Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 92 Lebih Baik Diam!


__ADS_3

Mereka makan dalam suasana yang riang. Seperti keluarga yang hangat. Kane tidak mengatakan apapun hanya diam menikmati suasana yang ada. Suara Dee yang merdu dan hangat beradu dengan tawa Jesper, sesekali Pak Jhon menimpali.


Ketika makan malam itu sudah berakhir suasana hening kembali. Dee menyuruh Jesper untuk mengganti pakaian dan sikat gigi sebelum tidur. Sedangkan dia, membersihkan bekas makan di meja.


"Biar aku bantu," kata Kane.


"Tidak usah, biar aku sendiri saja." Dee meletakkan piring kotor ke wastafel ketika berbalik Kane sudah ada di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kau mengagetkan aku!" ujar Dee.


"Balik badanmu!" perintah Kane. Dee mengatakan ada apa dengan ekspresi wajahnya. Kane malah memelototi membuat Dee terdiam dan hanya bisa menuruti keinginan Kane.


Ketika dia sudah membalikkan tubuhnya, Kane mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut. Dia bisa merasakan tubuh Dee yang menegang ketika terkena sentuhannya.


"Rambutmu sudah kau potong segi dan diberi model tidak seperti dulu lagi, potong lurus saja."


"Waktu mengajarkan semuanya dan membuat kita berubah." Tangan Dee memegang erat wastafel di depannya.


"Apakah kau belajar untuk berbohong juga," bisik Kane di telinga Dee.


Mata Dee membelalak besar. "Aku tidak pernah berbohong padamu!"


Kane memeluk Dee dari belakang, membuat Dee terkejut. Kepala Kane diletakkan di bahu Dee, membuat wanita itu takut bergerak.


"Mungkin kau tidak berbohong, tapi kau menyembunyikan semuanya. Apa bedanya itu Dee! Aku suamimu aku berhak tahu kebenarannya."


Kane selalu tidak bisa tahan bila dekat dengan Dee, rasa ingin menyentuhnya dan berada di dekatnya, setiap saat. Dia bahkan tidak bisa mengendalikan keinginan kuatnya itu. Sudah lima tahun dia memendam hasratnya pada wanita dan kini Dee ada di depan matanya.


Dia menghirup aroma vanilla yang kuat, yang keluar dari tubuh Dee.

__ADS_1


"Kane, lepaskan, aku. Aku mau pulang setelah menidurkan Jesper." Dee mencoba melepaskan tangan Kane yang memeluk erat pinggangnya.


"Tidak Dee sebelum kau menjelaskan semuanya! Lima tahun apa belum cukup bagimu untuk membuat kita semua menderita!" ucap Kane lirih dan bergetar, dengan menahan kemarahan yang dia simpan selama ini.


"Papa? Mama? Apa aku menganggu? Jika iya, aku akan tidur sendiri saja," tanya Jesper membuat pasangan itu terkejut. Kane langsung melepaskan pelukannya pada Dee.


"Mama sudah janji kan akan menemani Jesper tidur." Dee merasa punya kesempatan untuk bisa melarikan diri dari Kane. Walau dia tidak tahu sampai kapan. Dia langsung membawa Jesper pergi ke kamarnya meninggalkan Kane yang tersenyum tipis.


Sesampainya di kamar mereka berbaring di ranjang. Dee tidur miring memeluk Jesper.


"Jesper, apakah kau suka orang yang jujur?"


"Iya, mama, kata Ibu guru kalau anak yang jujur dan baik hati akan masuk ke surga."


"Kalau begitu Jesper harus jujur pada Mama?"


Jesper mulai memainkan jarinya karena cemas. "Jujur apa Mama?"


Tubuh Jesper bergetar. Isak kecil mulai terdengar. Tangan kecilnya menutupi wajah.


Dee membalikan tubuh Jesper. Lalu membuka tangan yang menutup wajahnya.


"Kenapa kau tidak jujur pada Mama?"


