
Linda nampak sibuk bersama dengan dua cucunya. Nampaknya, dia memang menikmati bukan karena suatu keterpaksaan. Kane bisa melihatnya.
"Ayo, makan dimakan dulu Jason baru main game nya," ujar Linda menyuapi dua anaknya.
Jesper sangat senang. Dia antuasias menerima suap demi suap nasi dari tangan Linda tanpa bermain atau melakukan apapun. Jason yang makan sambil bermain handphone.
"Untung sekali kau di sini Mama mertua, kau jadi bisa membantuku mengurus duo rusuh ini."
"Kami anak baik, Papa," jawab Jason mengalihkan perhatiannya pada handphone.
"Jason letakkan handphonenya dan makan dengan baik. Jika tidak kau makan sendiri saja. Tidak perlu disuapi."
"Ih, Papa galak. Nanti aku adukan pada Mama," ujar Jason. Dia meletakkan handphone itu di meja.
"Kau melawan?" ujar Kane meletakkan kedua tangan di pinggang dengan wajah serius.
"Tidak, Pah," kata Jason yang langsung memegang pantatnya yang gemoy.
"Papa orangnya baik, paling baik."
"Tidak Ding Pah. Jason suka mengatakan jika Papa Burung besar itu kejam, sedikit-sedikit memukul pantat dan...." Perkataan Jesper terhenti ketika Jason menutup mulut saudaranya itu.
"Kau itu saudara yang mengkhianati saudara sendiri." Jesper yang mendengar pernyataan Jason menjulurkan lidahnya. Jason ingin membalas.
"Jason," panggil Kane ngeri.
"Nenek, tolong aku. Lihat Papa! seram kan?" Linda tertawa lepas. Dia baru melihat keseruan keluarga itu. Ikut bahagia menjadi bagian dari mereka.
"Papa harus ke kamar Mama, jika tidak kau akan Papa hukum nanti."
"Oh, jangan pantatku yang seksi, Pah," ujar Jason membuat gemas Kane. Dia antara kesal dan lucu melihat kelakuannya.
"Mama mertua. Jika kau mau bicara dengan Dee, tinggal masuk saja ke kamar nanti."
"Apakah...."
"Bicara dari ke hati akan lebih baik daripada saling diam. Dee orangnya keras tapi hatinya lembut dan mudah tersentuh."
"Terimakasih Nak Kane."
"Aku melakukan ini untuk, Dee. Dia harus berdamai dengan keadaan."
Linda mengangguk. "Nanti setelah anak-anak masuk ke kamarnya aku akan kesana."
__ADS_1
"Anak-anak jangan buat repot Nenek. Papa harus ke atas menemani, Mama."
"Okey," kata keduanya. Jason meringis dan tersenyum.
"Jason!"
"Aku akan jadi anak baik, Papa Bu... Papa tersayang."
"Apakah Dee sudah mau makan?"
"Sudah, dia suka dengan salad buah yang kau buat dan menghabiskan satu mangkuk besar itu sendirian." Walau setelahnya Dee cemberut karena Kane tidak memberitahu jika itu buatan ibunya.
"Syukurlah," ujar Linda.
Kane lantas kembali ke kamar. Dia duduk di sofa kembali membuka layar laptop setelah melihat Dee yang duduk di tempat tidur sambil melihat layar televisi.
Sepanjang tadi sore, dia duduk di sebelah Dee sambil bekerja dengan laptopnya. Jika Dee membutuhkan apapun dia akan sigap membantu.
"Bagaimana anak-anak?" tanya Dee.
"Mereka nampak senang dengan Nenek mereka. Bahkan sampai melupakanmu. Padahal biasanya Mama, mama, namamu selalu di panggil setiap saat."
"Syukurlah," tanggap Dee dingin.
Dee terdiam. Ini bukan pertama kali mereka berdebat karena hal ini. Yang Kane ucapkan benar hanya saja rasa sakit ini membuatnya enggan untuk membawa wanita itu ke dalam kehidupannya. Dia sudah menganggap dia mati sedari dulu.
Mereka lantas larut dengan kegiatan masing-masing.
Tidak lama kemudian seseorang terdengar mengetuk pintu. Kane bangkit dan membuka pintu.
"Mari masuk," ajak Kane pada Mertua wanitanya dengan sopan.
