


Sadarkah kita terlalu hancur


Hilang habis tak bersisa


Tapi tak mampu kumenyerah


Tertawan hati


Tak mau kehilangan


Tapi lelah berjuang


Bukankah rumah tempatku bersandar


Sendiri ku tak bisa


Bersama kutersiksa

__ADS_1


Ini kenyataannya kita tak baik saja.


__ADS_2