"Aku takut jika Mama akan menolakku jika aku bilang semuanya. Mama dari kecil meninggalkan aku, apakah karena aku tidak Mama harapkan? Papa pun tidak pernah menyayangiku, selalu marah-marah ketika bertemu. Jika kalian tidak ingin aku ada mengapa... mengapa...." Kata-kata Jasper hilang ketika Dee mendekap nya erat.


"Siapa yang bilang kau tidak diharapkan? Kami selalu menunggumu datang menemani kami. Hanya saja semua tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan."


"Mama mencintai dan Mama yakin Papa juga sangat mencintaimu, hanya saja seorang pria akan memperlihatkannya dengan cara yang lain. Misal dengan memberikan semua yang kau butuhkan, materi, pendidikan, pokoknya semua hal akan Papa mu lakukan agar kau bisa hidup dengan nyaman. Jadi Papamu mendidik ku keras agar kau bisa berhasil sepertinya kelak ketika kau besar."

__ADS_1


Bukannya berhenti menangis, Jesper malah semakin tersedu-sedu. Tidak ada yang bisa menerangkan ini padanya selama ini. Pak Jhon hanya berusaha menenangkan dengan menuruti keinginannya tapi tidak mengatakan apapun.


"Kau masih kecil jadi boleh menangis sepuasnya jangan ditahan! Karena ketika dewasa kau sudah tahu caranya menyembunyikan tangismu agar tidak semua orang tahu."


Satu jam kemudian, Jesper sudah tertidur lelap. Dee bangkit dan membenarkan selimut anaknya.


"Mama menyayangimu." Menciumnya sebelum berjalan keluar dari kamar.


Suasana rumah itu sudah temaram karena beberapa lampu dimatikan hanya ada satu lampu gantung di ruang utama yang masih terlihat terang.


Dee memilih turun dari tangga untuk menikmati setiap langkahnya di rumah ini. Mengenang setiap kejadian yang membuat hatinya mendesir sakit karena harus kehilangan semuanya dalam waktu singkat.


Kane duduk di salah satu kursi yang membelakangi Dee. Tubuhnya dipenuhi kepulan asap rokok. Suara langkah kaki Dee yang menggema membuat Kane menoleh ke belakang.


"Sudah?" tanya lembut tidak seperti sebelumnya. Dee mengangguk.


Kane lantas mematikan rokok di atas asbak dan membiarkan Dee berjalan terlebih dahulu. Sesampainya di pintu, Dee menghentikan langkahnya.


"Aku akan pesan taksi saja," kata Dee dengan nada takut. Dia tahu jika Kane sudah tidak bersuara berarti ada yang salah.


Benar saja Kane hanya menatapnya tajam lantas berjalan terlebih dahulu, membuka pintu mobil.


Dee ragu tapi kakinya melangkah ke depan dan masuk ke dalam mobil. Kane memasang sabuk pengaman dengan erat di tubuh Dee.


Setelah itu Kane memutari mobil dan duduk di ruang kemudian. Udara terasa dingin. Dee mengusap lengannya. Kane yang melihat lalu melepaskan jaket yang menempel di tubuhnya dan memasangkan di bagian depan tubuh Dee tanpa menatap.


Sangat berbeda dengan tadi, ketika Kane memeluknya dengan erat seperti takut kehilangan. Ada apa? Dee tidak berani bertanya.


"Jangan katakan apapun atau kejadian lima tahun lalu akan terulang lagi dan aku pastikan jika itu sampai terjadi kita akan mati bersama," peringatan Kane sebelum memutar kunci kontak. Pria itu menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Tubuh Dee merinding seketika. Kali ini wajah Kane yang tertutup bayangan abu-abu nampak menyeramkan. Dee hanya bisa mengatup bibir rapat dan menggenggam tangannya erat.


Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Dee akan membuka semuanya atau Kane yang berusaha mencari tahu sendiri?


__ADS_2