
Tatap mata Lukman terlihat berbinar melihat lelaki itu datang, hadirnya di tempat ini, diyakini oleh ayah Aura itu akan membawa sebuah keajaiban.
Lukman segera berdiri, bersamaan dengan Damaresh yang melangkah pelan menghampiri, diikuti oleh Quinsha dan Sherin, serta Kaivan di urutan paling belakang.
“Apa yang terjadi pada Aura?” Gumam lelaki itu bertanya, sembari sepasang netranya enggan beralih dari wajah Aura.
“Aku tidak tau, Nak.” Lukman menggeleng pelan. Ia memang dihubungi oleh Sherin untuk datang ke rumah sakit tadi malam, tapi ihwal apa yang menyebabkan putrinya menjadi sedemikian belum sempat ia tanyakan, karna lebih mencemaskan keadaan Aura yang lemah dan berada dalam kondisi antara sadar dan tidak sekarang.
“Saya jelaskan,” ucap Sherin, ia maju dua langkah dan segera menceritakan ihwal kejadian Sherin dan Quinsha menemukan Aura pingsan di kamar mandi.
Awalnya Sherin Dan Quinsha membawa Aura ke klinik terdekat, tapi melihat kondisi Aura, pihak klinik menyarankan agar seger di rujuk ke rumah sakit. Maka keduanya sepakat untuk membawa Aura ke rumah sakit Saiful Anwar, rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.
“Di sini, setelah melalui beberapa pemeriksaan, ternyata kami baru tau, kalau Aura itu bukan jatuh, darah yang terdapat di kakinya itu karna ia mengalami keguguran.” Sherin mengakhiri ceritanya dengan sepasang mata basah.
“Keguguran?!” Damaresh berada dalam posisi sangat terkejut sekarang, berita yang di dengarnya kini bak sambaran petir di siang bolong yang tak diawali kelebat mendung. Tak hanya Damaresh, Lukman pun menunjukkan keterkejutan yang sama.
“Arra, hamil?” ia ajukan pertanyaan yang entah diarahkan pada siapa. Hal itu membuat Sherin dan Quinsha saling bertukar pandang heran.
“Ayah juga tidak tau, Nak.” Lukman yang mengambil peran menjawab pertanyaan Damaresh. Sepasang mata tuanya langsung mengembun melihat raut wajah pucat sang putri. Ia hanya bisa menyayangkan kenapa Aura tak memberitahukan kepadanya tentang kondisinya saat ini.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, Aura sendiri pun juga tidak tahu kalau sedang hamil saat ini. Andai saja dia tahu, niscaya keputusan meninggalkan Damaresh tak akan pernah ia ambil, sepahit apa pun kondisinya, Aura pasti akan bertahan. Demi satu nyawa yang dititipkan Tuhan, Dalam pernikahannya dengan Damaresh William.
“Jadi, Pak Damaresh juga tidak tau, kalau Aura hamil?” tanya Quinsha, terbersit rasa bersalah juga dalam diri gadis itu, terkait sikap kerasnya tadi pada Damaresh di tempat parkir.
Lelaki itu menggeleng pelan, lalu segera meraup wajahnya dengan kedua tangan, dan helaan napas beratnya segera terdengar sesaat kemudian.
“Menurut dokter, usia kehamilannya baru berjalan 4 minggu, jadi tidak perlu dilakukan tindakan kuretasi, tapi dokter juga sudah melakukan tindakan terbaik untuk Aura,” tutur Sherin memberikan penjelasan.
“Masalah Aura yang berada antara kondisi sadar dan tidak sekarang, kata dokter itu karna jiwanya sedang terguncang.” Quinsha menimpali.
Damaresh benar-benar merasa frustasi sekarang, berita yang diterimanya ini benar-benar mengejutkan. Aura hamil, dan dirinya tidak tahu. Aura mengalami keguguran, dirinya juga tidak tahu, dan yang menjadi penyebab kegugurannya adalah karena berita itu. Berita pertunangannya dengan Naila Anggara yang sebenarnya tak pernah terjadi itu.
Lihatlah apa yang terjadi pada Aura akibat keserakahan William. Bahkan satu nyawa kini ikut melayang. Nyawa yang hadirnya juga tak disadari oleh Damaresh, kini telah tiada sebelum ia sempat bersuka cita dengan kedatangannya.
Reaksinya yang diluar dugaan ini sangat mengagetkan. Sherin dan Quinsha hanya saling pandang dan tertunduk diam. Lukman pun segera tertduduk lemas dengan lelehan cairan bening yang menggelinding.
Kaivan segera menghampiri Damaresh dan menepuk pundaknya lembut untuk menenangkan.
“Aresh, tenang!”
__ADS_1
DAmaresh bergeming. Napasnya terdengar memburu. Terlihat betapa ia dalam kondisi amarah yang hampir tak bisa diredam.
“Aresh, tenang ya,” bujuk Kaivan sekali lagi. Ia paham bagaimana Damaresh William. Marahnya adalah dengan diam, tapi tindakan berikutnya yang akan dilakukan, akan sangat berada di luar dugaan.
“Dia hamil, Kai. Dan aku tidak tau apa-apa. Dan dia mengalami keguguran karna berita laknat itu, bagaimana aku bisa tenang,” geram Damaresh dengan tatapan tajam.
“Aku ngerti perasaanmu, Resh. Tapi untuk saat ini, fokus pada Aura dulu, dia belum sadar, Resh.
Setelah dia sadar, dan setelah kalian bicara, tindakan apa yang akan kau lakukan setelah ini aku dukung sepenuhnya, Aresh.”
Ucapan Kaivan itu membuat Damaresh memalingkan pandangan pada Aura yang terbaring dengan wajah pucat dengan sepasang mata tertutup rapat.
Lelaki itu segera menghampirinya, meraih tangan Aura yang tak diinfus, lalu duduk di dekatnya, dan mencium tangan putih yang terkulai itu berkali-kali.
“Maafkan aku, Arra,” ucapnya terdengar lirih.
(Author: part ini dan part sebelumnya juga terdapat dalam kisah, Cintaku Terhalang Tahtamu, untuk lebih tahu lebih lanjut bagaimana kelanjutan Aresh dan Arra, jalan-jalan dulu ke sana ya)
“Semoga masalah yang tengah dihadapi Aura dan suaminya, segera mendapatkan jalan keluar yang terbaik.”
__ADS_1
“Amiin,” sahut Quinsha mengamini doa yang diucapkan oleh Sherin.
“Ya, Amiin.” Dan ternyata tak hanya Sherin, Kaivan juga mengaminkan doa Sherin. Kedua wanita berhijab itu sama-sama menoleh ke arah Kaivan. Dan Pemuda tampan itu menyambut tatapan keduanya dengan senyuman lembut. “Maaf, kalian ini sahabatnya Aura ya?” tanya Kaivan berbasa-basi. Karena di awal bertemu tadi, baik Sherin maupun Quinsha sudah sama-sama menjelaskan kalau mereka itu adalah sahabatnya Aura.