
"Bisakah, maskernya dilepas, Mas." Itu permintaan Arfan pada Rafardhan. Ah tidak. bukan permintaan, tapi lebih tepat disebut perintah. perintah dari Arfan, agar Rafardhan melepas maskernya. mungkin sang pengantin itu penasaran, dengan siapa Quinsha datang. Atau sebenarnya Arfan sudah tahu, jadi dia menyuruh Rafardhan melepas masker, untuk lebih memastikan.
Arfan mengangguk pasti. Ia bahkan memberi isyarat pada fotografernya untuk tidak mengambil gambar lebih dulu, sebelum pemuda di sampingnya itu membuka masker. Sementara Quinsha menggeleng ke arah Rafardhan, memberi isyarat agar pemuda itu tak perlu menuruti kemauan Arfan.
"Demi sepasang raja dan ratu sehari yang sedang berbahagia ini," ucap Rafardhan Malik, dan secara perlahan ia turunkan masker dari wajahnya dan melepasnya. Quinsha terlihat menahan napas, apalagi Arfan setelah melihat wajah tampan rupawan di balik masker yang terbuka. Ia bahkan sempat saling pandang dengan Zahwa.
Tapi waktu tak memberi mereka kesempatan terlalu lama dalam keterpanaannya. Karena dari beberapa tamu undangan yang memerhatikan ke pelaminan, mulai histeris meneriakkan nama Rafardhan.
"Rafardhan!!"
"Rafardhan Malik!"
Dan tak hanya itu tindakan mereka, setelah melihat adanya artis kenamaan dari ibu kota di acara. Sekitar dua atau tiga orang merangsak mendekat sambil mengancungkan ponsel ingin berfoto dengan artis idola para gadis dan emak-emak. Tindakan keduanya, memicu keberanian yang lain untuk mengikuti. Walhasil jadilah, pelaminan diserbu oleh para tamu karena pesona seorang Rafardhan Malik.
Setelahnya, sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi? Pastilah Rafardhan tak bisa berkutik, oleh serbuan para fans yang tak mengindahkan kode etik, kalau sekarang sedang dalam acara resepsi.
Sepasang pengantin pun tak luput dari serbuan. Pastikan mereka harus menepi. Karena kini bukan lagi Arfan dan Zahwa yang menjadi raja dan ratu sehari. Melainkan Rafardhan Malik yang menjadi penguasa seorang diri.
Rusuh. Acara resepsi itu menjadi ricuh.
"Maaf ya, Quin," ucap Rafardhan sambil menatap Quinsha yang masih berdiam diri saja.
"Saya sungguh merasa tidak nyaman," rsah gadis itu sambil mengalur napasnya pelan.
"Apa ini salah saya?"
Quinsha menggeleng. "Kamu hanya menuruti keinginan Arfan. Walau sebenarnya, kamu tak harus menurutinya juga."
Rafardhan mengangguk. "Saya sebenarnya juga tak ingin, keberadaan saya di sana diketahui orang lain, apalagi media. Tapi Arfan terlihat penasaran siapa saya. Saya hanya kawatir dia akan berpikir macam-macam tentang kamu, bila saya tak menurutinya."
"Jadi, apa yang kamu lakukan karena saya?" Quinsha menatap Rafardhan lekat.
"Saya gak bilang begitu, lho. kamu yang sudah menyimpulkannya sendiri." Rafardhan menyelingi ucapannya dengan tawa. Membuat Quinsha jadi membuang pandangan.
"Makan, Quin! setelah ini, saya akan antar kamu pulang." Rafardhan menunjuk aneka hidangan yang tersaji dengan sangat istimewa di atas meja depan mereka.
__ADS_1
Rafardhan dan Quinsha sekarang tengah berada di sebuah restoran mewah bintang lima yang sangat menjaga keamanan dan privasi para pengunjungnya. Sehingga di sana, Rafardhan bisa dengan nyaman melepas maskernya, dan tak kawatir bila keberadaannya akan memantik keribukan seperti di pesta resepsi Arfan.
Pasti semua bertanya-tanya, bagaimana cara Rafardhan dan Quinsha keluar dari serbuan para fans di acara Arfan barusan.
Rafardhan sebenarnya sudah bisa memrediksi, kalau hal tersebut bisa terjadi. Karenanya ia sudah mengantisipasi. Saat memutuskan untuk menemani Quinsha ke acara resepsi, ia sudah mengirim orang untuk melihat lokasi acara dan mencari celah, jika hal yang tak diinginkan terjadi. Rafardhan juga meletakkan tiga orang bodyguard yang menyamar sebagai salah satu panitia acara di sana.
Maka, saat kericuhan terjadi, tiga orang berbaju batik yang merupakan pengawal Rafardhan itu segera menjalankan aksi sesuai tugasnya masing-masing. Ketika beberapa penggemar histeris dan mendekat, Rafardhan menyambar tangan Quinsha dan menariknya turun dari pelaminan mengikuti seorang lelaki yang bertugas memberi jalan keluar. Sedang dua orang yang lain, bertugas menghalau beberapa orang yang ingin mengejar Rafardhan.
Jadinya Rafardhan dan Quinsha terelamatkan dari kericuhan. Entah bagaimana dengan Arfan dan Zahwa.
Lepas dari acara resepsi itu, Rafardhan membawa Quinsha ke sebuah restoran bintang lima. Maka di sinilah mereka sekarang, sedang menikmati sajian makanan mewah dan berkelas khas orang-orang yang berkantong tebal.
