Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 72 Hari Pertama Bersekolah


__ADS_3

"Jason! Apakah kau lupa bila hari ini hari pertamamu untuk sekolah?" Dee menarik selimut tebal yang membungkus tubuh putranya. Tubuh bocah itu menggeliat pelan. Namun tak banyak perubahan. Dee menggelengkan kepalanya kesal.


"Sebenarnya dari siapa dia selalu bisa membuatku kesal? Dasar pembuat onar!" Dee menggerutu kesal. Ia terus saja menggoyangkan tubuh Jason. Sedangkan anak itu terus berada di alam mimpinya.


"Jason, apakah kau ingin berada di asrama saja daripada terus membuat mama sedih dan kecewa?" Kali ini Dee melembutkan suaranya. 


Ia pun memasang wajah sedih yang mungkin saja akan membuat Jason berempati. Benar saja. Seseorang dari balik selimut tebal itu langsung mendudukkan bokongnya di ranjang. Matanya menatap kesal pada sang mama yang membangunkannya di pagi hari.


"Ma, kenapa Mama selalu ingin aku pergi ke asrama? Aku ini anak Mama bukan? Di luar sana bahkan banyak wanita yang masih belum diberikan anak. Lalu kenapa Mama ingin sekali mengirimku pergi dari rumah? Mama ini sudah mendapatkan bintang kehidupan yang sangat berharga malah ingin menyia-nyiakannya. Untung Jason anak baik!" Jason membalas kata-kata Dee dengan balasan yang cukup membuat Dee semakin kesal. 


Bagaimana bisa Jason berpikir bahwa mamanya benar-benar ingin menaruhnya di asrama? Dee mengurut dada pelan. Ia lalu mulai mengatur napas yang kian memburu. Rasa kesal itu perlahan sirna.


Dee pun mengantar Jason ke sekolah. Bocah itu sangat bersemangat karena ia akan ke sekolah yang baru. Tentunya Dee menjadi was-was. Sang putra sering kali membuat keributan maupun kekacauan. Bahkan Jason seringkali berkelahi jika ada yang membuatnya marah.


"Apakah kau siap jagoan mama?" tanya Dee.


"Siap, Ma! Aku akan belajar dengan giat dan menjadi anak yang baik!" Jason menjawab dengan antusias. Sungguh ia sudah menantikan hari ini sejak kemarin. Jason tersenyum lebar.


"Ingat pesan mama. Jangan membuat ulah atau menyakiti temanmu. Ini sudah kesekian kalinya kau pindah sekolah, Jason. Mama tak akan memiliki uang banyak jika kau selalu menghabiskan uang mama untuk pendaftaran sekolah baru maupun membeli seragam baru!" Dee menumpahkan kekesalannya. Namun Jason tampaknya tidak berminat untuk mendengarkannya. Bocah itu terus memperhatikan keadaan sekitar.


"Baiklah. Kau memang tidak akan mendengarkan kata-kata mama." Dee kemudian mengulurkan tangan. Dengan cepat Jason mengambilnya dan ia pun pergi meninggalkan Dee yang mematung.


"Sebenarnya darah siapa yang membuatnya menjadi bocah menyebalkan?" Dee membatin kesal. Kemudian ia pergi meninggalkan sekolah Jason.

__ADS_1


Jason masuk ke ruang kelas dengan dada membusung. Gayanya cool bagai superstar yang sedang berjalan di red carpet. Semua mata terpana melihat kedatangan Jason. Akan tetapi, seseorang lebih terkejut lagi karena Jason mirip dengan Jesper. 


"Kenapa anak ini mirip dengan Jesper?" Bu Guru itu membatin sambil terus menatap Jason.


"Kalau begitu, Jason. Silahkan perkenalkan namamu," ucap Bu Guru.


"Halo, namaku Jason. Aku yakin kalian akan senang berteman denganku." Mata Jason terhenti saat tanpa sengaja ia melihat sosok Jesper yang terus menatapnya dari kejauhan.


"Kenapa aku sangat mirip dengannya?Tidak mungkin aku sama dengannya. Aku itu tampan dan gayaku itu lebih keren, sedangkan dia? Apa-apaan itu rambutnya?" Jason membatin sambil terus melihat Jesper.


Pandangan mata Jason meremehkan penampilan Jesper yang sedang  memakai kacamata. Penampilannya pun sangat rapi. Rambut Jason sendiri berwarna merah panjang sepunggung di bagian belakangnya. Di mana rambut tersebut tidak pernah di potong oleh Jesper. Penampilan Jesper bila dicermati sangat mirip seorang artis. 


