Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 48. Penerus Grup Diamonds


__ADS_3

"Aku tidak percaya kau akan dengan mudahnya menerima semua kata-kataku hari ini?" Kane langsung mengatakan apa yang ada di kepalanya.


"Kenapa? Apakah aku harus marah dan tidak terima dengan apa yang kau katakan?" Park Yang bertanya balik pada Kane.


"Itu bukan dirimu yang biasanya," tegas Kane.


"Apakah aku begitu buruk menjadi ayahmu? Sehingga kau selalu berpikiran buruk. Setidaknya bukalah hatimu untuk ayahmu ini. Bukan malah memusuhinya setiap waktu," tandas Park Yang.


Kane menyeringai. Ia lalu berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya. Kane kini berada tepat di hadapan Park Yang.


"Apa yang membuatmu mau bersusah payah datang ke sini? Aku yakin itu bukan untuk melihatku. Tetapi untuk meminta proyek jalan tol itu dihandle oleh David bukan? Lalu aku menolakmu. Anehnya, kau tetap baik-baik saja setelah aku tidak mengabulkan apa yang kau inginkan." Kane menatap tajam Park Yang.


"Baiklah. Sudah cukup untuk berbasa basi. Aku sudah tua bukan?"


"Ya. Kau memang sudah tua dan berpenyakitan. Aneh kalau aku mengatakan kau masih muda," potong Kane dengan cepat.


Park Yang tergugu mendengar nada sarkas kata-kata Kane. Ia lalu menarik napas panjang. "Aku sudah lelah untuk mengurus perusahaan Diamond. Pria tua ini ingin sekali pensiun."


"Kalau begitu pensiun saja. Apa yang kau takutkan dan malah datang ke sini? Sana pulang, terima kasih sudah mendatangiku ke sini dan maaf aku tidak mengantar!" usir Kane.

__ADS_1


"Kane, perusahaan Diamond harus berada di tangan yang tepat. Kau tidak mungkin tidak tahu seperti apa keadaan perusahaan Diamond sekarang. Seperti kabar yang beredar, perusahaan Diamond sedang goyah. Harus ada yang bisa membawa Diamond seperti ke masa lalu yang berjaya," papar Park Yang.


"Bukankah ada David? Kalau ada dia, kenapa kau mesti repot-repot datang ke sini? Mengapa tidak minta pada David untuk menggantikanmu?" sarkas Kane.


"Tapi, kau pasti tahu bagaimana sepak terjang David bukan? Aku ingin memberikan kepemimpinan perusahaan itu pada yang berkualitas. Meski aku tetap akan memberikan 40% untukmu dan 40% untuk David, lalu 20% untuk Cindy. Tentu saja itu akan kalian dapatkan setelah aku meninggal dunia." Park Yang menatap Kane yang memandangnya penuh selidik.


Alis Kane menukik tajam. Ia menatap tidak suka ke arah Park Yang. Pria yang datang menggunakan tongkat itu seolah sedang meremehkannya.


"Berikan saja pada David. Lihat aku. Kekayaanku bahkan hampir menyamaimu. Aku memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri dengan kedua kakiku. Aku tidak akan mengharapkan warisan dari orang yang sudah mati," sarkas Kane.


Mata Park Yang melebar. Dada bidangnya bergerak naik turun. "Dasar anak tidak berbakti! Kau benar-benar berani mengatakan warisan dari orang yang sudah mati? Lihat, aku masih hidup! Apa kau benar-benar tidak pernah menganggap ayah? Aku sudah berbaik hati untuk memberimu hak ahli waris. Bahkan pria tua ini mendatangimu yang masih muda. Kau malah berani mengutukku?"


Park Yang menghela napas. Ia memijit pelipis kepala. Berdebat dengan Kane memang akan membuatnya sakit kepala. Namun, perusahaan Diamond tidak boleh hancur. Saat ini saja perusahaan Diamond sedang goyah. Bagaimana nanti nila ke depannya satu tahun lagi? Park Yang harus segera menyelamatkan perusahaan Diamond. Untuk itulah ia datang ke perusahaan Kane. Terlebih, dengan kekuatan dan kemampuan Kane. Tentunya Kane merupakan calon penerus terbaik.