Dee menatap ke arah pintu.
"Aku akan keluar sebaiknya kalian bicara berdua. Mungkin dengan ini kalian akan bisa saling membuka hati. Terutama kau, Dee." Setelah mengatakan itu Kane keluar dari kamar.
Kini tinggal ada Dee dan Linda. Suasana terasa canggung.
"Bagaimana keadaanmu, Dee?" tanya Linda memulai pembicaraan.
"Baik saja," jawab Dee dingin.
"Kehamilan pertama memang berat. Aku juga pernah merasakannya sewaktu hamil kau dulu," ujar Linda.
__ADS_1
"Aku tidak minta dikandung oleh mu, jadi aku tidak perlu meminta maaf jika menyusahkanmu," sarkas Dee.
"Dee, aku tahu, aku salah dan aku tidak berhak meminta maaf padamu karena kesalahanku sangat fatal. Aku bukan ibu yang baik untukmu," ucap Linda gemetar.
"Syukurlah jika kau tahu itu," ujar Dee memalingkan wajah ke samping. Dia tidak ingin memperlihatkan luka yang dia rasakan pada wanita ini.
"Namun, jika kau mau berbesar hati maukah kau memberi kesempatan padaku, untuk dekat denganmu."
Dee terdiam. Tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras dia menyekanya dengan cepat.
"Ku mohon," lanjut Linda penuh harap. Dia juga menangis.
Mereka hanya saling diam. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Linda menyerah.
"Jika kau tidak mau menerimaku tidak apa-apa. Aku tidak akan menganggu hidupmu lagi."
Dia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Tangannya mengusap air mata di pipi. Dia hendak memutar knop pintu ketika Dee bersuara.
"Kenapa kau membuang ku?" tanya Dee serak dan tercekat. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya.
Linda berdiri termangu untuk sesaat. Dia lantas membalikkan tubuhnya lagi berjalan ke arah Dee.
"Aku tidak ingin membuangmu sebenarnya hanya saja keadaan yang memaksa," terang Linda.
"Kenapa?" tanya Dee nyaris tidak terdengar. Matanya merah dan penuh dengan air mata.
Linda lantas berdiri di sisi Dee.
"Boleh aku duduk di sini. Akan kuceritakan semuanya"
Dee mengangguk sambil mengusap cairan dari hidungnya dengan tissue yang ada di atas nakas.
"Waktu itu, aku masih baru tamat sekolah menengah pertama. Anak yang kurang kasih sayang orang tuanya. Sukanya pergi keluyuran tidak jelas. Suatu malam ketika aku baru pulang dari sebuah diskotik, aku di sergap oleh sekelompok orang. Untung saja ayahmu ada. Dia menolongku. Aku sangat berterimakasih padanya."
"Ayahmu itu tampan dan rupawan membuat aku terpana. Bagiku kala itu, dia seperti seorang ksatria yang menolong seorang putri."
"Ayahmu ingin membawaku pulang ke rumah, tapi aku tidak mau. Dia yang bingung karena tidak mungkin meninggalkan aku sendiri di sana di tengah malam akhirnya membawaku ke rumah dinasnya yang sederhana. Dia merawat lukaku."
"Esoknya aku pulang. Namun, setelahnya aku sering datang kesana hanya sekedar untuk membawa makanan atau apapun. Kau tahu, aku jatuh cinta padanya."
"Ayahmu mengatakan jika dia sudah punya istri di kampung dan tidak bisa menjalin hubungan denganku. Aku putus asa, tidak terima dan patah hati. Hingga suatu saat aku menunggunya di tengah hujan lebat. Dia yang selalu menolakku akhirnya membawaku masuk. Ayahmu mengatakan jika dia juga menyukaiku tapi cinta ini tidak mungkin untuk mereka. Aku bersikeras untuk tetap bersama nya karena merasa bahwa hanya dia yang mengerti hidupku."
Dee nampak terkejut mendengarnya. "Jadi kau tahu jika Ayah sudah punya istri tapi kau tetap ingin bersamanya?"
__ADS_1
Linda mengangguk. "Kala itu aku sudah mabuk oleh cintanya dan dia juga berada jauh dengan istrinya. Hanya bertemu setahun sekali. Aku dan dia memutuskan menikah siri waktu itu untuk menghalalkan hubungan kami."