
"Andai dia ada di sini pasti akan menyenangkan, begitu kan Mama?" tanya Jesper pada Dee.
Dee hanya mengusap lembut rambut Jesper. Tidak menjawab apapun.
"Mama, kata orang makanan buatan Mama itu enak, maukah Mama memasakkan untukku. Papa tidak usah dibuatkan jika hanya buat kesal Mama."
Dee melirik ke arah Kane yang menatap tajam puteranya.
"Lihat seperti itu Papa padaku, selalu memarahiku. Aku yakin jika Mama ada di sini Papa tidak akan memarahiku lagi. Mama akan tinggal di sini kan?"
Dee menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mama akan pulang nanti," ujar Dee.
"Pulang? Kenapa tidak tinggal di sini?"
"Ada hal yang tidak bisa dilakukan karena kita punya alasan yang kuat untuk itu. Kau harus mengerti walau kau tidak bisa memahaminya. Namun, jika kau ingin melihat Mama atau bertemu Mama, kau bisa menelfon dan kita akan bertemu."
"Ma, apa kau tidak menyayangiku hingga tega meninggalkan aku dari kecil. Sekarang setelah baru bertemu, mau pergi lagi? Apakah kau tidak rindu padaku, padahal aku begitu merindukanmu dan menunggu saat ini ada," tanya Jesper mengeluarkan isi hatinya.
"Aku ... ." Dee menundukkan wajahnya. Rasanya sesak ketika anaknya menghujami dengan berbagai pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.
Dee mengusap air mata dan tersenyum pada Jesper.
"Katamu kau ingin Mama masak. Kita masak dan makan yuk," ajak Dee mengalihkan pertanyaan Jesper.
"Apa setelah itu Mama akan pergi?"
"Mama akan pergi setelah kau tidur. Besok Mama kemari lagi, jika kau mau," ujar Dee.
"Sungguh?"
Dee mengangguk. Untung saja Emilio sudah pulang ke rumah, jadi dia tidak akan mengkhawatirkan Jason.
__ADS_1
Dee mengangkat tubuh Jasper untuk menggendongnya. "Untung kau tidak seberat Jason." Dee lupa keceplosan tentang Jason. Dia menggigit lidah sendiri.
"Siapa Jason, Mah? Apa dia adikku seperti yang ada di lukisanku?" Dari tadi Jesper memang sengaja untuk menyudutkan Mamanya karena ingin ibunya sadar jika bersama itu lebih baik. Walau Papanya bersifat dingin, tapi dia punya niat membawa Mamanya kembali.
"Jesper, kau tidak boleh bertanya terlalu banyak. Ingat sopan santun ketika berbicara dengan orang tua!" Kane tidak ingin Jasper terluka karena Dee sudah punya keluarga sendiri.
Jesper mendengus kesal. Dia ingin mamanya jujur, tapi sepertinya Mama masih takut Papa mengambil Jason jadi harus membuat rencana lain. Yaitu meyakinkan Mama jika Papa memang mencintaimu Mama. Itu bisa terjadi jika Papa mengungkapkan cintanya pada Mama. Namun, bagaimana caranya?
Nanti dia akan hubungi Jason lewat handphonenya setelah Mama pulang. Ini PR yang berat untuknya karena Papa itu orangnya dingin dan sukar untuk dimengerti.
Suasana dapur bersih yang tadinya tidak pernah tersentuh semenjak Dee pergi kini mulai ramai. Dee mulai meracik makanan dan Jesper berdiri di dekat Dee terus. Mereka bicara panjang lebar seperti sudah mengenal sebelumnya.
Tawa Dee sebenarnya menghangatkan hati Kane, tapi semua itu hanya semu karena Dee hanya sebentar saja ada di sini.
Sebuah panggilan masuk ke dalam handphone Kane. Kane lantas pergi ke ruang kerjanya. Dee sempat melirik dan melihat kepergian Kane. Dia menghela nafas. Bekerja di dekat Kane membuat jantungnya memompa dengan keras. Dia takut jika itu akan berlangsung lama maka itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Apa yang kau peroleh?" tanya Kane pada seseorang di balik handphone miliknya.