"Ya sudah kalau begitu aku akan memberikan perusahaan itu pada pemenang tender besok," putus Park Yang.


"Menang atau tidak menang, aku tidak butuh Diamond! Aku masih memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Kau sudah melakukannya di masa lalu, dan kau ingin mengulanginya kembali?" Kane melebarkan mata. Menatap tidak suka pada pria di hadapannya.


Park Yang menarik napas dalam. Ia pun bangkit berdiri. "Sepertinya percuma aku berbicara denganmu. Tapi, aku akan tetap melakukannya. Suka atau tidak suka, kau tetaplah anak kandungku. Sudah sepatutnya mendapatkan hak yang sama seperti David. Ingatlah, jangan membuatku berdosa saat berada di dalam kubur nanti. Hanya dikarenakan aku tidak adil dalam membagi warisan."

__ADS_1


Park Yang berlalu dengan menggunakan tongkatnya. Mata Kane tak lepas dari pria tua itu. Sampai akhirnya Park Yang membalik pintu, Kane menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. Kedua matanya menerawang jauh. Ada banyak luka yang tak terperi dalam sanubari. Ingin sekali ia melupakannya. Akan tetapi, bagaimana bisa ia melupakannya sedangkan pria itu selalu membayangi dalam setiap langkah kakinya.


"Ha, aku lelah."


Malam pun beranjak naik. Suara binatang malam saling bersahutan menyemarakkan malam. Hembusan angin semakin menusuk tulang. Para manusia pun memilih meringkuk dalam selimut.


Park Yang memasuki kamar. Dari wajahnya tersirat kegundahan yang mendalam. Pria itu berjalan menuju ranjang berukuran besar dan naik ke sana. Cindy yang berada di sana segera menyimpan handphonenya dan memegang tangan sang suami.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah sekali?" Suara lembut Cindy berhasil mendinginkan suasana hati Park Yang. Pria itu tersenyum tipis.


"Tadi siang aku menemui Kane di kantornya," kata Park Yang.


Jantung Cindy berpacu lebih cepat. Ada banyak pertanyaan yang menyelimuti hatinya. Akan tetapi ia berhasil menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Mengingat harta Park Yang, Cindy akhirnya mengulum senyuman.


"Syukurlah, kau bertemu dengan putramu. Kalian membahas apa? Kau jangan berbicara buruk dengan Kane. Dia hanya sedang kesal karena masa lalu itu. Jangan terlalu membebaninya. Kau tidak membuatnya marah bukan?" Cindy berucap lembut. Ia benar-benar pandai merebut hati Park Yang.


"Kau memang yang terbaik. Kami membahas tentang perusahaan Diamond. Lalu juga tentang pewarisku nanti. Aku pikir, aku harus membagi hartaku sama rata untuk dua putraku. David maupun Kane sama-sama mendapatkan 40% dari harta yang aku miliki. Lalu sisanya tentu untukmu. Kau tidak keberatan dengan keputusan yang aku buat bukan?" Park Yang menatap Cindy dengan tatapan penuh harapan.


"Kenapa kau masih mempermasalahkannya? Bukankah Kane juga anakku. Kita pernah membesarkannya bersama. Meskipun pada awalnya kita begitu, tapi kita sudah membuatnya terluka untuk waktu yang lama. Jadi, aku tidak akan mempermasalahkannya. Syukurlah, kalau dia bersedia menerimanya. Karena itu termasuk hak yang dia dapatkan karena dia putra kandungmu," pungkas Cindy.

__ADS_1


"Dasar sialan! Bagaimana bisa harta keluarga Yang harus dibagi dengan anak pelayan seperti dia? Bukankah seharusnya David yang mendapatkan semua harta keluarga Yang? Sial! Sial! Aku harus menyingkirkan Kane secepatnya. Karena yang pantas menjadi penerus adalah David!" Cindy membatin. Kedua matanya berkilat penuh amarah.


__ADS_2