
Kane langsung pergi ke rumahnya dengan wajah merah padam. Sebelum itu dia meminta kepada Pak Jhon untuk menyelidiki siapa yang menyalin proposalnya.
"Tuan, seseorang sudah menyelidiki CCTV di rumah dan mengatakan jika hanya Nyonya Dee yang masuk ke ruang kerja Anda selain itu tidak ada lagi."
Kane menendang sisi depan mobilnya dengan kencang, menimbulkan suara Krak!
"Tidak mungkin Dee berkhianat," kata Kane dengan marah.
Pak Jhon lalu bercerita kejadian dua hari yang lalu ketika David datang ke rumah bersama Rosemary untuk meminta maaf.
Kane juga mendengarkan hal itu dari Dee jika David ke rumah untuk meminta maaf atas semua yang terjadi pada saat kejadian itu.
"Dee terlalu polos untuk mau melakukan itu, itu tidak mungkin."
"Tuan tahu sekarang Nona Dee ada dimana?" ungkap Pak Jhon membuat Kane menggelengkan kepala.
"Kita ke Green Palace, secepatnya," perintah Pak Jhon pada sopir.
"Bukankah itu rumah milik Ayah?"
"Ya," ujar Pak Jhon.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" bentak Kane dengan suara yang tidak sabar dan tegang.
"Saya tidak akan mengatakannya, Anda melihat saja sendiri," ujar Pak Jhon dengan wajah serius.
Kane lalu duduk bersandar di kursinya sambil memegang rambutnya kuat. Perjalanan ini terasa lama untuk Kane karena sudah tidak sabar menunggu apa yang terjadi.
Mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan. Penjaga rumah mendatangi Kane. Namun, pria itu langsung meninju pria itu keras.
Dia membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam. Tepat saat itu dia melihat Dee bersama dengan Rizky, sahabatnya Anna dan juga Cindy.
Langkah kaki Kane terhenti. Dadanya terasa mendapatkan pukulan benda keras yang menyesakkan jiwa.
Kane melangkahkan kaki dengan diseret. Menatap lekat Dee yang membuang muka ke arah lain begitu melihatnya.
"Jadi ini yang kau lakukan dibelakangku, berkompromi dengan mereka untuk menghancurkan aku dari dalam setelah semua yang kulakukan padamu? Kenapa Dee?" tanya Kane tidak percaya. Kedua netranya merah meminta penjelasan dari Dee.
"Katakan sesuatu Dee agar aku tidak berpikir buruk padamu!" bentak Kane. Bukannya menjawab Dee malah membelakangi Kane.
__ADS_1
Menyeka titik air di sudut matanya. Rizky menatap tidak tega pada Dee, tapi dia tidak bisa berbuat banyak.
Kane yang dipenuhi bara api kemarahan maju ke depan. Namun, Rizky menghalangi. "Ini bukan salah Dee, ini salahku!" ujar Rizky hendak menjadi pahlawan.
Kane tidak membiarkan itu, dia meninju keras Rizky hingga terhuyung ke belakang.
Dee langsung menolong Rizky membuat Kane tidak percaya dengan apa yang dia saksikan.
"Dee aku kira kau berbeda dengan semua orang, nyatanya kau sama saja," ungkap Kane dengan hati yang perih dan sakit.
Dee tetap diam, membantu Rizky berdiri.
Kane yang tidak sabar lalu menarik tangan Dee dan menyeretnya pergi.
"Kane, sakit!" runtuh Dee ketika tangannya digenggam kuat oleh Kane. Kakinya yang kecil kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki Kane. Dia memukul tangan Kane keras. Namun, Kane tidak bergeming.
Kane memasukkan Dee dalam mobil. Di saat itu Rizky berlari mendekat.
"Jangan sakiti, Dee, semua karena aku," ungkap Rizky.
"Enyah sekarang dari hadapanku atau kau kubunuh saat ini juga!" bentak Kane murka.
Rizky ingin mengatakan sesuatu lagi, namun Anna memegang tubuh Rizky dan menggelengkan kepala.
Dee ketakutan, tapi dia lebih takut melihat wajah Kane yang mengeras seperti baja. Dia memilih diam dan memegang seatbelt dengan kencang. Pasrah jika kematian akan menjemputnya.
