Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 63 Dua anak dengan nasib berbeda


__ADS_3

"Ayah?" Rizky mengulang panggilan yang dilontarkan oleh Jason. Terlihat sekali bahwa matanya berbinar bahagia. Seolah ia sedang mengharapkan sesuatu yang besar.


Dee terpaku. Wanita itu tak menjawab kata-kata yang dikeluarkan oleh Rizky. Ia menatap canggung ke arah Rizky. Sudah 5 tahun Rizky menemaninya di perantauan. Bahkan pria itu tidak pernah mengeluh atas apapun perbuatan Dee yang terkadang menyakiti hatinya. 


Merasa situasi kaku, Emilio memilih pergi. Ia pergi secara diam-diam bahkan tidak meninggalkan bunyi apapun. Seolah Emilio sedang memberikan kesempatan untuk Rizky dan Dee saling berbicara satu sama lain. 


Jason yang menyadari peluang pun telah lepas dari dekapan Rizky. Tentu saja Rizky menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah. Entah kemana perginya Jason, tapi bocah itu tidak takut sama sekali dengan amukan ataupun hukuman yang diberikan Dee.


"Kak, maaf. Jason masih kecil. Jadi abaikan saja semua kata-katanya. Dia pasti hanya asal berbicara saja." Dee mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain. Saat ia menangkap raut kecewa dalam iris hitam milik pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Apa yang kau katakan, Dee? Aku sudah menganggap Jason seperti anakku sendiri. Sudah lama aku menantikan datangnya hari ini. Jason bahkan bersedia memanggilku ayah tanpa aku harus memintanya," ucap Rizky.


Dee memutar bola mata. "Aku bilang dia hanya anak kecil. Ada beberapa hal yang masih belum bisa membuat Jason tersadar bahwa dia hanya anak-anak dan aku yakin beberapa jam saja sudah membuat Jason melupakan permintaan konyolnya itu. Dia hanya berbicara asal saja."


"Dee, pikirkan sekali lagi. Jason membutuhkan sosok seorang ayah. Kalau hari ini dia sudah menanyakan hal itu, kemungkinan Jason akan bertanya kembali di lain waktu dan kesempatan," sahut Rizky.


"Tanpa kau mengatakannya sekalipun, aku tahu hal itu akan terjadi cepat atau lambat. Tapi sejauh ini aku masih bisa mengendalikan Jason. Berhentilah mengajakku untuk berdebat, Kak." Dee tak dapat menahan emosinya. Ia mulai membalas serangan yang diberikan oleh Rizky.

__ADS_1


"Dee, aku tidak mengajakmu berdebat. Apakah aku salah bila mengharapkan wanita yang aku cintai mau menerima lamaranku kembali? Kita sudah sejauh ini tapi kau masih berat untuk menerimaku? Kau lihat Jason, dia yang menginginkan aku untuk menjadi ayahnya, Dee!" Rizky mulai tak sabar. 


Ia kesal karena Dee seperti sedang menunggu seseorang datang padanya. Lalu apakah ia selama ini tidak berarti di mata perempuan itu? Selama 5 tahun Rizky yang selalu berada di samping Dee. Cinta Rizky untuk Dee bahkan lebih kuat dari sebelumnya.


Rizky memandang Dee yang menatapnya sendu. Tak lama kemudian Dee memutuskan mata mereka yang saling bertaut. Pikiran Rizky memburuk saat menyadari bahwa Dee seperti menunggu seseorang. Apakah itu mantan suaminya? Rizky mengepalkan kedua tangannya.


"Kak, Jason masih berusia 5 tahun. Apakah kau menganggap serius kata-kata seorang anak berusia 5 tahun?" Dee melontarkan tanya. 


Kali ini nada bicara Dee sedikit melunak. Mata sendu Dee mulai berani menatap kembali kedua mata Rizky yang sarat akan harapan dan cinta. Dee selama ini tahu, tapi ia selalu menepis semua pernyataan cinta dari Rizky. 


