
Linda mendapatkan kabar baik dari Kane. Dia langsung bersiap pergi ke rumah Kane. Di saat itu, Ben melihatnya.
"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Ben yang melihat istrinya juga bersiap untuk pergi.
Dia memasukkan beberapa barang dalam tasnya.
"Kane mengatakan jika Dee tidak enak badan dan setelah diperiksa dia sedang hamil lagi," ujar Linda bersemangat.
"Selamat, Sayang. Kau pasti bahagia."
"Ya, aku bahagia untuk Dee." Linda menghela nafas lega. Dia memasangkan dasi suaminya
"Aku juga turut bahagia untukmu," kata Ben.
"Aku gugup. Aku harus membawa apa ketika ke sana," kata Linda tertawa. Ben ikut tersenyum. Linda lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Dee punya dua anak lelaki berumur lima tahun, kau bisa memberikan mereka mainan atau baju."
"Hmm baju, sepertinya tidak dulu, aku tidak tahu ukuran mereka. Kalau mainan, ya mainan. Sedangkan untuk Dee, aku belum pernah membelikannya apapun," ujar Linda sedih. "Terus terang aku takut mendapatkan penolakan dari Dee."
"Awalnya pasti akan seperti itu, tapi aku yakin lambat laun dia pasti akan menerimamu. Apalagi ketika dia tahu masalah sebenarnya."
"Semoga saja."
Handphone Linda yang dia letakkan di atas meja kembali berbunyi. Linda langsung bangkit dan mengambilnya. Lalu membaca pesan yang ada di dalamnya. Raut wajahnya nampak bahagia.
"Kane memintaku untuk menjemput Jesper dan Jason. Itukah nama kedua cucuku. Akh, lihat Kane mengirimkan foto mereka berdua. Mereka terlihat tampan dan lucu sekali. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka."
Linda mendekati Ben dan memperlihatkan foto yang dia dapatkan dari Kane.
"Ya, mereka anak yang pintar dan tampan. Jesper ikut bersama dengan Kane, hanya saja dia tidak pernah dikenalkan kepada semua orang."
"Ya, Rosemary pernah bercerita tentang anak itu, namun tidak pernah memperlihatkannya."
"Aku akan libur bekerja hari ini dan menemanimu menemui mereka," ujar Ben.
"Sungguh? Bagaimana dengan pertemuan klien dari Jepang?"
"Kau lebih penting dari mereka."
Linda lalu memeluk suaminya. "Terimakasih, banyak."
Ben sebenarnya ingin ikut karena khawatir Linda akan kecewa bila bertemu dengan Dee. Sepertinya tidak mudah meruntuhkan hati Dee dalam waktu dekat. Namun, semoga saja ketika ibu dan anak itu berbicara semua bisa teratasi dengan baik.
Linda mengajak suaminya berbelanja terlebih dahulu sebelum menjemput kembar. Mobil mereka bahkan hampir penuh isinya oleh belanjaan Linda.
"Ini sudah lebih dari cukup."
__ADS_1
"Aku merasa belum cukup tapi tidak apalah kita bisa membelikan hadiah yang lain esok hari." Ben menganggukkan kepala.
Mereka akhirnya sampai di sekolah Kembar. Setengah jam lagi jam pelajaran kembar baru akan selesai. Mereka lantas duduk menunggu dengan sabar bersama dengan ibu-ibu lain yang hendak menjemput anak mereka.
"Akhirnya aku merasakan hal seperti ini juga," ujar Linda bersemangat. Ben menganggukkan kepala. Ben lantas mengajak Linda berkeliling melihat sekolah Kembar.
"Kane membawa masuk anaknya ke tempat terbaik."
"Ya, dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya," balas Ben sambil menepuk tangan Linda yang bergelayut di lengannya.
"Semua orang berharap bisa mendapatkan menantu sepertinya."
"Kau yang beruntung itu."
"Kau juga mertuanya, walau bukan Rosemary yang menikah dengan Kane."
"Ya, kau benar. Hubungan kerja sama kami jadi tidak pecah karena hubungan yang tiba-tiba ini. Terasa aneh, tapi aku menyukainya. Tidak begitu buruk."
Linda tersenyum. Akhirnya konflik dan permasalahan di keluarganya selesai walau tidak seperti yang diharapkan. PR mereka tinggal kebahagiaan Rosemary dan David.
