Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 80 Hanya Sekedar Mimpi


__ADS_3

Jason segera turun dari tubuh tinggi Ayahnya. Dia tidak ingin menambah masalah dengan membuka semua rahasia yang ada karena mulutnya yang tidak bisa dikontrol.


Jason segera berlari mengambil Candy. Kucing itu memberontak tapi Jason memegang lehernya dengan kencang.


"Jika kau menolak, aku akan memandikan mu dengan air es dan tidak akan memberi makan selama seminggu," bisik Jason ditelinga Candy membuat kucing itu hanya mengeong marah.


'Anak sialan, kau mau mengancamku,' ucap kucing itu dengan bahasanya meraung kesal.


Jason tersenyum pada Kane dan Pak Jhon lalu berlari ke atas. Dadanya berdegup kencang ketika masuk ke kamarnya, lalu menutup rapat pintu. Di saat itu Candy menggigit tangannya. Jason melepaskannya.


"Aku tahu kau itu marah, tapi seharusnya kita itu bersahabat demi kebaikan Tuanmu, jika tidak ingin Tuanmu itu mendapatkan masalah.


Candy berjalan pergi ke jendela, tidak ingin mendengar omelan Jason. Dia hanya ingin Tuannya. Candy lalu berbaring di sudut jendela, menangisi nasibnya yang harus hidup dengan Jason yang kejam bukannya Tuan yang memanjakan dan menyayanginya.


Jason merasa bingung harus berbuat apa. Dia kemudian melihat deretan miniatur Avengers di lemari kaca mainan Jesper yang memenuhi tembok kamar.


"Wah...." Jesper melupakan rasa bosannya karena dia sudah menemukan mainan barunya.


Mendadak pintu kamarnya dibuka ketika Jason sedang asik bermain. Di sana sudah berdiri Kane dengan piyama nya yang berwarna hitam. Ayah Jesper memang terlihat tampan dan keren dengan pakaian apa saja. Jika dia memang anak Kane, dia yakin akan mewarisi ketampanan ayahnya.


"Kau belum tidur?" tanya Kane dengan dingin seperti biasa. Wajahnya nampak tidak senang melihat kamar Jesper yang berantakan. Biasanya Jasper sangat menjaga kerapian kamarnya sama seperti dirinya. Namun, kali ini Jesper mungkin sedang memancing amarahnya dengan berbuat seperti itu.


"Ayah, aku tidak bisa tidur kalau tidak...." Jason hampir saja mengatakan kalau tidak dipeluk ibunya.


"Kalau tidak minum susu terlebih dahulu."


"Sejak kapan kau mau minum susu sebelum tidur? Sebelum ini kau selalu menolaknya? Kau seperti bukan Jesper saja."

__ADS_1


"Memang kalau bukan Jesper aku ini siapa Papa?" celetuk Kane asal.


Kane menghela nafas. Benar juga apa yang Jesper katakan. Jika bukan dia maka siapa anak ini? Kecuali jika kembaran anak ini masih hidup mungkin dia akan mengira ini kembaran Jesper.


"Baiklah kalau begitu Papah akan membuatkan susu untukmu," ujar Kane. Setelah lima tahun baru kali ini dia perduli dengan anaknya. Padahal selama ini dia menjaga jarak.


Jesper mendekat ke arah Kane dan memeluk satu kakinya lalu mengusap wajah di kaki Kane. Seperti seekor kucing yang merajuk pada Tuannya.


"Papa baik sekali, Papa adalah Ayah paling keren di dunia."


Kane tertegun, sejak kapan anak ini jadi pandai merayu. Namun, Kane senang dengan perubahan sikap Jesper ini. Dia lalu mengangkat tubuh Jesper dan menggendongnya. Sambil memukul gemas pantat anak.


"Anak nakal," ujar Kane, Jason tertawa keras.


Pak Jhon yang melihat dari kejauhan menghela nafas lega. Dia bisa melihat hubungan anak dan ayah itu sudah membaik.


"Papa kali ini biarkan aku tidur denganmu. Sekali saja aku ingin tidur dalam pelukan hangat Papa."


