Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 73 Sakit Hati


__ADS_3

"Mama, tahu nggak di sekolah bagaimana? Tadi ada yang menyebalkan!" Setelah sampai di rumah, Jason terus bercerita pada Dee kalau dia bertemu dengan teman yang menyebalkan. 


"Ma? Mama dengerin Jason tidak?" tanya Jason saat ia tidak mendapat balasan apapun.


"Iya, mama dengar. Memangnya kenapa menyebalkan?" Dee tidak terlalu menanggapi  karena dia sibuk mempersiapkan diri untuk wawancara sebuah perusahaan. 


"Ya, dia seperti tidak suka pada Jason. Menurut Mama, Jason harus berteman dengannya atau tidak? Tadi Bu Guru bilang aku harus banyak belajar darinya," oceh Jason.


"Kalau begitu ikuti apa kata Bu Guru. Kau harusnya banyak belajar. Kalau Bu Guru bilang kau harus banyak belajar darinya ya belajar darinya saja. Siapa tahu dia memang pintar. Kau harus lebih banyak belajar dari sekarang. Bukan malah bermain." Dee masih tidak menatap anaknya. Ia sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


"Aku tidak suka dengan dia. Rambutnya merah seperti ekor kuda," kesal Jason.


"Sudah cukup. Kau tidak boleh terlalu mengeluh, Jason. Ada banyak hal yang terkadang memang menyebalkan. Tapi kita juga tidak boleh untuk bersyukur bahwa masih banyak orang yang sangat peduli dengan kita. Teman, guru, dan orang tua. Mereka pasti akan mengungkapkan rasa sayang dengan cara yang berbeda. Apapun itu, Jason harus menghormati teman. Kau mengerti? Kalau sudah mengerti segera ganti baju dan makan siang. Mama sudah menyiapkan makan siang." Dee mengangkat tubuh Jason agar bangkit berdiri. 


Pekerjaannya masih banyak. Bila terus-terusan mendengarkan ocehan Jason, bisa dipastikan pekerjaannya tidak akan selesai. Jason pun pergi dengan langkah gontai. Melihat kepergian Jason, Dee bernapas lega. Ia menggelengkan kepala pelan dan kembali dengan pekerjaannya.


"Kenapa kau harus pergi?" tanya Emilio.


"Ah, aku memang harus pergi. Aku pergi ke sebuah perusahaan yang mengajakku bekerja sama. Perusahaan itu kebetulan ingin membuat cafe. Siapa yang tahu aku dapat rejeki dari sana. Tidak ada salahnya bukan kita mencoba?" Dee tersenyum.

__ADS_1


"Dee, aku akan pergi ke luar kota. Mungkin untuk beberapa hari mengikuti bosku. Apakah kau akan baik-baik saja di rumah?" Emilio khawatir dengan Dee dan Jason.


"Oh, tidak masalah. Semua akan baik-baik saja. Lagipula Rizky sebentar lagi juga sudah tiba di Jakarta. Rizky sudah berada dalam perjalanan ke sini. Nantinya dia mengontrak di rumah yang bertetangga dengan kita. Dekat kok. Jika ada apa-apa, aku akan menghubungi Rizky. Kau jangan khawatir. Fokus saja pada pekerjaanmu. Terima kasih atas perhatiannya ya." Dee tersenyum tulus. Dia sangat paham bagaimana pria yang ada di depannya itu sangat overprotektif padanya dan Jason.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Setidaknya ada Rizky yang akan menjaga kalian berdua. Rasanya tidak tenang bila aku harus jauh dari kalian. Ya sudah. Aku bersiap untuk besok." Emilio pun berjalan meninggalkan tempat itu.


"Dia selalu khawatir padaku tapi lupa fokus pada dirinya sendiri." Dee menatap kepergian Emilio. Ia lalu membuang napas kasar dan kembali pada pekerjaannya.


Entah sudah berapa lama Dee sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu tersadar saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dee menoleh. Jason berjalan mendekatinya dan membuatnya sadar bahwa hari mulai gelap.


"Astaga! Aku sampai lupa waktu," keluh Dee. Wanita itu merenggangkan tubuh.