Beberapa saat kemudian, Rafardhan sudah memacu kuda besinya menuju rumah Quinsha dengan kecepatan cukup tinggi karena sedang berpacu dengan waktu. Karena pemuda itu berencana kembali ke Jakarta, malam ini juga. Dan esok hari, seabreg pekerjaan sudah menanti.
"Terima kasih ya, untuk semuanya," ucap Quinsha saat mobil telah berhenti di seberang jalan, dekat gerbang rumah Quinsha.
"Meski saya sudah bikin rusuh?"
"Iya. Saya sebenarnya tidak mau kesana sama kamu, karena takut akan ada hal seperti ini." Quinsha berdecak sambil menghela napas. "Kamu itu terlalu banyak penggemarnya, gak hanya yang muda, yang ibu-ibu juga, pada ngefans semua sama kamu. Itu, salah satunya kenapa saya risih jalan sama kamu," urai Quinsha.
"Gak," tegas Quinsha cepat. Rafardhan segera tertawa menyambut jawaban refleks gadis itu. Selanjutnya ia mengangguk saat Quinsha berpamit keluar dari mobil.
Firda dan Azman, sedang duduk di teras dengan aneka obrolan seraya menanti kedatangan Quinsha. Pasalnya, sudah lewat jam delapan, putrinya yang berpamit mau kondangan bersama teman itu belum juga datang.
Tatkala terlihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari gerbang halaman, Firda segera berdiri dan melangkah menghampiri untuk melihat siapa yang datang. Tak lama kemudian, Azman segera menyusul iparnya tersebut.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah jeritan histeris seorang perempuan dari depan gerbang, diselingi suara mobil yang melaju kencang. Firda segera berlari untuk memastikan, karena sepintas lalu, suara jeritan itu mirip dengan suara Quinsha. Dan Azman pun menyusul pula.
Dan apa yang terlihat kini di depan mata, membuat Firda dan Azman hampir jantungan. Quinsha berdiri di tengah jalan depan gerbang dalam dekapan seorang pemuda tampan. Putri tunggal Firda itu meredamkan kepalanya dalam-dalam di pelukan seorang yang sama sekali tidak mereka kenal.
Firda langsung terpaku, segenap otot-ototnya terasa membeku melihat sang putri berpelukan dengan lelaki yang bukan mahram di depan mata. Beda dengan Azman, lelaki baya itu segera keluar gerbang dengan langkah lebar, dan setelah dekat, suara bentakan ia keluarkan. "Quinsha!"
Quinsha yang terdiam dalam dekapan Rafardhan segera beringsut melepaskan diri dan menatap pamannya dengan keterkejutan yang nyata. "Pa-paman," ucapnya gugup.
"Apa ini, Nduk? cara apa yang sedang kamu lakukan?" Azman menatap Quinsha dengan pandangan tajam. Dan ekspresi wajah yang ditampilkan bahkan lebih menyeramkan dari seekor singa yang kelaparan.
__ADS_1
"Pa-paman i-itu ..." Quinsha semakin gugup dibuatnya.
"Kamu siapa?" Azman mengalihkan pertanyaan pada Rafardhan.
"Saya Rafardhan Malik, Pak."
"Kamu apanya Quinsha?" Tanya Azman dengan nada yang sangat jauh dari keramahan.
"Eh dia, dia teman saya, Paman," sahut Quinsha. Karena Rafardhan juga tak segera menjawab ketika ditanya demikian.
"Bagus. Seorang laki-laki dan perempuan, berteman dan berpeluk-pelukan, begitu?" cibir Azman dengan raut wajah merah padam.
"Paman, itu tadi ada ..." Quinsha hendak menjelaskan apa yang terjadi, tapi Azman segera memotong ucapannya.
"Quinsha kamu masuk! malam ini juga, aku akan mendatangkan calon suami kamu. Dan kalian harus segera menikah!" titah Azman dengan ekspresi yang tidak bisa dibantah.
"Paman." Suara Quinsha langsung bergetar, ada air mengambang di kelopak matanya, saat satu titik bening jatuh, gadis itu segera berlari masuk ke dalam gerbang. Firda cepat mengejar sang putri ke dalam.
"Quin!" Rafardhan juga hendak mengejar, tapi cepat dihalangi oleh Azman.
"Kamu pulang saja! ini urusan keluarga kami!" usir Azman pada Rafardhan.
"Baik." Rafardhan mengangguk. "Saya juga tak hendak turut campur urusan keluarga, Bapak. Tapi setidaknya kasih saya waktu untuk menjelaskan kenapa saya dan Quinsha seperti itu barusan. Setelah saya menjelaskan, silakan, Bapak mau ambil keputusan apa tentang Quinsha, saya tidak berhak turut campur," tegas pemuda tampan itu pada Azman.
******
Hai..semua. aku hadir lagi. Berharap masih dinanti oleh kalian. kemarin gak up, maaf ya... yang up kemarin itu sebenarnya, yang up dua hari lalu. Tapi sistem lagi ngajak bercanda, masak reviewnya sampai keesokan harinya baru lulus. Padahal di bab kemarin gak ada konten-konten yang menjadi coretan merah sistem..
jadinya, kemarin aku gak up, sengaja, sebagai bentuk protes dalam diam pada sistem MT.
Eh tapi, Protes dalam diam ini bakal mempan apa tidak ya? karena cinta dalam diam Quinsha pada Arfan malah berakhir dengan ditinggal nikah. Bagaimana jika protes dalam diam pada MT, akan berakhir bagaimana ya..
Dah lah terserah..yang penting aku jumpa lagi dengan kalian semua...
jangan lupa jempolnya ya..
__ADS_1