Kane sebenarnya tersentuh dengan permintaan Jesper tapi dia tidak ingin membuat harapan palsu untuknya. Dia tidak ingin Jesper terluka karena perhatiannya yang sesaat karena dia tidak bisa melakukan ini terus menerus.Jika seperti itu Jesper akan menjadi anak yang manja dan cengeng. Bukan anak kuat yang bisa hidup dalam posisi apapun.


"Jesper, kau sudah besar kau harus tidur sendiri. Selama ini kau tidak pernah mengeluh kenapa kini kau mengatakan lain?"


"Papah, apakah dekat dengan anak sendiri itu sebuah kesulitan untukmu? Apakah kau tidak menyayangiku seperti ayah yang lain pada anaknya. Aku tidak butuh Hercules dan kekuatannya, batman dengan tinjunya yang hebat dan juga semua pahlawan Avenger dengan semua kehebatannya. Bukan superhero, Pah." Jason memiringkan kepala ke samping, menatap Kane dalam.


"Aku tidak butuh super hero itu. Aku hanya butuh orang tua yang mencintaiku dan memberikan aku pelukan hangatnya setiap waktu," ungkap Jason penuh harap.


Perkataan Jason seperti tamparan keras ke wajah Kane. Ya selama ini dia memang bersikap dingin pada Jasper tapi itu karena dia tidak ingin melukai hati anak itu. Melihat Jesper hanya akan membuatnya kembali lagi teringat akan Dee dan yang mengkhianatinya.

__ADS_1


Kane bangkit hendak meninggalkan Jesper tapi tangan kecil anak itu meraih tangannya.


"Tidurlah Jesper ini sudah malam," kata Kane melepaskan tangan Jason dan melangkah ke depan dengan bahu tertunduk.


Sesampainya di atas Kane menoleh ke belakang menatap Jesper yang masih melihat ke arahnya. Dia kira anak itu akan marah dan menangis seperti biasanya. Namun, tidak Jesper hanya tersenyum sedih ke arahnya.


Senyum yang membuat Kane semakin sakit. Dia tidak tahu sampai kapan dia akan melukai hati anak itu. Dia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Jesper dengan perhatiannya.


Kane lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Malam ini sulit baginya untuk tidur. Dia teringat pada Dee yang ditemuinya siang tadi. Wanita itu bertambah cantik dan menarik. Tubuhnya tidak seperti dulu yang rata, kini lebih terisi di tempat yang tepat. Senyum Dee dan marahnya ada dimatanya walau dia sudah memejamkan mata.


"Sial!" Batin Kane. Dia membuka mata ketika melihat ada bayangan kecil di kegelapan yang mengendap ke arahnya. Lalu masuk ke dalam selimut dan merambat dari kaki hingga tubuhnya. Lalu meringkuk, memeluk Kane.


Tadinya Kane ingin marah, tapi ketika dia merasakan nafas anak itu lama kelamaan teratur membuat dia terdiam. Dia membuka selimutnya dan menemukan wajah kecil Jason di lengannya yang besar dan berotot.


Sebuah senyum tersemat di bibirnya. Dia sudah memarahi anak ini, tapi kali ini dia mengabaikan kemarahannya dan melakukan hal ini.


Kane memiringkan tubuhnya dan memeluk anaknya sambil melihat wajahnya dengan jelas.


Wajahnya mendominasi wajah Jesper hanya ada beberapa bagian yang mirip dengan Dee seperti mulutnya yang kecil dan bulu matanya yang lebat.


Sayup-sayup dia mendengar anaknya mengigau, "Mama, geli... Mama... jangan! Papa tolong aku."


"Apa yang kau impikan sampai kau terlihat bahagia dalam mimpimu. Andai saja mimpimu kenyataan. Sayangnya itu sekedar mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata," ujar Kane.


Pria itu menghela nafas, pergi merokok di balkon depan. Memikirkan Dee. Ingin rasanya dia memberi pelajaran pada wanita itu karena melupakannya dan Jesper.


Tidaklah Dee rindu pada anaknya sedikit saja? Sepertinya tidak karena Dee sekarang sudah sibuk dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Jika memikirkan itu Kane menjadi emosi. Ingin rasanya dia menghancurkan keluarga kecil Dee..

__ADS_1


Betul Dee dan Rizky harus merasakan kehancuran yang dirasakannya.


__ADS_2