"Ma, apa Mama sudah menyiapkan makan malam? Aku lapar. Apa Mama lupa kalau anaknya yang tampan ini lapar di jam segini?" Jason memberengut kesal. 


"Kenapa diantar Om Emilio?" Jason protes saat pagi-pagi dia dibangunkan rupanya sang mama sudah dalam keadaan rapi. Dahi bocah itu berkerut mengamati setiap ekspresi yang lolos dari wajah sang mama.


"Sayang, mama ada pekerjaan. Ikutlah dengan Om Emilio. Hanya hari ini saja oke?" Dee mencoba merayu Jason.


"Oke." Jason sepertinya lebih peka pada sang mama. Terbukti ia bisa menempatkan diri di waktu yang serius. Padahal biasanya ia sangat menyebalkan dan selalu membuat ulah yang berakhir dengan Dee harus sakit kepala.

__ADS_1


Dee melambaikan tangan saat Jason pergi bersama dengan Emilio. Setelah melihat kepergian Jason dan Emilio, Dee pun bergegas mencari ojek online untuk sampai di lokasi tujuan.


"Untung saja Jason tidak banyak menuntut pagi ini. Kalau tidak, mungkin aku akan terlambat." Dee menggumam pelan. Wanita itu tersenyum saat sudah sampai di lokasi tujuan.


"Terima kasih, Neng." Ojek online pun pergi setelah mendapatkan imbalan dari Dee.


Setelahnya Dee mencari orang yang sudah membuat janji dengannya. Dee pun mulai sibuk untuk saling bertukar pikiran dengan orang yang tadi menunggunya sampai di sini. Beruntungnya meski Dee sempat terlambat sebentar, Dee berhasil mendapatkan kepercayaan. Kerjasama pun akhirnya dilakukan. Tentu saja dengan penuh semangat Dee menandatangani semua kontrak kerjasama itu.


"Cafe itu akan dibuka di lantai dasar gedung ini. Anda bisa melihatnya. Itu dia."


Dee melihat ruangan yang sedang dipugar untuk dijadikan cafe. Dee menganggukkan kepala tanda mengerti. Wanita itu tersenyum tipis saat melihat tempat yang akan menjadi cafe itu sangat cocok. Namun senyuman di bibir Dee menghilang. Digantikan raut wajah yang tidak bersahabat. Dee memicingkan.mata untuk memperjelas penglihatannya.


"Bukankah itu Kane? Rosemary? Wah? Apa ini? Jadi mereka balikan? Bisa-bisanya dia tidak mempercayaiku. Ia malah mempercayai orang lain dengan bukti yang minim. Aku bahkan tidak tahu apapun tentang proyek besar waktu itu. Mungkin saat ini aku sedikit mengerti perihal proposal dan kerjasama. Tapi dulu? Apakah Kane benar-benar tidak tahu apapun tentangku sehingga dia bisa menarik kesimpulan sendiri dan mencoba untuk menutup mata untukku." Dee membatin seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Nona Dee?" Pria yang bernama Marvel itu memanggil nama Dee.


"Oh, maaf, Tuan Marvel." Dee tersenyum kikuk.


Marvel mengikuti arah mata Dee yang sebelumnya memandang. Senyuman pun terbit di bibir pria itu. "Oh itu. Itu Tuan Kane dan Nona Rosemary. Mereka berdua pasangan kekasih. Tapi sayangnya mereka berdua belum menikah. Mungkin saja anaknya tidak merestui. Sayang sekali. Padahal hubungan mereka terlihat awet-awet saja."

__ADS_1


Dee menatap kesal pada Kane. Matanya menyorot tajam setajam elang. Dee terus mengamati gerak-gerik Rosemary maupun Kane. Juga bagaimana interaksi keduanya.


"Kau benar-benar membuatku harus memujimu. Kau tidak mempercayaiku padahal aku sangat tulus padamu. Bahkan aku sudah memberimu dua putra. Kau sangat tega. Sampai akhir pun hanya melihatku seperti boneka yang bisa kau permainkan sesuka hati. Aku membencimu, Kane!" Dee membatin sendu seraya menatap nanar pada dua sejoli yang sekiranya sedang dilanda asmara menggebu. Dee tersenyum miris. Ia seolah sedang menertawakan nasibnya yang buruk.


__ADS_2