"Bagaimana dengan David. Aku dengar dari Rosemary jika dia dikeluarkan dari keluarganya karena beberapa kesalahan yang dia lakukan."
"Mungkin setelah ini, anak itu akan berubah. Aku tidak menyangka akan mendapatkan David sebagai menantuku. Namun, jika Rosemary dan David bisa saling menerima kita hanya bisa mendukung mereka."
"Aku tidak punya anak lain selain Rosemary, jadi aku akan menyerahkan kepemimpinan perusahan padanya.Terserah dia mau membawa David bersamanya atau bagaimana. Aku membantu keduanya keluar dari masalah ekonomi mereka. Jika aku tidak bijak seperti Park Yang malah akan menyusahkan keduanya."
Mereka lantas melihat seorang guru membunyikan bel sekolah. Seketika beberapa anak berebut keluar dari kelas. Kembar terlihat paling mencolok dari anak-anak itu. Apalagi yang terlihat lebih gempal. Dia terlihat lucu dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang kecil. Berjalan seperti dua orang pangeran, beriringan dengan kembarannya yang nampak kalem namun penuh kharisma.
"Itu mereka," tunjuk Ben. Linda sudah melihat keduanya, hanya saja dia terpana.
"Jesper," panggil Ben. Dia mengenal satu putra Kane itu.
Jesper menghentikan langkahnya menengok ke belakang.
"Ada apa?" tanya Jason menurunkan kaca mata hitamnya.
"Itu, Ayah Rosemary, memanggilku," kata Jesper yang memang membenci Rosemary dari dulu.
"Bukankah dia pria yang tempo hari ke rumah."
"Hmm."
"Tapi dia berjalan bersama dengan wanita." Jason nampak berpikir. Wajah wanita itu seperti dia kenal.
Ben dan Linda mendekati keduanya. Linda menekuk kakinya ke belakang ajar sejajar dengan keduanya.
"Hai, kenalkan. Aku Linda, kalian bisa memanggilku Nenek Linda."
__ADS_1
"Nenek," ucap kembar bersamaan sambil saling memandang.
"Ya, aku ibunya ibu kalian," jelas Linda.
"Mamanya Mama," ulang keduanya lagi. Lalu teringat dengan perkataan Papa mereka.
"Ya, Nenek, Papa mengatakan jika Nenek akan menemui kami. Apakah kamu nenek itu?" tanya Jesper.
"Ya."
"Pantas wajahnya mirip dengan Mama," bisik Jason di telinga Jesper tapi masih terdengar oleh semuanya.
"Apakah kau membawa mainan untuk kami?" tanya Jason. Kepalanya lalu dipukul dari belakang oleh Jesper.
"Sakit!" Jason mengusap kepalanya.
"Yang sopan!" beritahu Jesper.
Linda tertawa.
"Papa kalian tidak bisa menjemput kalian karena sedang membawa Mama ke rumah sakit."
"Ke rumah sakit? Apakah sakit Mama parah? Mungkin adiknya sudah mau keluar?" ujar Jason panik.
Jesper menepuk dahinya sendiri. Sambil menggelengkan kepala. "Adik belum akan keluar karena perut Mama masih kecil."
"Oh, ya kau benar. Lalu mengapa Mama ke rumah sakit?"
"Untuk memeriksakan keadaan adik dalam perut Mamamu," terang Linda.
"Oh...." ucap keduanya bersamaan.
"Kakek kan Ayahnya Tante Rose kenapa bisa bersama Nenek?" tanya Jesper.
"Kakek adalah suami Nenek kalian," jelas Ben.
"Jadi Kakek kami?" tanya keduanya. Ben menganggukkan kepala. Jesper sendiri nampak berpikir. Kenyataan bahwa Rosemary akan menjadi tantenya akan sangat tidak menyenangkan.
Ben bisa menangkap wajah tidak senang dari Jesper. Dia lantas menyentuh kepala Jesper.
"Apakah ada masalah?"
"Berarti Tante Rose itu saudara Mama?"
"Ya, tentu saja. Tante Rose itu Kakaknya Mama."
"Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Jesper tidak mengerti.
__ADS_1
"Sekarang kau belum faham, nanti setelah kau dewasa kau akan mengerti semuanya," terang Linda.