"Jason, apakah kau bisa menjawab pertanyaan yang ada di papan tulis?" Bu Guru tiba-tiba bertanya pada Jason yang lebih sibuk melihat ke arah Jesper.


"Benar. Bagaimana kalau kau membantu Bu Guru menjawab ini?" Bu Guru tersenyum.


Jason tampak berpikir sebentar. Ia tidak menyukai matematika sejak dulu. Ia pun menatap tidak suka pada guru yang sedang menantikan jawabannya. Bocah berusia 5 tahun itu melirik ke arah Jersen. Sudut bibir Jason tertarik. Ia memiliki ide untuk melemparkan Jesper sebagai ganti menjawab pertanyaan dari Bu Guru.


"Bu Guru, bukankah hari ini hari pertamaku di sini? Aku kemarin masih sibuk mempersiapkan banyak hal untuk masuk ke sekolah ini. Jadi kemarin-kemarin aku tidak sempat belajar. Kenapa bukan Jesper saja yang menjawabnya? Aku yakin dia bisa menjawab pertanyaan itu." Jason tersenyum sambil menatap ke arah Jesper yang menatapnya balik dengan tatapan datar.


Bu Guru tersenyum. "Benar juga. Kalau begitu, Jesper. Silahkan jawab pertanyaan yang ibu tulis di papan tulis ini ya. Berikan contoh untuk Jason."


Jesper menoleh ke arah Jason. "Dasar bodoh."

__ADS_1


Jesper pun maju ke depan kelas. Tentu saja Jason sangat puas karena sudah membuat Jesper marah dan kesal. Namun tanpa diduga, Jesper mampu menjawab semua soal yang ada di papan tulis. Hal itu membuat Jason melongo dibuatnya. Jesper tanpa kesulitan menjawab semua soal yang ada di papan tulis.


"Kau memang yang terbaik, Jesper. Kau selalu bisa menjawab pertanyaan yang Ibu berikan dengan baik. Jason, kau benar jika Jesper bisa menjawab semua soal yang ibu berikan. Kau harus belajar banyak darinya. Silahkan duduk kembali, Jesper." Bu Guru mempersilahkan Jesper untuk duduk kembali.


Seulas senyuman tertib di bibir Jesper. Ia melirik pada Jason yang menatapnya tidak suka dari tempat duduknya. Sedangkan Jason ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia cukup kesal dengan Jesper yang lebih pintar darinya.


"Bagaimana bisa bocah yang kelihatan jahat dan nakal itu sangat pintar? Bahkan Bu Guru saja memuji kepintarannya. Padahal aku yakin kalau dia seperti preman yang sedikit nakal." Jason membatin kesal. Padahal niatnya ingin mempermalukan Jesper karena ia bodoh. Rupanya Jesper sangat pintar sekali.


Waktu istirahat pun tiba. Jesper dengan cepat mendekati tempat duduk Jason. Jesper pun duduk di depan bangku kosong yang ada di depan meja Jason.


"Apakah tadi kau berpikir jika aku bodoh?" tanya Jesper.


"Memang benar. Lihat saja penampilan bodohmu itu. Mana rambutmu berwarna merah. Apa rambutmu baru saja terkena api?" Jason bertanya sambil menahan senyuman.


Jesper menanggapinya dengan santai. "Aku akan melakukan apapun yang aku sukai. Aku juga akan menolak semua hal yang membuatku kesal."


Jason menatap kepergian Jersen. Dahinya mengernyit. "Aku kan memang mengatakan kejujuran."


Jason mengekor di belakang Jesper. Sekalipun Jesper tidak mau menunggunya berjalan bersama. Keduanya berjalan keluar kelas. Ada banyak hal baru yang dilihat oleh Jason.


"Hei, bisakah kau pergi dari hadapanku? Kau membuatku kesal! Dari pagi, aneh sekali kau selalu melihatku. Kau juga ingin menipu Bu Guru saat mengatakan bahwa kau tidak belajar sebelumnya. Aku yakin kau sangat bodoh dalam matematika. Anak lain jika di posisimu saat ini pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk tempat berharga itu. Tapi kau malah melemparkannya padaku. Dasar! Huh! Jangan mengikuti aku!" Jesper segera pergi sana.


Jason menatap kepergian Jesper dengan seksama. "Ah, aku kesal. Kenapa dia pintar sekali? Aku iri. Bila aku di posisinya pasti mama akan senang padaku karena rajin belajar. Seandainya saja dia saudaraku. Enaknya bisa nyontek setiap hari."

__ADS_1


__ADS_2