Selama ini hanya Dee yang mendapatkan cinta atau hal baik dari Rizky. Lalu apa yang sudah Dee berikan untuk pria tampan dan lajang itu? Hanya rentetan luka yang tak berujung. Sebuah pengkhianatan hingga penantian bertahun-tahun masih dilakukan oleh Rizky tanpa mengeluh. Pria itu masih tetap setia pada Dee.


"Oke! Cukup, Kak. Jangan dibahas lagi. Ini bukan lagi tentang aku dan kau saja. Semua sudah berubah. Jason hanya asal berbicara. Dia masih kecil. Belum mengerti apapun tentang permasalahan mamanya." Dee hendak berlalu. Namun Rizky mencegahnya.


"Kita harus membahas ini, Dee. Putramu sendiri yang memintaku! Kau jangan egois! Apakah saat ini kau sedang menunggunya datang?" Pertanyaan Rizky membuat Dee sedikit tersinggung. Akan tetapi saat dia hendak membalas kata-kata Rizky, terdengar suara seseorang yang mendahului setelah ia menyelesaikan mandinya. 


"Jason, kenapa kau malah memakan kue pesanan orang? Mamamu pasti akan marah kalau tahu," sela Emilio.

__ADS_1


Tentu saja seketika dada Dee menjadi naik turun. Suara Dee kembali menggelegar. "Jason!"


Di belahan bumi yang lain, lebih tepatnya di kota Jakarta. Seorang anak berusia 5 tahun mencari kucingnya di atas pohon. Bocah kecil itu meminta seorang pelayan untuk mengambilnya.


"Jesper? Apa yang kau bawa?" Pak Jhon berjalan mendekati bocah kecil tersebut. 


Bocah bernama Jesper itu memperlihatkan apa yang sedang berada dalam dekapannya. Sontak saja kedua mata tua Pak Jhon melebar. Bagaimana tidak? Seekor kucing berbulu hitam dan kotor itu berada dalam dekapan Jesper. Di bulunya terdapat tanah yang menandakan kucing itu suka bergulung di tanah kotor.


"Jesper, buang kucing itu sekarang! Nanti kakek belikan kucing yang lebih cantik lagi," pinta Pak Jhon.


Jesper menggelengkan kepala. "Tidak, aku ingin kucing ini, Kek. Aku akan merawatnya menjadi cantik."


"Jesper! Kakek bilang singkirkan kucing itu! Kakek akan mengganti dengan yang lebih cantik dan lucu lagi. Kau masih terlalu kecil untuk bisa merawat kucing sekotor itu. Lihat bulunya. Ayo, buang ke depan saja kucing itu. Kakek akan membelikan kucing yang baru." Pak Jhon berusaha membujuk Jesper. Ia tidak mau bila bocah itu ikut-ikutan kotor seperti kucing liar itu.


"Aku tidak mau! Aku hanya mau kucing ini! Kakek jangan buang kucingnya! Apa Kakek tidak kasihan pada kucing ini? Dia sakit, Kek!" Jesper sepertinya mulai kehabisan kesabarannya. Ia membentak Pak Jhon yang terus berusaha untuk membujuknya.


Bocah kecil itu tidak suka bila Pak Jhon berniat untuk membuang kucingnya yang sedang sakit. Tanpa sepengetahuan keduanya, di ambang pintu seseorang sudah berdiri di sana untuk beberapa waktu lamanya. Ia mulai kesal dengan perangai anaknya yang berani membentak Pak Jhon. Pria tua yang sangat berjasa dalam hidupnya.

__ADS_1


"Apakah begitu tingkah laku Tuan Muda Yang? Kau seperti anak jalanan saja! Seperti anak yang tidak pernah diajari sopan santun dan budi pekerti!" Kane membentak Jesper. Ia cukup kecewa melihat anaknya tidak memiliki rasa hormat pada yang lebih tua.


__ADS_2