"Tuan, hari ini aku meneliti jika orang bernama Honey Dee memang tinggal bersama pria bernama Emilio Saputra dan anaknya Jason yang berumur 4 tahun."
"Oh dia memang mengontrak tempat kost di kompleks itu tapi tidak tinggal bersama dengannya. Di Papua pun telah saya periksa jika mereka hanya tetangga saja. Orang sekitar mengira jika mereka punya hubungan lebih tapi tidak. Jika Anda mengira anak itu adalah anak Rizky itu tidak sepenuhnya benar karena selama ini putra Dee memanggilnya Paman, bukan Ayah."
"Apa kau punya foto anak itu?" tanya Kane memukul meja. Lantas jika bukan dengan Risky, Dee punya anak dengan siapa? Jika anak itu berumur lima tahun kemungkinan besar itu anaknya yang dia kira meninggal tapi jika empat tahun. Semuanya harus jelas secepatnya.
"Akan saya kirimkan, Tuan."
"Aku tunggu!"
Lalu terdengar suara orang mengetuk pintu. Pak Jhon masuk ke dalam.
"Tuan, kata Nyonya Dee makanan telah siap."
__ADS_1
Kane bangkit dan ikut keluar bersama dengan Pak Jhon.
"Rumah ini terasa seperti rumah ketika ada wanita yang datang." Pak Jhon melirik ke arah Kane. Wajah Kane masih dingin tanpa ekspresi.
Tatapan Kane tidak lepas dari Dee yang sedang menyunggingkan senyum lebar bersama dengan Jesper. Tangannya dengan cekatan melakukan semua pekerjaan dan menyiapkan makanan tanpa bantuan pelayan satu orang pun.
Wajah Jesper yang biasanya terlihat muram kini bersinar terang, penuh kebahagiaan. Dia nampak bersemangat ketika berbicara dengan Mamanya.
"Kau harus makan yang banyak biar cepat besar dan pintar."
"Dia anak yang genius, sebenarnya menurut kemampuan dia bisa masuk sekolah dasar kelas tinggi, hanya saja saya minta pada Tuan untuk menyekolahkan dia di TK saja agar bisa bergaul dengan anak seusianya."
"Oh, kau sekolah TK. Dimana?"
"TK Cinta Ibu," kata Pak Jhon.
Dee menelan salivanya sulit mendengar hal itu. Wajahnya langsung shock menatap ke arah Jesper. Anak itu malah tersenyum menyembunyikan kepanikan nya.
"Ma, ayo kita makan, aku sudah lapar. Papa, lihat Mama memasakkan sayuran aneka warna. Baunya enak," ujar Jesper mengalihkan perhatian. Dia melirik sekilas pada Dee yang menatapnya intens seperti ingin mendapatkan penjelasan lebih.
Kane seperti biasa duduk di sisi paling ujung sedangkan Jesper menyuruh, memaksa ibunya duduk di sisi kanan Kane. Dia duduk di sebelah ibunya.
"Pak Jhon ikut makan bersama kami, aku sudah siapkan piringnya sekalian," ujar Dee menunjuk ke arah piring di kursi sebelah Kane.
Pak Jhon terkejut. Kane bangkit dan menarikan kursi untuk Pak Jhon.
"Bukankah sudah kukatakan jika kau itu adalah ayahku," ujar Kane. Pak Jhon menepuk bahu Kane karena tersentuh. Dia lantas duduk di kursi itu.
Dee mulai mengambilkan nasi ke piring semua orang. Kane mengamati semua gerak gerik Dee tanpa berkedip. Hal itu membuat Dee tidak nyaman dan
"Aku lihat di lemari pendingin ada ikan laut jadi aku masak serba seafood sekarang," terang Dee meletakkan olahan udang kesukaan Kane di piring pria itu.
__ADS_1
Di saat itu rambut Dee yang tergerai hampir terjatuh ke nasi jadi Kane memegangnya dengan tangan, seperti membuat ikatan ditangannya, membuat Dee terkejut. Dia menoleh pada pria itu. Tatapan mereka seketika bertemu.
Jesper yang melihat tertawa kecil.