
Kane menatap Dee yang masih penuh semangat mengantar kepergian mereka. Seulas seringai terbit di bibirnya. Kane mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh keluarganya cukup berani.
"Jelas-jelas mereka kemari hanya untuk tujuan terpenuhi. Tapi, kenapa dia sangat senang dengan semua hal yang dilakukan wanita ular itu?" Kane membatin kesal.
"Kapan ya mereka berkunjung lagi?" Dee berbicara setelah mobil mereka semua menghilang.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka. Kalau mereka datang lagi saat aku tidak ada, berhati-hatilah, Sayang," ucap Kane.
Dee menoleh. "Kenapa kau berbicara begitu? Keluargamu kan sudah meminta maaf padamu. Mau bagaimanapun mereka tetaplah keluargamu. Kalau seseorang sudah meminta maaf, kita harus memaafkan dan menerima niat baik mereka. Bukan malah curiga. Lagi pula barang pemberian mom benar-benar bagus. Kalau menurutku, justru kau yang terlalu kaku. Lain kali tersenyumlah. Biar tidak tegang lagi."
Setelah Dee berbicara, ia masuk ke dalam rumah. Mendahului Kane yang masih tetap berada di sana. Kane menggelengkan kepala dengan pelan. Ia lalu bergerak masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya Dee dan Kane bersiap untuk sarapan. Kane menghela napas saat Dee masih saja tersenyum dan sesekali menceritakan kedekatannya dengan Cindy. Meski sedikit kesal Kane tetap saja mendengarkan Dee berbicara.
"Nah, sekarang sudah waktunya untukmu bekerja. Kau nanti tidak lembur bukan?" Dee mengantar Kane ke depan. Sudah menjadi kebiasaan rutinnya yang memang mengantar Kane ke depan saat pria itu hendak berangkat bekerja.
"Aku tidak akan lembur. Kau ingat kata-kataku, Sayang?" tanya Kane.
Dee terdiam sejenak. Ia sebenarnya tahu apa maksud pertanyaan dari Kane. "Aku ingat. Tapi, kau juga harus mengingat kalau mereka keluargamu."
Kane memutar bola mata kesal. "Aku yang paling tahu mereka. Ingatlah bahwa kau harus menghubungiku saat salah satu di antara mereka datang. Apa kau paham kata-kataku?"
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Sekarang pergilah, Kane." Dee mencium punggung tangan Kane dengan khidmat. Lalu pria itu mencium kening Dee dan segera berlalu masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil Kane melaju dengan cepat meninggalkan rumah mewah itu.
"Dia terlalu menjaga jarak. Semoga saja ke depannya ia bisa sedikit lebih lunak." Dee pun kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Kane benar-benar menghilang dari pandangan mata.
Di dalam mobil, Kane terus saja dilanda gelisah. Bukan karena tentang keluarganya yang sepertinya memiliki tujuan, tapi ini menyangkut sang istri. Dee terlalu polos dan seorang yang naif. Ia terlalu berbaik hati dan tidak waspada saat orang mendekatinya.
"Bagaimana aku bisa meyakinkan dia kalau aku hanya takut dia kecewa? Aku tahu suatu hari ini bila mereka memang tidak menghendaki kehadirannya di sisiku, mungkin Dee akan kecewa dan sakit hati. Untuk itulah aku sangat khawatir bilamana Dee akan kecewa nantinya. Aku tidak peduli dengan apapun rencana mereka." Kane membatin lalu menghela napas panjang.
"Kane? Kau sudah datang?" Seseorang menegur Kane. Pak Jhon terlihat datang dengan membawa satu berkas di tangannya. Kane yakin bila itu sesuatu yang penting.
"Masuklah, Pak Jhon. Anda datang terlalu pagi." Kane membuka pintu. Ia pun duduk di kursi kebesarannya. Begitupun dengan Pak Jhon yang duduk tepat di depan Kane.
"Apakah kemarin Park Yang ke sini?" Pak Jhon bertanya tanpa basa-basi. Ia memberikan berkas yang ia bawa kepada Kane.
"Kupikir mereka memiliki tujuan tersembunyi," ucap Pak Jhon.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi istriku sangat menentang sikapku dan ia memarahiku sepanjang waktu. Bagus. Jangan sampai berkas inu bocor dan terlebih lagi masalah harga yang ditawarkan perusahaan kita. Aku tidak ingin ke depannya kita memiliki masalah," tandas Kane.