"Apakah kau yang mencuri data di kamar kerjaku?" tanya Kane. Dee masih saja membisu.
"Katakan Dee!" bentak Kane, sambil memegang stir dengan kuat.
"Iya!"
Kane membuang nafas keras dan kasar. Dia merasa menjadi makhluk paling bodoh sekarang.
"Jadi kau kembali bukan karena untuk menjalin hubungan denganku tapi untuk melakukan ini semuanya? Dibayar berapa kau oleh Cindy?" seru Kane memukul stir mobil. Dee tetap mengatupkan bibir erat. Pandangannya tetap ke depan. Tidak ada rasa sesal atau bersalah yang terpancar dari matanya.
"Kenapa Dee? Padahal aku sudah membiarkan kau pergi dengan kekasihmu, tapi kau malah memilih kembali dan menghancurkan aku?"
"Orang pasti punya alasan tersendiri untuk melakukannya dan aku tidak merasa bersalah telah melakukan itu," jawab Dee.
__ADS_1
"Katakan alasannya?" Nada suara Kane seperti kehabisan kesabaran.
Dee menoleh dan menatap Kane. "Kau sudah tahu apa yang kulakukan dan kau sudah lihat semuanya, apakah aku perlu mengatakan alasan yang sudah jelas terlihat!" ucap Dee ringan.
Hal itu membuat kebencian di hati Kane.
"Sungguh Dee aku ingin sekali membunuhmu!"
"Bunuhlah jika kau mau, aku tidak akan marah ataupun pergi. Sekiranya itu bisa membuatmu tenang."
"Dee!" Dia menoleh ke arah Dee dengan pandangan sengit. Di saat itu tanpa disadari ada sebuah mobil dari arah lain menuju kepada mereka.
"Awas!" teriak Dee. Kane terkejut membanting stir ke samping. Namun, benturan itu tidak terelakkan. Bamper belakang mobil berbenturan dengan minibus itu dengan keras. Tubuh Dee maju ke depan dan perut besarnya terkena dasboard.
"Akh!" teriak Dee. Mata Kane menjadi nanar seketika. Mobil berhenti untuk sesaat.
Kane melihat pakaian Dee yang berwarna kuning itu terkena noda merah darah. Wajah Dee pucat seketika.
Tubuh Kane gemetar, dia memegang Dee. "Kau… kau… bertahanlah," ucapnya takut. Dia membuka seat belt Dee agar perut Dee tidak terkena tekanan lagi.
Warga sekitar yang melihat, mendatangi Kane dengan marah. Mereka mengetuk pintu kaca Kane. Meminta pertanggungjawaban dengan apa yang Kane lakukan.
Kane menurunkannya. Dengan tangan yang gemetar dia menyerahkan dompetnya yang berisi tanda pengenal.
"Istriku… istriku… ," ucap Kane panik. Pikirannya seperti hilang ditelan ketakutan.
Orang-orang itu lantas melihat Dee yang kesakitan dalam keadaan sedang hamil. Di lantai mobil ada genangan darah yang mengalir dari kedua paha Dee.
"Cepat bawa istrimu, Pak, lihat banyak sekali darah yang keluar. Kalian minggir biarkan mobil ini lewat," seru seseorang yang sudah tahu dengan kondisi Dee yang butuh penanganan segera.
Kane menganggukkan kepala dan mulai menyalakan mobilnya lagi. Mobil mulai pergi meninggalkan lokasi itu.
Dee duduk lemas sambil menahan sakit yang tidak tertahankan. Dia menggigit bibirnya keras tapi tidak mau menangis hanya air mata saja yang keluar.
"Dee jika sakit katakanlah, jangan kau tahan seperti itu," ucap Kane kesal karena Dee selalu menahan sakit dan deritanya sendiri.
"Maafkan, aku, aku tidak sengaja melakukannya. Aku tidak bermaksud sampai membuatmu seperti ini."
Dee menggelengkan kepala. "Ini bukan salahmu, semua salahku. Kau mungkin tidak bisa memaafkan semua ini," ucap Dee sebelum tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Tubuhnya lemas dan bersandar di lengan Kane.
"Dee bangunlah, jangan membuatku takut."