"Aku bisa menjamin berkas ini aman. Ada orang kita yang dapat dipercaya." Pak Jhon memandang Kane dengan tatapan tak mudah ditebak.
"Bagaimana dengan kabar istrimu? Aku sudah lama tidak melihatnya. Sepertinya kau hidup lebih baik dari sebelumnya, Kane. Senang rasanya bisa melihatmu tersenyum kembali." Pak Jhon membawa kembali berkas tersebut. Namun, saat Pak Jhon hendak berdiri, Kane memintanya untuk duduk sebentar.
__ADS_1
"Pak Jhon, ada yang ingin aku katakan. Ini mengenai pria tua itu," kata Kane.
Pak Jhon duduk kembali. Ia tahu siapa orang yang dimaksud oleh Kane. "Ada apa dengannya? Apakah dia mengganggumu lagi?"
Kane menghela napas. "Bukan hanya mengganggu. Tapi juga seperti sedang merencanakan sesuatu. Yang lebih membuatku heran adalah, kenapa si pria tua itu malah berniat memberikan jabatan CEO perusahaan Diamond padaku? Bukankah itu aneh? Dia juga mengatakan akan memberiku 40% dari kekayaan yang dia miliki. Entah karena apa dia tiba-tiba melakukannya."
Pak Jhon terdiam. Ia tahu bagaimana bencinya Kane pada mereka bertiga. Orang-orang yang telah menganggapnya mati dan memilih membuangnya entah dia akan mati ataupun hidup sengsara. Pupil mata Pak Jhon menatap lekat pada wajah Kane. Ia mencoba memahami mimik wajah Kane.
"Aku pikir itu mungkin saja karena memang Park Yang sudah tua. Mengingat umurnya yang tua, aku rasa dia memang ingin memperbaiki hubungannya denganmu," tandas Pak Jhon.
"Lalu apakah Cindy tahu rencana Park Yang?" Pak Jhon sadar bagaimana karakter Cindy.
"Hebatnya wanita ular itu juga setuju," sahut Kane dengan cepat.
"Benarkah?" Pak Jhon melotot tidak percaya. Kane pun menganggukkan kepala. Pak Jhon kini paham.
"Kita belakangan ini memang sering mendengar desas-desus. Bahwa banyak tender besar yang hilang dari genggaman tangan Diamond. Aku rasa bila aku sebagai pemimpin di perusahaan Diamond, aku pun akan melakukannya. Lebih tepatnya aku akan mencari pemimpin baru agar Diamond tidak jatuh. Tentunya yang lebih berkompeten dan berdedikasi tinggi. Sudah jadi rahasia umum bila Diamond di tangan David justru malah mengalami kemunduran. Tidak aneh kalau Park Yang memintamu untuk menjadi penerusnya," papar Pak Jhon.
Hening. Kane masih terlihat berpikir keras. Pak Jhon sangat memahami semua kekhawatiran yang dirasakan oleh Kane. Tapi mau bagaimanapun juga Kane tetaplah putra sulung Park Yang. Tentunya, Kane memiliki hak yang sama seperti David.
"Kane, maukah kau mendengarkan aku? Dengar, mungkin ini bisa saja menjadi jalanmu. Ambil saja kesempatan ini. Kau bisa membuktikan bahwa kaulah yang mampu melakukan segalanya dibandingkan dengan David. Aku yakin Park Yang akan semakin menyesali diri karena telah membuangmu. Sedangkan Cindy, kau bisa dengan mudah menghancurkannya setelah memegang kendali atas Diamond." Pak Jhon tidak ingin Kane membuang kesempatan emas ini. Siapa yang tahu di kesempatan ini Kane bisa membuat Cindy tidak berkutik lagi.
__ADS_1
"Jadi, lebih baik aku terima saja kesempatan ini?" tanya Kane bingung.
Pak Jhon mengangguk. "Kau juga bisa mengawasi gerak-gerik David maupun Cindy ketika mereka berdua berada di perusahaan Diamond. Aku tidak yakin bila Cindy benar-benar tulus padamu. Lakukankah sesegera mungkin."